00:24 : Gramedia.

28 5 0
                                        

"Ada yang mau pulang bareng gue gak?" Sembari membereskan meja, Berlian menatap kedua temannya setelah melontarkan tawaran. Pelajaran terakhir baru usai beberapa menit lalu, riuh suara di luar kelas bersahutan menyambut waktu pulang, begitu pun di dalam kelasnya hingga membuat suaranya agak teredam.

"Gue pulang bareng Carka," sahut Velua.

"Aku juga bareng Luvluv," imbuh Coslyn.

Jawaban keduanya membuat Berlian mengangguk. Setelah memberi basa-basi singkat, mereka berpisah di depan kelas karena baik Velua maupun Coslyn masih harus menunggu kekasih mereka yang berada di kelas lain.

Para siswa berbondong-bondong menuju parkiran sebab tak sabar ingin segera pulang atau menuju ke tempat lain seperti Berlian yang merasa tak memiliki agenda lain memilih untuk membelokkan stang motor mampir ke toko buku yang sudah sering Ia kunjungi.

Suasana di dalam toko buku sore itu memang tak seramai seperti saat masa libur akhir pekan. Namun, justru itulah yang dicari Berlian, ketenangan yang diisi oleh dirinya serta jejeran ratusan buku dalam rak bagai surga dunianya.

Karena tak ada buku tertentu yang Ia tuju untuk dibeli, Berlian melihat-lihat buku di setiap rak untuk mencari yang menarik perhatiannya. Membaca sedikit gambaran isi buku di bagian belakang sampul yang membuatnya memberi reaksi berbeda di setiap buku.

Sudah bukan hal yang aneh jika Berlian lebih banyak berekspresi ketika bersama dunianya daripada ketika Ia bersama orang lain. Hingga ketika dia sampai pada deretan buku fantasi yang hampir tak pernah Ia lirik ketika datang membeli buku karena memang belum menarik minatnya yang selalu membaca buku dengan genre fiksi remaja.

"Wah, gue gak nyangka bisa ketemu lo di sini."

Berlian terperanjat dan hampir menjatuhkan buku di tangannya ketika suara yang tak asing menyapa gendang telinganya. Menoleh pada sang empu yang tersenyum lebar tanpa rasa bersalah.

"Hai," sapa Arexon menunjukkan cengiran khas kebahagiaannya ketika berjumpa Berlian.

Berlian tak membalas, hanya menatap pria itu beberapa saat karena merasa heran bertemu Arexon di tempat yang tak Ia duga. Sedangkan itu, telinga Arexon sedikit memerah karena salah tingkah diperhatikan cukup intens oleh orang yang Ia sukai.

"Ada yang aneh, ya sama muka gue?" Arexon buru-buru mencari apa pun yang bisa Ia gunakan berkaca karena Berlian menatapnya tanpa berkedip, takut jika memang ada sesuatu di wajahnya dan membuat gadis itu ilfiil nantinya.

Berlian terkesiap dan berkedip beberapa kali. "Oh, ngga. Ganteng kok, cuma heran aja lo juga di sini," jawabnya tak acuh dan melengos kembali membaca blurb buku yang dipegangnya tanpa tahu jika apa yang Ia katakan sebelumnya membuat Arexon mematung dengan hampir seluruh wajah yang memerah malu.

Berlian melanjutkan langkah setelah mengambil satu buku yang membuatnya tertarik. Melihat kepergian gadis itu, Arexon tak mampu lagi menahan senyumnya dan hampir berteriak jika tak mengingat Ia ada di mana sekarang. Dia hanya mampu memukul-mukul rak dengan pelan untuk melampiaskan rasa senangnya.

"Gue emang ganteng, sih wajar."

Tak ingin tertinggal jejak Berlian, Arexon lekas menyusul setelah berhasil mengendalikan diri yang hampir berguling-guling di sana karena kakinya mendadak terasa lemas.

"Lian, lo suka baca buku apa?"

"Apa aja," jawab Berlian sekenanya.

Masih tak menyerah untuk mendapat atensi gadis itu. Arexon kembali bertanya dan terus mencari topik. "Kalau gitu boleh rekomendasiin buku buat gue gak?"

