Anna, seorang perempuan yang bekerja sebagai event planner harus merasakan patah hati tatkala lelaki yang diam-diam ia taksir ternyata sudah memiliki calon pendamping dan akan segera melaksanakan pernikahan.
Sialnya, Anna-lah yang harus terju...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bab 01 -BertemuGebetan
Anna tidak pernah menyangka, profesinya sebagai event planner kembalimempertemukan dia dengan Devan, lelaki yang ia taksir sejak mereka duduk di bangku SMA hingga sekarang.
Bukannya senang karena bertemu kembali dengan sang pujaan hatinya, Anna justru patah hati dikarenakan laki-laki itu meminta tolong tim EO Anna untuk mempersiapkan acara pernikahannya dengan wanita lain dan akan dilangsungkan beberapa hari lagi.
"Ah, apes banget aku hari ini," gerutu Anna, seraya meletakkan ransel dan duduk di bangku kerjanya.
Hanin, rekan kerja Anna yang tengah menghadap layar monitor lantas menoleh. Dengan heran ia bertanya, "Kamu kenapa, sih? Baru nyampe udah ngeluh aja? Ada kejadian apa?"
Anna membuang napas kasar. Dengan nada malas, perempuan itu berkata, "Mau aku ceritain? Siapin tisu dulu, gih."
"Waduh, menyedihkan banget kayaknya. Hari ini kamu dapat klien ngeselin? Sini-sini cerita," ujar Hanin dengan antusias.
"Bukan ngeselin," jawab Anna.
"Lalu?" tanya Hanin lagi, seraya menyeret kursinya hingga ikut berpindah mendekati meja Anna.
"Kamu inget sama Devan yang sering aku ceritain ke kamu?" Anna mulai bercerita.
"Devan si cowok tampan yang kamu taksir sejak SMA itu?" tanya Hanin.
Anna mengangguk, mengiyakan tebakan Hanin.
"Emangnya ada apa sama cowok itu? Kamu habis ketemu sama dia?"
"Iya. Dan yang lebih parahnya lagi dia mau nikah dengan perempuan lain." Anna nampak lesu.
Hanin membulatkan matanya. Dengan sangat antusias, ia kembali bertanya, "Jangan bilang ... kalau klien-mu kali iniㅡ"
"Devan." Anna memotong.
"Huh? Sad ending. Sabar, ya, Ann." Hanin mengusap punggung Anna, menguatkan sahabat itu.
"Kayaknya ini waktunya untuk aku membuka hati buat orang lain, deh."
"Dari awal seharusnya kamu berpikiran waras kayak gini, Ann," ujar Hanin.
"Kenalin ke cowok, dong."
"Kamu lupa, Ann, coba hitung berapa cowok yang udah deketin kamu? Nggak bisa dihitung pakai jari! Kamunya aja yang selalu tak acuh."
"Ya ... mereka cuma penasaran aja, sih ... nggak kelihatan keseriusannya."
"Gimana mau serius, orang kamu aja nggak pernah nanggepin mereka."
"Oke, oke. Aku yang salah."
"Kamu nggak salah, Ann. Cuma kurang tepat aja caramu memperlakukan mereka. Perlu kamu ingat, selama di hatimu masih berharap sama Devan, kamu akan sulit menerima perasaan orang lain di hati kamu."