Sekitar jam setengah dua siang, Rendi dan Jean keluar dari dalam posko perempuan. Jangan berpikiran kemana-mana dulu, tujuan mereka justru bagus, karena ingin membantu.
Iya, mereka baru betulin genting yang semalem sempat bocor. Tadi malam hujan turun begitu deras, dan malangnya atap posko perempuan bocor, membuat air hujan menetes dari genting yang berlubang. Para gadis memanggil anak laki-laki untuk membentulkanya. Tapi karena semua sibuk, jadinya baru bisa siang ini. Itupun yang sempat hanya Rendi dan Jean.
Jean sudah turun membawa tangga kayu tadi ke bawah, mengembalikannya ke rumah Pak Yayat. Rendi baru akan mengekor, hendak turun juga, tapi seorang gadis yang duduk di teras membuat ia tertarik untuk mendekatinya.
"Sepatu lo rusak?"
Ningning mendongkak mendapati laki-laki berkaus putih yang baru saja bertanya padanya.
"Iya, yang waktu itu kesandung batu."
Kirain kesandung cinta. Haha. Daripada kesandung masalah ya kan? Nauzubillah!
"Coba gue liat." Rendi duduk di samping Ningning. Membuat Ningning agak bergeser karena jarak mereka terlalu dekat.
"Sebentar,"
Ningning melihat Rendi berdiri beranjak pergi, lalu menuruni tangga, dan berlari kecil ke posko laki-laki. Sekitar tiga menit, laki-laki itu menghilang, hingga akhirnya Rendi kembali lagi membawa jarum dan benang di tangannya.
Ningning hanya terdiam sambil memperhatikan Rendi yang mulai fokus dengan jarum, benang, dan sepatunya.
"Lo bisa jait sepatu?" Tanya Ningning melihat Rendi begitu telaten memperbaiki sepatunya.
"Bisa kalo gini doang mah."
Bibir bawah Ningning tertekuk, ketika Rendi mulai menyombongkan dirinya. Namun setelahnya Ningning kembali memperhatikan laki-laki itu lagi.
"Nih, udah bener. Biarpun engga bisa kaya baru lagi, tapi seenggaknya udah bisa di pake lagi."
Ekspresi berbinar tercetak jelas di wajah cantik wanita dengan rambut tercepol itu, ketika melihat sepatunya sudah di perbaiki Rendi. Di letakkannya sepatu itu di bawah, kemudian ia langsung mencobanya, dan ternyata sepatunya sudah tidak menganga lagi.
"Waaah.. berbakat juga lo, Ren." Puji Ningning. "Kenapa engga jadi tukang sol sepatu aja?" Candanya.
"Yeuuh, enak aja lo. Gue emang berbakat keleus. Tapi bukan jadi tukang sol sepatu juga."
Ningning tertawa. Kakinya di gerak-gerakan, melihat sepatu yang terpasang. Padahal niatnya mau ia buang tadi, karena untuk apa ia menyimpan barang rusak, kalau bisa membelinya lagi. Tapi ternyata di tangan Rendi barang yang rusak bisa menjadi baru lagi. Rendi keren juga. Pikir Ningning.
"Lah, kabel listrik yang di sini kemana dah?" Tanya Rendi.
Dia merunduk, mencari kabel listrik yang biasanya ada di samping bangku. Baterai ponselnya hampir habis. Di posko laki-laki, ia selalu rebutan colokan dengan yang lain, makanya terkadang Rendi numpang charger di sini. Biasanya di situ ada kabel listrik yang bisa di isi oleh empat alat elektronik. Ramean gitu. Tapi kok sekarang engga ada?
"Rusak. Kemarin jatuh, terus pas mau di pake lagi engga bisa," jawab Ningning. "Nanti gue pesen online, beli lagi."
"Mana kabelnya?"
"Ada di dalem."
"Coba gue mau liat."
Bangkit dari duduknya, Ningning berjalan ke dalam, berpapasan dengan Winda dan Chaery yang keluar. Sempat bertanya mereka berdua mau kemana, yang kemudian di jawab Winda kalau mereka ingin ke Indomarried mau beli eskrim.

KAMU SEDANG MEMBACA
KKN Di Desa Kasmaran | NCT
Fanfiction"Duh, anjir ngapain sih gue ada di sini?" "Bisa ngga sih, kita sehari aja engga berantem?" "Gue suka sama lo." "Meski nanti KKN udah berakhir, Gue mau kita masih lanjut." "Jadian, kuy." Gimana jadinya kalau manusia receh, rame, savage, freak, julid...