00 : 18 : Siapa Pelakunya?

242 15 13
                                        

Suara sepatu yang beradu dengan lantai menemani langkah Arexon menuju ruang ICU, terlihat beberapa temannya sedang berada di ruang tunggu. Satu dua di antara mereka spontan berdiri saat melihat kehadiran Arexon.

"Kronologi?" tanya Arexon sambil menatap satu persatu temannya.

"Tadi waktu kita kumpul, dia pamit duluan katanya harus jemput adiknya. Tapi, tiba-tiba Aerius dapet telpon dari rumah sakit katanya Peter kecelakaan dan sekarang kondisinya kritis," jelas Banu.

Arexon menghela napas. "Keluarganya tau?"

Wakil ketua Sigra's itu mengangguk. "Ya, Matthew udah ke rumah Peter buat jemput keluarganya ke sini."

Kerutan samar terlihat di dahi Arexon. Pemuda itu memijit kepalanya yang terasa berdenyut kemudian melirik Aerius yang berada di sampingnya. "Kita satu tebakan, benar?"

Aerius mendengus, namun tak ayal dirinya mengangguk. "Ya."

"Kalian bahas apa, sih?" Banu menggaruk kepalanya kebingungan.

"Nanti aja diskusi di markas. Apa kata dokter?"

"Tulang rusuknya patah, ada benturan di kepala yang untungnya nggak sampai mengenai otak kecil dan buat pembuluh darahnya pecah, kaki kirinya patah tulang dan beberapa luka memar."

Kepala Arexon semakin berdenyut sakit. "Kalian pulang aja, istirahat besok sekolah. Biar gue yang tempatin beberapa orang buat jaga Peter di sini."

Lima orang yang berada di sana menyetujui perintah Arexon. Mereka perlu mendinginkan kepala dan menyegarkan badan karena mereka yakin setelah ini semua tidak akan baik-baik saja.

"Gue perlu bicara empat mata sama lo, Ae."

"Ayo." Aerius berjalan lebih dulu menuju taman rumah sakit.
.
.
.

"Jadi, siapa menurut lo?" tanya Arexon langsung pada intinya.

"Anthrax," jawab Aerius dengan tegas.

"Kenapa bisa lo seyakin itu?"

Aerius menatap lekat ketuanya itu sebelum memaparkan beberapa alasan. "Rex, cuma geng itu yang selalu nyari masalah sama kita walaupun tanpa sebab dan beberapa waktu lalu kita sempat bentrok dengan mereka sampai ketuanya dirawat juga, kan?"

Hidung Arexon mengkerut sekejap. "Lo nggak lupa dengan apa yang gue bilang soal penyerangan markas kemarin, kan? Gue rasa itu bukan Anthrax."

Hembusan napas berat terdengar dari lawan bicara Arexon. "Itu bisa aja mereka berusaha memanipulasi kita yang buat kita curiga kalau penyerangan itu dilakukan sama Phoenix. Satu lagi warga yang bawa Peter ke sini nemu ini karena disangka ini punya Peter." Aerius merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan cincin dari sana.

"Cincin persahabatan Anthrax?" gumam Arexon sembari mengamati cincin di telapak tangannya.

"Iya, itu cincin yang dipake anak-anak Anthrax setelah mereka resmi gabung."

Arexon terkekeh. "Tau banget lo kayaknya."

"Apa gunanya gue jadi wakil lo kalau bodoh," ujar Aerius menatap sinis Arexon kemudian bangkit dan berpamitan. "Gue duluan, nyokap gue di rumah sendirian."

Setelah kepergian Aerius, Arexon menatap lekat cincin yang di telapak tangannya kemudian menyimpannya dalam saku. "Hm? Anthrax, ya?"
.
.
.

Berlian menghempaskan dirinya ke atas ranjang. Akhirnya setelah hampir satu jam mendapat omelan dari Mamanya karena pulang dengan beberapa lebam dia akhirnya bisa bernapas lega. Jika saja tidak ada Papanya yang membantu menyudahi omelan Jane tentu saja wanita paruh baya itu pasti akan meneruskan siraman rohaninya hingga tiga jam ke depan.

Another Side : Berlian Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang