Retrograde amnesia atau kondisi ketika seseorang lupa kejadian-kejadian yang terjadi sebelum sebuah peristiwa, biasanya sebelum cedera atau trauma. Jika seseorang mengalami benturan keras di kepala, terutama di bagian samping, bagian otak yang membantu menyimpan dan menyusun ingatan bisa terganggu. Akibatnya, sebagian ingatan, terutama yang terjadi beberapa waktu sebelum kejadian bisa hilang sementara. Dalam beberapa kasus, ingatan tersebut bisa kembali secara perlahan seiring pemulihan otak.
Arexon terdiam mencerna penjelasan Aerius. Tatapannya lurus mengarah ke pintu tepat di mana Peter sedang dirawat. Peter amnesia sementara, begitulah penjelasan singkatnya.
"Ingatannya masih bisa balik, kan?" tanya Arexon mengalihkan pandangan pada sang teman.
"Masih. Kata dokter biarin dia inget pelan-pelan jangan dipaksa karena kalau dipaksa itu justru memperburuk kondisinya. Sekarang ini dia kejebak di ingatan kita baru masuk SMA," terang Aerius dengan rinci.
"Setahun lalu?"
Aerius mengangguk.
"Berarti kita gak bisa dong nanya siapa pelaku yang udah keroyok dia?" Banu menimpali dari sisi lain. Sekarang ini beberapa anak Sigra berkumpul di rumah sakit setelah mendapat informasi mengenai kesadaran Peter.
Arexon menghela napas berat. Sepertinya dia memang harus mencari tahu sendiri. "Udah, kita fokus ke kesembuhan temen kita dulu, soal masalah ini nanti kita cari tahu lagi."
Semuanya kompak mengangguk.
"Peter boleh dijenguk?" Arexon kembali bertanya sebab dia memang yang paling akhir datang.
"Boleh, tapi cuma 1 orang aja gantian. Dia baru bangun masih harus dipantau kondisinya."
Arexon mengangguk paham mendengar penjelasan Aerius. Hanya beberapa yang berkeinginan untuk masuk, selebihnya memilih menunggu ketika kondisi Peter sudah jauh lebih stabil agar bisa dijenguk secara beramai-ramai.
"Gue masuk dulu, ya." Arexon menepuk bahu Aerius setelah Banu keluar dari ruang rawat Peter.
Bau obat-obatan menyeruak membuat Arexon sejenak menahan napas karena belum terbiasa. Di atas brankar sana Peter terbaring lemas setelah bangun dari koma selama beberapa hari. Matanya tak lepas menatap Arexon yang berjalan mendekat. Meski tubuhnya masih terasa sulit digerakkan, tapi dia berusaha menarik segaris senyum tipis untuk menyambut.
"Gimana tidur panjangnya?" Arexon menarik kursi di sebelah brankar setelah melontarkan sapaan.
Peter hanya berkedip memberi respon, tenggorokannya masih terasa nyeri hingga membuatnya tak mampu banyak bersuara. Arexon mengerti bahwa temannya itu ingin mengucapkan sepatah dua kata, namun kesulitan.
"Udah, ngomongnya ntar aja. Muka lo banyak baretnya jangan sampe nanti cewek lo malah oleng ke gue," gurau Arexon menepuk punggung tangan temannya yang tidak terinfus.
"R-r-rex." Peter dengan bersusah payah berusaha mengeluarkan suara meski tenggorokannya terasa tersayat.
Arexon mencondongkan diri lebih dekat dengan Peter agar pria itu tidak terlalu kesulitan membuka suara. "Kenapa? Mau gue panggilin dokter?"
Peter menggeleng samar. "Ibu?"
"Tante nanti nyusul ke sini setelah jemput adek lo, kita udah kabarin beliau kalau lo udah bangun."
Peter mengangguk. "R‐rex," panggilnya lagi.
"Iya, gue di sini. Ada yang sakit?"
"Gue kenapa?"
Arexon terdiam sejenak, dirinya kira sudah ada yang memberi alasan ketika teman-temannya terlebih dahulu masuk tadi.
"Tadi gak ada yang jelasin?"
"Suruh tanya lo," jawab Peter teramat pelan, namun sudah tidak terbata seperti sebelumnya.
Arexon mengumpat dalam hati. Dia bahkan belum menyiapkan jawaban apa yang harus dikatakan karena mengira mereka sudah mencari alasan. Memainkan lidahnya di dalam sebelum akhirnya menjawab, "Lo kecelakaan."
"Parah?"
Arexon mengangguk membenarkan. "Iya, sampe koma." Arexon tak membahas mengenai amnesia yang dialamai Peter, dia akan menunggu hingga kondisi temannya itu jauh lebih baik.
Peter terlihat semakin lesu. "Adek-adek sama ibu gue gimana?"
"Lo kayak gak punya temen aja deh. Kan, ada kita yang bantu, pikirin kesehatan lo dulu." Arexon menyentil main-main kening Peter yang dibalas kekehan singkat.
"Thanks, ya?"
Setelah memastikan kondisi Peter, Arexon pamit keluar agar temannya itu dapat kembali beristirahat.
Keheningan terjadi di dalam ruangan setelah Arexon pamit, Peter menatap pintu yang tertutup beberapa menit lalu dalam diam.
Kenapa gue gak inget kalau pernah kecelakaan? Dan sejak kapan gue punya pacar?
Peter berusaha mengingat kecelakaan apa yang membuatnya sampai koma, namun rasa nyeri yang menyerang kepalanya membuatnya menyerah untuk mengingat dan memilih beristirahat.
Nanti gue coba inget-inget lagi.
.
.
.
Ting.
Bunyi notif menyadarkan Berlian yang masih menutupi wajahnya menggunakan bantal. Berlian meraba kasur mencari ponselnya yang entah berada di mana. Dahinya mengernyit, heran mendapat pesan dari nomor tak dikenal.
Unknown
| Zander
? |
| Save nomor gue
Berlian berdecak ketika mengetahui siapa pengirim pesan. Zander Lourencius, orang yang suka sekali mengganggunya ketika duduk di bangku menengah pertama. Bahkan dirinya kira, ia sudah lepas dari cowok itu setelah kelulusan smp yang mengharuskan cowok itu pindah. Tapi, siapa sangka jika ia kembali dipertemukan setelah hampir 2 tahun lamanya.
Males |
| Hahaha, lo masih semenarik dulu ya Thesia
| Gue gak sabar ngerecokin lo lagi, see you di sekolah. Gue bakal pindah ke sana.
Berlian mengerang frustrasi. Bayangan kehidupan damainya yang akan berubah kacau membuatnya mengacak-acak rambutnya kesal. Hampir saja dia menekan tombol blokir jika satu notifikasi tidak muncul.
| Jangan blokir nomor gue, Sia
You blocked this contact. Tap to unblock.
"Peduli apa gue," ucapnya tak acuh dan melempar kembali ponselnya ke sembarang arah.
.
.
.
Di seberang sana, Zander yang mengetahui jika nomornya benar-benar diblokir justru tertawa kecil seakan sudah hafal dengan kelakuan Berlian. Dia tak masalah jika Berlian memblokir nomornya, masih banyak cara yang bisa dia lakukan untuk membuka akses agar bertemu gadis itu.
"Udah cukup gue tersiksa selama 2 tahun dan gue bakal tuntasin rasa kangen gue ke lo, Sia."
Zander tersenyum tipis. Menatap foto Berlian yang Ia ambil pasca kelulusan secara diam-diam dengan mata yang berkilat menunjukkan rasa rindu yang teramat.
"Gue yakin masih belum ada cowok yang bisa bikin lo suka. Gue gak sabar buat recokin hidup lo lagi, 2 tahun tanpa lo hampa banget hidup gue, Sia."
●●●
Haiiiii, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakan🤗
Ayo berteman sama aku di IG dan tiktok @/avmyovi
See you, jangan lupa vote comment nyaa😚
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side : Berlian
Teen Fiction"I love you." "Love who?" "You." **** Bagi Berlian mengenal Arexon adalah sebuah kesialan. Akan selalu ada hal tidak menyenangkan yang terjadi bila sudah bersangkutan dengan ketua geng Sigra's tersebut. Namun, bagi Arexon bertemu dengan Berlian adal...
