00:13 : Nightmare.

200 21 4
                                        

Dalam keadaan terikat dan setengah sadar, gadis yang masih mengenakan seragam putih biru itu mampu mendengar samar langkah kaki seseorang yang mendekat hingga berhenti tepat di depannya.

"Wah, lihat. Kamu sudah bangun, gadis kecil?"

Kepala gadis itu didongakkan hingga dia mampu melihat wajah si pelaku walau sedikit kabur. Dia tak berdaya, tenaganya sudah terkuras untuk memberontak sejak awal dan kini mulutnya justru dilakban agar tidak berteriak memaki seperti awal kedatangannya ke sini.

"Bahkan di usiamu yang masih belia kamu sudah terlihat begitu cantik," oceh pria paruh baya yang seumuran aayahnya itu.

"Kamu benar-benar salinan dari ibumu. Hah, tak apa, jika tidak bisa memiliki ibunya setidaknya aku mendapatkan anaknya." Pria itu mengambil sejumput rambut si gadis dan menghirup wanginya. Sedangkan itu, gadis yang ia sekap sudah bergetar hebat dengan napas yang memburu maka tubuhnya semakin diraba.

Mamaa, papaa, tolong! jeritnya berharap ada keajaiban hingga orang tuanya mampu mendengar.
.
.
.

"Hah ... hah." Terbangun karena mimpi buruk bukanlah harapan setiap orang. Namun, mimpi yang datang memang tidak pernah direncanakan.

Masih dengan napas tersengal, tangan yang tremor itu meraih segelas air di nakas dan meminumnya dengan cepat. Pandangannya menyapu seisi kamar dengan pikiran yang amat kalut hingga terpaku pada satu objek di meja belajarnya. Terlintas sebersit pemikiran, bagaimana jika benda itu menggores kulitnya? Apakah rasanya akan sesakit saat teriris pisau ketika memasak? Atau semenyenangkan seperti yang diceritakan?

Tatapannya begitu kosong, meletakkan kembali gelas dan menghampiri benda yang sejak tadi seperti memanggil dirinya. Melihat sekilas penampilannya di cermin yang tampak begitu kacau. Rambut berantakan dengan keringat yang membanjiri wajahnya.

Tepat ketika benda kecil tipis itu menempel di kulitnya nyaris membuat goresan suara ketukan mengembalikan segenap kewarasannya.

"Sayang, ayo bangun. Kamu nggak sekolah?"

Sekali lagi, ditatapnya rupa di balik cermin dan menghela napas panjang. "Ya, Ma. Aku udah bangun."

Setelah terdengar langkah kaki menjauh, dia menatap telapak tangan yang masih terdapat benda tajam. "Jangan gila, Berlian," desisnya memperingati diri sendiri.
.
.
.

"Morning," sapa Berlian pada keluarganya yang sudah berkumpul untuk sarapan bersama.

"Kak."

"Hm?" Berlian yang sedang menengguk susu hanya membalas deheman singkat panggilan papanya.

"Berangkat bareng papa, ya? Papa kangen nganter putri papa yang udah jarang banget manja sama papa ini."

Berlian bukan orang bodoh yang tidak mengerti tatapan yang Genta tujukan untuknya. "Oke, tapi papa juga harus jemput kakak pulangnya."

Senyum Genta mengembang sempurna. "Sure, Princess."

"Aku, aku?" Krystal tiba-tiba menimbrung. Anak kecil itu memang selalu iri jika orang tuanya memanggil sang kakak dengan sebutan princess.

Kekehan kecil terdengar dari Genta yang tidak kuasa melihat kelucuan anak bungsunya itu. "Anak siapa, sih ini gemes banget? Iyaa, Krystal juga princess-nya papa. Udah ayo sarapannya dimakan."

Jane yang menyaksikan itu hanya mengulum senyum tipis.
.
.
.

"Sayang, are you okay?"

Berlian yang sedang membalas pesan dari temannya menoleh pada Magenta yang melontarkan pertanyaan ambigu.

"I'm totally fine, what's wrong?"

Terdengar helaan napas dari kursi kemudi membuat Berlian tidak mengerti. Papanya ini kenapa, sih? Aneh sekali.

"Kamu bisa bohongin mama kamu, tapi nggak dengan papa, Sayang. Dari dulu kamu nggak mau pakai perintilan yang bikin risih sekalipun itu jam tangan dan sekarang kamu pakai itu? Apa yang kamu sembunyikan di pergelangan tangan kamu?"

Berlian ikut menatap pergelangan tangannya yang dihiasi jam tangan berwarna silver. "Pengen aja pakai."

"Berlian Thesia Gewira."

"Fine, tangan Lian nggak sengaja kegores cutter tadi dan Lian nggak mau buat kalian terutama mama mikir aneh-aneh makanya Lian tutupin pakai jam tangan."

Magenta memilih menepikan mobilnya, masih ada waktu untuk sampai ke sekolah Berlian. "Kamu bukan orang yang ceroboh, Berlian. Bilang sama papa yang sebenarnya."

"Lian mimpi buruk."

Meski enggan, Berlian tetap buka suara. Magenta bukanlah orang yang mudah untuk dibohongi, pria itu terlalu peka dengan sekitarnya.

Pria tiga orang anak itu masih bungkam. Memberi jeda untuk putrinya bercerita, dia yakin masih ada hal yang ingin Berlian sampaikan.

"Lian mimpi buruk banget sampai rasanya pengen terjun ke kolam renang dan tenggelam bersama mimpi-mimpi itu."

Magenta langsung menarik putrinya ke dekapan. "Jangan, jangan lakuin itu. Kamu masih punya keluarga dan temen yang sayang sama kamu, Nak."

Berlian tertawa dan menepuk pelan punggung papanya. "Yang beneran mau menenggelamkan diri juga siapa? Berlian belum ikut kejuaraan internasional, Pa. Udah ayo berangkat, pagi-pagi kok mewek."

Mereka mengurai pelukan, Magenta melirik arloji di pergelangan tangannya. "Wah, iya bentar lagi gerbang sekolah kamu ditutup. Aman, kak Papa bakal jadi mode masa muda, pegangan, ya."

Senyum Berlian mengembang. "Let's go, Daddy."

.....

Segini dulu lah, ya. Woii dah deadline, ketiduran gue😭😭

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Another Side : Berlian Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang