PROLOG

8.6K 215 14
                                        

The War Of Hearts Begins🥀
.
.

Suara gemuruh dari langit terdengar memekakkan telinga, gadis itu melepaskan jas hujan berwarna pink yang dipakainya. Misha, sang gadis mengibaskannya dua kali lalu menyampirkan atasan jas hujannya lalu disusul dengan celana mantolnya di sebuah papan tulis besar yang terletak di ujung koridor dekat dengan pintu masuk karyawan.

“Mana basah lagi,” keluh Misha saat celana bahan beserta sehelai apron yang ia pakai tetap basah meskipun dirinya memakai jas hujan. Gadis tersebut melepaskan apron yang memiliki panjang sebatas pahanya, kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi karyawan yang berada di samping office banquet lalu memeras apronnya di wastafel.

Tes

Tes

Tes

Usai dengan kegiatannya, ia langsung menggantung selembar kain itu dengan paku yang berada di samping wastafel, jadilah saat ini Misha hanya mengenakan celana bahan serta atasan berwarna krem dekil yang merupakan seragam hotel.

“Shafira?”

Misha menyusuri koridor, mengeraskan suaranya untuk memanggil teman sekelasnya tersebut. Siapa tahu Shafira ada disini, meskipun Misha sendiri pun tidak yakin lantaran saat ini ballroom sangat sunyi dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Apakah teman-temannya yang masuk pagi berada di main building semua dan tidak ada yang menjaga ballroom?

Sial. Jadi Misha hanya sendiri? Kenapa anak-anak yang masuk sore juga belum ada yang datang?

Drrttt

Drrtt

Ponselnya bergetar, gadis itu melihat layarnya yang menyala dan menampilkan sebuah pesan dari grup chat ‘Banquet Team’ yang isinya merupakan empat belas training.

Rangga

Teu bisa balik Wak
Nunggu terang dulu inimah

Rangga adalah salah satu trainee yang berasal dari daerah Jawa Barat. Misha tersenyum, merasa lucu ketika mengingat Rangga yang berusia empat tahun di atasnya itu mengobrol menggunakan bahasa Sunda dengan dua temannya, yaitu Eva dan—

“Sayang?”

—dan Reinard.

Rupanya lelaki itu ada di ballroom, berarti Shafira dan yang lain berada di main building untuk mengawasi jalannya meeting. Tapi pertanyannya kenapa harus Reinard si anak emas yang disini? Kenapa bukan Shafira atau Rangga saja? Misha yakin tenaga Reinard akan sangat dibutuhkan disana, tapi..

Bukannya apa-apa, tapi bukan rahasia umum lagi kalau dari sekian banyak anak training di banquet, Reinard-lah anak emas Yehuda. Bukan Hanya Yehuda, bahkan Asisten General Manager yang seorang perempuan dan masih muda, Manager Marketing, dan para sales pun turut memuji Reinard di depan hidungnya--bahkan tidak jarang setiap ada event-event besar semua tanggung jawab dilimpahkan pada Reinard, jadi tidak heran kalau anak-anak yang lain bertingkah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya oleh sang pemilik.

Tentu yang menjadi kerbau disini adalah mereka semua dan pemiliknya adalah Reinard. Kecuali Misha, dia tidak ingin jadi kerbau apalagi peliharaan sang pemilik. Lebih baik dia jadi tanahnya saja meskipun diinjak-injak kerbau.

WAR OF HEARTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang