Bab 15 - Budak Cinta
Brakk!
Adimas menggebrak meja dengan kesal. Napasnya menggebu dengan mata yang memerah.
Bisa-bisanya aku menyatakan cinta kepada orang yang baru saja patah hati. Dia mau menerima cintaku pasti hanya sebagai pelarian. Ini salahku! Adimas memejamkan mata, mencoba mengatur emosi yang hampir tak terkendali.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu menyadarkan Adimas. Pasti ini Anna. Dia mau minta maaf karena kejadian tadi. "Masuk," ucap Adimas.
Pintu terbuka. Namun, bukan sosok Anna yang berdiri di sana, melainkan sekretarisnya yang beberapa minggu ini cuti melahirkan.
"Selamat pagi, Pak Adimas," sapa Mela, sedikit menunduk.
"Huft ... aku kira Anna," gumam Adimas.
"Em ... maaf, barusan Pak Adimas bilang apa, ya? Saya tidak mendengar."
"Bukan apa-apa," balas Adimas. "Selamat pagi juga, Mel. Selamat atas kembalinya kamu di sini. Gimana kondisi kamu sekarang?"
"Alhamdulillah, kondisi saya baik, Pak. Terima kasih karena Pak Adi sudah memberikan izin cuti kepada saya. Itu sangat berharga bagi saya."
"Sama-sama. Kabar anak kamu gimana?"
"Alhamdulillah, Pak. Sama baiknya. Terima kasih."
"Oke. Selamat bekerja kembali. Beberapa berkas yang perlu kamu kerjakan ada pada Dika. Kamu nanti bisa minta sama dia."
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi."
Adimas berdeham singkat sebagai jawaban.
Tatkala Mela baru saja melewati pintu, muncul sosok Anna dan kemudian meminta izin pada Adimas untuk masuk.
Adimas mengangguk. Memang kehadiran Anna sudah ia tunggu sejak tadi.
Pintu kembali ditutup. Kini, hanya ada Adimas dan Anna di ruangan itu.
"Langsung saja. Kamu menemui saya ada apa?" tanya Adimas dingin, seraya membelakangi Anna dan menatap ke luar jendela.
"Pak ... kejadian tadi pagi hanya salah paham."
"Jelaskan. Saya akan mencoba mendengarkan ucapan dari mulut kamu, bahkan semisal itu hanya sampah sekalipun."
Deg!
Ucapan kasar yang baru saja terlontar dari mulut Adimas membuat Anna tak bisa berkata-kata. Kata-kata Pak Adi terlalu menyakitkan. Aku nggak berharap lagi dengan hubungan ini. Aku bukan pengemis cinta. Namun, aku harus menjelaskan semua kebenarannya.
"Kamu nggak mau bicara? Silakan keluar."
"Pak, lihat ke arah saya dulu," pinta Anna.
"Kamu hanya perlu bicara. Waktu kamu hanya lima menit. Setelah itu saya ada rapat penting," jawab Adimas, tanpa menghiraukan permintaan Anna.
"Tadi pagi saya memang buru-buru ke kantor. Tapi niat saya supaya bisa segera ketemu sama Pak Adi. Lalu Pak Adi telepon, bahwasanya Bapak masih di rumah. Karena Bapak belum berangkat, akhirnya saya ke kafe dulu buat sarapan. Di sana tidak sengaja ketemu Devan. Saya juga sudah menghindari dia, kok, Pak."
Adimas bergeming. Tidak memberi sanggahan pada pernyataan Anna.
"Kalau Bapak merasa dikhianati, baiklah. Mulai sekarang kita tidak usah ada hubungan apa-apa lagi. Maaf."
Adimas sontak terkejut dengan penuturan yang baru saja keluar dari mulut Anna. Bisa-bisanya dia meminta putus semudah itu?
"Permisi, Pak." Anna berbalik. Namun....
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Boss [END]
Roman d'amourAnna, seorang perempuan yang bekerja sebagai event planner harus merasakan patah hati tatkala lelaki yang diam-diam ia taksir ternyata sudah memiliki calon pendamping dan akan segera melaksanakan pernikahan. Sialnya, Anna-lah yang harus terju...
![My Perfect Boss [END]](https://img.wattpad.com/cover/330599468-64-k114238.jpg)