Benar saja, sesaat pertanyaan itu diajukan Berlian sontak menoleh menatap Arexon. "Emang lo suka yang gimana?"

"Lo."

"Huh?"

Arexon melipat bibirnya ke dalam setelah tanpa sadar keceplosan. "Maksudnya apa aja yang lo rekomendasiin boleh, nanti gue baca sambil cari selera buku gue yang mana."

"Oh, ada sih beberapa. Gue biasanya baca yang temanya anak sekolah. Genre teenfiction, ada juga yang horor. Lo mau yang mana dulu?"

Arexon cukup tercengang tak menyangka Berlian dapat menanggapinya dengan kalimat sepanjang itu.

Kayaknya gue perlu traktir anak-anak, batinnya bersorak senang. Ya, rasanya dia memang perlu merayakan kesenangan ini terutama bersama Carka yang telah memberinya ide.

"Yang paling lo suka yang mana? Gue mau baca itu juga," jawabnya berusaha semaksimal mungkin menahan kedutan bibir yang ingin tersenyum.

Berlian mengangguk mengerti dan matanya mulai meliar untuk mencari salah satu buku favoritnya di jejeran rak itu dan Arexon senantiasa mengekori sembari mendengarkan celotehan gadis itu mengenai buku apa saja yang sudah pernah Ia baca.

"Nah ketemu!" Berlian bersorak senang ketika menemukan buku yang Ia cari hingga membuat Arexon ikut terkejut melihat betapa bahagianya gadis itu.

"Lo emang sesuka itu sama buku, ya?" Arexon bertanya dengan senyum tersungging di bibirnya.

"Eh?" Berlian tersadar dari reaksi spontannya yang terlalu berlebihan dan berdehem untuk mengurangi canggung. "Ya, suka. Nih, bukunya semoga cocok. Gue pergi dulu." Berlian langsung menyerahkan buku itu ke pelukan Arexon sebelum meninggalkan cowok itu sendiri.

Arexon melihat kepergian Berlian tanpa berniat mengejar. Dipandanginya buku di tangannya dengan seksama. Dia bukan orang yang hobi membaca seperti Berlian, ini bahkan pertama kalinya dia menginjakkan kaki ke toko buku. Jika saja dia tidak melihat Berlian di jalan dan mengikutinya ke sini, dia mungkin tidak terpikir akan ke sini.

Dia memang berbohong mengatakan kebetulan bertemu Berlian dia toko buku karena sebenarnya dia sudah melihat gadis itu sejak di lampu merah dan mengikutinya yang tadinya ingin mengetahui rumah gadis itu.

"Wah, kayaknya ini buku harus gue pajang di rumah," gumamnya membolak-balikkan buku di tangannya sembari berjalan menuju kasir.

Ting

Langkahnya menuju parkiran toko buku terhenti sejenak ketika satu notif terdengar.

Aerius

| Peter sadar

Satu pesan yang membuat Arexon bergerak secepat mungkin menarik gas motornya menuju rumah sakit.

.
.
.

Berlian memukul-mukul bantal di kamarnya. Sejak pulang dari toko buku, wajahnya tak berhenti memerah salah tingkah. Ia bahkan mengabaikan sang mama yang menatapnya heran.

"Gue tadi ngapain, sih gila?" Berlian mempertanyakan perilakunya sendiri yang selalu kelepasan jika sudah di hadapkan berbagai macam buku.

"Kalem, Lian kalem. Terserah gimana dia mikirnya itu bukan urusan lo, oke?" Berlian menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.

"TAPI GUA MALU."

"KAKAK KAMU KENAPAAA?" Teriakan kekhawatiran Jane menyusul ketika mendengar suara anak sulungnya.

Berlian mengatupkan bibir ketika mengingat kamarnya tidaklah kedap suara. "MAAF, MA KAKAK GAK KENAPA-NAPA."

●●●

Hai, besok senin wkwk.

See you, yap!!

Jangan lupa mampir ke IG dan Tiktok aku buat baca AU guys: @/avmyovi

Another Side : Berlian Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang