00:23 : Mak Comblang.

39 6 0
                                        

Sejak pembicaraan terakhir dengan mamanya, Berlian duduk termenung di depan cermin kamar sambil menopang dagu. Meski terlihat tak tertarik, tapi sebenarnya dirinya agak terusik dengan kalimat terakhir sang mama.

Membuka hati?

Jujur saja, meski sudah banyak cerita Ia baca, tapi perihal perasaan sendiri, dia pun tak mengerti. Terlalu lama sendiri membuatnya tak begitu mendamba perasaan cinta. Apalagi dia tak benar-benar siap jika harus membuka hati dan menerima perasaan baru yang begitu asing untuknya.

Namun, sekilas terpintas kembali kejadian minggu lalu saat di panti. Bagaimana dia tidak menolak ketika Arexon ikut dengannya dan bagaimana lelaki itu dengan cepat berbaur dengan anak-anak panti yang tampak menyukai kehadirannya. Lengkungan bibirnya membentuk kurva tipis sebelum akhirnya dia tersadar.

Helaan napas terdengar berat. "Ngapain juga gue mikirin ini." Bertolak belakang dengan ucapannya, tangannya justru meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempatnya dan mulai menari lincah di atas keyboard.

Yuk Bisa Yuk

Oit|
Rasanya pacaran gimana?|

Velua:
| HAHHH??

Coslyn:
| Hah?

Pada kenapa, sih? Hah heh hoh|
Dongo ya?|

Velua:
| Ya lo tiba-tiba nanya rasanya pacaran gimana ga kaget gue
| Napa? Udah naksir orang ya lo?

Apa deh, nanya doang|

Velua:
| Pret, cerita gak siapa cowok tidak beruntung itu?

Laki lu|

Coslyn:
|Hahhh??

Keong kah? Hah hah mulu|

Coslyn:
|Aku lagi main sama luvluv jadi ga nyimak
|Lian suka sama Carka?

AMIT-AMIT MENDING GUA JOMBLO SEUMUR HIDUP |

Velua:
|WKWKWKWK
|Pacaran ya rasanya kayak nasi campur. Pedes, asin, pait, manis, gurih ada semua

Coslyn:
| Betul

Mana ada nasi campur gitu|

Velua:
| Campur fakta kehidupan

Coslyn:
| Lian mau pacaran ya?

Velua:
| Dia liat cowok aja rasanya pengen bogem

Iya, Lyn gue mau pacaran|

Velua:
|HAHHHH???

———

Berlian terkikik setelah berhasil meninggalkan tanya hingga membuat temannya heboh dan tak henti memberondonginya dengan berbagai pesan. Dia menyalakan mode hening dan memilih membaca novel daripada harus meladeni temannya. Urusan klarifikasi biar saja nanti ketika di sekolah.

.
.
.

Kembali pada rutinitas pasca libur akhir pekan, Berlian tampak begitu malas meladeni kedua temannya yang sudah mengerubunginya sejak 10 menit lalu. Masih membahas soal ketikan ngawurnya kemarin saat di grup yang mereka anggap serius.

Another Side : Berlian Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang