Bab 18 - Selamat Tinggal, Cinta
Kantor Adyatama
"Siang ini kamu ada janji nggak, Ann? Makan siang ke Kafe Java, yuk. Aku dapat dua tiket makan gratis, nih," ajak Hanin.
"Em ... maaf, Han. Belum bisa. Aku mau diajak Pak Adi ke rumahnya."
"Diajak ke rumah Pak Adi?" Hanin menatap Anna dengan antusias.
Anna mengangguk. "Iya. Katanya mau dikenalkan sama orang tuanya."
"Wah, Pak Adi sat-set juga, ya? Aku ikut seneng sama hubungan kalian. Semoga hubungan kalian langgeng dan selalu bahagia. Aamiin."
"Aamiin. Makasih, Hanin. Kamu emang sahabat terbaikku," ucap Anna, seraya merangkul Hanin.
"Jangan lupa undang aku, ya."
"Eh ... aku kan baru mau dikenalkan sama orang tuanya Pak Adi, udah dimintai undangan aja."
"Haha. Ya ... saking senengnya, akhirnya kamu dan Pak Adi terang-terangan mengenai hubungan kalian."
Anna mengembuskan napas berat. "Tapi aku agak takut, Han."
"Takut kenapa?"
"Kamu tahu kan, Bima suka sama aku."
"Iya aku tahu. Tapi kenapa? Apa Pak Adi belum tahu mengenai perasaan adiknya itu ke kamu?"
"Belum, Han. Maka dari itu, aku khawatir hubungan mereka jadi tambah renggang gara-gara aku."
"Nggak usah terlalu dipikirin, Ann. Bima kan pernah bilang kalau dia akan mencoba mengikhlaskan kamu."
"Kamu benar. Tapi ini nggak sesimpel itu, Han. Sebab orang yang ternyata aku suka tuh Pak Adi, kakak kandungnya sendiri. Pasti ada perasaan kecewa atau gimana gitu."
"Saran aku sih kamu bilang aja ke Pak Adi. Biar nanti ketika Bima tahu mengenai hubungan kalian, Pak Adi sudah ada jawaban penjelasan pada Bima."
"Aku juga berencana menceritakan ini pada Pak Adi, nanti siang ketika kami ketemu."
"Bagus. Semoga sukses untuk hari ini. Kamu pasti deg-degan mau ketemu orang tua Pak Adi."
"Haha. Iya, Han," balas Anna. "Kalau gitu aku mau lanjut bikin laporan buat bahan rapat Fina, aku sudah minta tolong sama dia buat wakilin aku di rapat nanti malam."
"Baik, Ann. Aku juga mau lanjut kerja."
***
Rumah Adyatama
"Jadi begitu, Ayah, Ibu. Aku ke sini karena ingin meminta maaf atas sikap aku beberapa waktu lalu karena sudah membuat kalian kecewa," ucap Bima.
"Nggak, Bim. Justru Ayah yang mau minta maaf sama kamu. Kata-kata Ayah waktu itu pasti nyakitin hati kamu," ujar Arya, ayah Bima.
"Iya, Bim. Ibu juga minta maaf karena selama ini Ibu nggak pernah mengerti perasaan kamu." Dini ikut bersuara.
Bima menganguk. Ia lalu berkata, "Ibu, Ayah, tujuan aku ke sini selain untuk meminta maaf, sebenarnya aku juga mau minta izin dan restu dari kalian. Aku mau berlatih hidup mandiri. Meski begitu, aku sadar, aku masih butuh doa dan dukungan dari kalian."
"Hidup mandiri? Jadi kamu nggak tinggal di sini lagi?" tanya Arya.
"Enggak, Yah. Untuk sementara ini aku menumpang di rumah pemilik bengkel tempat aku bekerja."
"Bengkel? Kamu kerja di bengkel orang?" Dini memekik pelan.
"Iya, Bu."
"Kamu nggak mau nerusin perusahaan Ayah? Ayah butuh kamu, Bim. Kamu tahu sendiri, kan, kalau Ayah sudah nggak aktif lagi di perusahaan. Kemarin Ayah menyuruh Dava untuk gantiin kamu sementara, sebab Ayah masih berharap kamu mau kembali ke perusahaan."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Boss [END]
RomanceAnna, seorang perempuan yang bekerja sebagai event planner harus merasakan patah hati tatkala lelaki yang diam-diam ia taksir ternyata sudah memiliki calon pendamping dan akan segera melaksanakan pernikahan. Sialnya, Anna-lah yang harus terju...
![My Perfect Boss [END]](https://img.wattpad.com/cover/330599468-64-k114238.jpg)