13. Simulasi Berumah Tangga

1.4K 165 22
                                    



"Aahh... Aku magerr bangeeett."

Pagi-pagi di posko perempuan sudah terdengar gerutuan dari anak gadisnya Bapak Burhan. Siapa lagi kalau bukan Adinda Winda Bagaskara.

Gadis itu turun dari tempat tidur seraya merenggangkan kedua tangannya ke atas. "Semoga aja nanti dapet suami yang rajin, jadi aku engga usah bangun pagi-pagi buat belanja sama masak."

Dengar, kan? Mana ada istri yang kaya begitu, Win?!

Kaniya pun geleng-geleng melihatnya. "Mana ada yang kaya gitu. Tugas istri ya bangun pagi, belanja, masak..."

Nah, ini baru bener.

Yuna menyahut, "KKN itu simulasi berumahtangga, Win..." Lantas berjalan melewati mereka berdua.

Ya memang benar sih. Pagi-pagi para perempuan sudah bangun untuk belanja ke pasar. Setelahnya mereka akan memasak, lalu memanggil para laki-laki begitu sarapan sudah siap. Kemudian baru disibukan dengan kegiatan. Apa namanya kalau bukan simulasi jadi istri?

"Udah cepetan yuk, Gino sama Jean udah nunggu di bawah." Kata Kaniya, lalu memakai hijabnya kemudian berjalan keluar.

"Hari ini mau masak apa ya enaknya?"

Kaniya melihat macam-macam resep di ponsel selagi Winda berjalan melendot di sampingnya. Di belakang mereka ada dua laki-laki yang tadi mengantar. Dan berjalan seperti bodyguard. Jean dan Gino.

"Masak apa aja gue mah doyan." Gino menanggapi pertanyaan Kaniya tadi.

"Batu sama kayu di tumis juga lo mah doyan ya, No." Sahut Jean. Gino hanya tertawa saja menanggapinya.

"Masak Ayam kecap aja, Kan." Jean memberi saran.

Kaniya nampak berpikir sebentar. "Boleh, kayanya enak. Sama sayur sop ya?"

Keempat muda-mudi itu melangkah ke penjual ayam potong. Memesan dua kilo ayam dan meminta untuk di potong kecil-kecil, supaya banyak. Kaniya memang calon ibu rumah tangga banget.

Beralih dari penjual ayam, mereka pergi ke penjual sayur. Dari tadi yang sibuk melihat resep dan belanja hanya Kaniya saja. Winda? Dia sibuk main ponsel sambil berjalan di belakang. Makanya suaranya tidak terdengar. Ia juga berpikir kenapa Kaniya mengajaknya, sedang dirinya tak ada gunanya kalau ikut.

Saking fokusnya Kaniya melihat resep di layar pipih, ia merasakan lengan atasnya yang tertutup jaket di tarik pelan oleh seseorang di sampingnya. Sontak, Kaniya mendongkak melihat ternyata Gino yang baru saja menarik lengannya.

"Kalo jalan jangan sambil main hape, hampir aja lo nabrak orang."

Kaniya memutar kepalanya ke belakang, melihat dua orang laki-laki bertubuh besar yang tadi melewatinya. Apa Gino baru saja melindunginya?

Kini Gino mengganti posisinya jadi dirinya yang berjalan di pinggir. Sementara Kaniya berjalan di sisi satunya yang lebih aman dari seliweran orang-orang.

Dan sikap Gino barusan menghadirkan senyum kecil dari gadis berjaket merah muda itu.




***



"Sini gue bantu."

Haidar mengambil alih pisau yang di pegang Ryuni, kemudian menggantikan gadis itu untuk mengiris bawang merah di atas talenan.

Ryuni mengerjap, Mengelap air matanya yang keluar sebab memotong bawang.

"Dia engga terima gue iris, makanya dia bikin gue nangis."

Haidar pun tertawa ketika melihat Ryuni menangis sebab mengiris bawang merah, seperti sedang menonton drama Korea.

"Gue engga bakalan jadi bawang merah buat lo." Kata Haidar, tawanya sudah berhenti lalu melihat Ryuni yang masih sibuk mengelap air matanya.

KKN Di Desa Kasmaran | NCTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang