17. Secret Admirer

1K 125 11
                                    

Kabut masih menyelimuti area posko KKN di jam yang sudah menunjukkan pukul 6 lebih 45 menit.

Jadwal di hari Kamis ini adalah pelatihan bahasa asing untuk remaja di desa Kasmaran, dan bertempat di balai desa. Informasi sudah di sebar jauh-jauh hari oleh divisi Kominfo.

Mari kita lihat bagaimana anak-anak KKN di pagi yang terasa mulai menghangat ini.

Lihat saja sang Surya yang mulai memamerkan sinarnya di ufuk timur.

"AAAAHHH!!"

"Kenapa, Ning?"

Terkejut, Rendi mendengar teriakan Ningning dari dalam bilik mandi perempuan yang bersebelahan dengannya. Dia sendiri sedang mengantri untuk giliran mandi bersama Calvin di luar bilik mandi laki-laki, sementara Haidar masih di dalam dari 20 menit yang lalu.

"Dingiiiin!" Ningning kembali memekik dari dalam.

Dimana-mana juga kalau pagi-pagi air di kamar mandi pasti dingin. Di tambah lagi keberadaan mereka yang ada di ketinggian hampir 2000 Meter Di atas Permukaan Laut (MDPL).

"Hoaam... Lebay!"

Sambil menguap, Calvin menyahut. Matanya pun masih belum terbuka sempurna, namun telinga dan otaknya sudah mulai bekerja.

Handuk berwarna biru terlihat melingkar di lehernya, bersama peralatan mandi dalam sebuah pouch coklat di tangan kanan yang sepertinya malas sekali untuk dipegang.

"Ih, beneran dingin,"

Ningning langsung keluar, wajahnya terlihat basah berserta rambut cepol berantakannya yang sedikit terkena air. Dia belum mandi, baru cuci muka.

"Mandi aja sana, kalau mau cosplay jadi Bernard bear!"

Ningning lantas pergi meninggalkan dua laki-laki yang melihatnya dengan raut wajah heran.

"Huhuhu.. mau mandi air hangat.." suara Ningning yang terdengar seperti menangis dari jauh. Mereka tahu gadis itu hanya nangis bohongan.

Cetek!

Suara kompor yang menyala.

"Ngapain lu?" Tanya Calvin pada Rendi yang baru saja menyalakan kompor dan menaruh panci berisi air untuk di masak.

"Masak aer."

Pengennya sih bilang cakeep!

Halah mana bisa. Pasti langsung di guyur sama Rendi.

Calvin mengambil panci lainnya, lalu mengisi air dari keran, dan menaruhnya juga di atas tungku kompor sampingnya, kemudian menyalakannya. Dia melakukan seperti apa yang Rendi lakukan.

"Ngapain lu?"

Rendi tahu Calvin sedang memasak air, tapi dia tidak tahu untuk apa temannya itu melakukan hal yang sama dengannya.

Dia bertanya seperti pertanyaan Calvin tadi. Dan jawaban Calvin juga sama seperti jawaban yang dia berikan barusan.

"Masak Aer."

Agak kesal sih, tapi Rendi juga sadar jawaban darinya tadi juga pasti membuat Calvin merasakan apa yang dia rasakan sekarang. Keduanya akhirnya hanya berdiri di depan kompor menunggu air dalam panci mendidih.

"Widiih.. pagi-pagi udah ngopi enak banget yaaak.."

Haidar baru kembali dari posko perempuan setelah memberikan sekantung banyak roti untuk adiknya dan teman-temannya. Kemudian dia naik ke posko laki-laki, dan melihat Rendi bersama Calvin sedang duduk di depan teras sambil menyeruput secangkir kopi dengan khidmat.

"Teh, bukan kopi." Ralat Calvin, kemudian menaruh cangkir ke atas meja kayu yang ada di antaranya dan Rendi.

"Yaelah, gue kira kopi," keluh Haidar, "Baru pengen minta."

KKN Di Desa Kasmaran | NCTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang