Cuaca di desa Kasmaran pagi ini sangat menyejukkan di jam tujuh ini. Selasa pagi anggota KKN khususnya divisi kesehatan sudah meluncur ke balai desa untuk pelaksanaan cek darah dan sosialisasi kesehatan. Satu motor sport dan satu Vespa LX berhenti di luar halaman balai desa begitu Haidar memutuskan untuk parkir di sana saja.
"Mau kemana, Dar?" Tanya Jean melihat penumpang di belakangnya turun buru-buru.
"Ngencing!" Tukas Haidar cepat.
"Ogeb si Haidar engga sembuh-sembuh," dumal Rendi melepas helm dan menaruhnya di spion Vespa LX-nya. Melihat Haidar yang mepet ke satu pohon besar sambil celingak-celinguk takut ada yang ngintip.
Idih, siapa juga yang mau ngintip.
"Lo ngencing engga bisa nyari toilet apa?" Tanya Aji yang hari ini jadi supir Vespanya Rendi begitu Haidar sudah selesai dari urusan hajatnya.
"Udah kebelet, Mapren... Selow si. Gue udah ijin sama pohonnya."
"Hanjir," kata Rendi nyaris ngakak. "Lo harusnya ijin pake surat keterangan dari kecamatan. Dongo banget si Haidar. Najis."
"Najis-najis juga kalo gue engga ada lo nyariin elah," Haidar merapihkan jas almamaternya kemudian lanjut melangkah ke gerbang balai desa. "Kuy masuk lah, ke sana tuh bantu ciwi-ciwi."
Dagu Haidar menunjuk ke aula depan dari balai desa. Memang banyak cewek sih, lagi pada rapih-rapih perlengkapan di meja untuk warga yang mau cek darah dan kesehatan gratis.
Iya, hari ini agendanya program kerja divisi kesehatan. Cek darah dan sosialisasi kesehatan di balai desa. Bagusnya ada Jean si anak farmasi yang tahu banyak tentang kesehatan, jadi divisi yang di koordinasi oleh Kaniya itu sangat terbantu.
Mata Aji, dan Rendi mengikuti kemana Haidar dan Jean melangkah. Dan seketika langsung malas.
Hapal banget niat dua buaya itu mau ngapain.
"Lah, Winda mana?"
Bukan Haidar sebagai Abang yang nanya keberadaan adiknya, tapi malah si Jean.
"Winda engga ikut. Perutnya keram." Jawab Kaniya sambil meletakkan alat cek darah di atas meja.
"Winda sakit, Ni?" Tanya Jean pada Kaniya.
"Iya, sakit perut." Yang ini Yuna yang jawab.
"Jengukin aahh."
"Duh, cuma sakit perut tamu bulanan." Dumal Yuna pada buaya satu itu. Sementara Abangnya Winda lagi ngobrol sama Ryuni.
"Engga boleh jenguk emang?"
"Ngapain si lo?" Haidar mulai denger niat modusnya Jean. "Adek gue kalo sakit dateng bulan engga mau di ganggu. Lu jenguk yang ada ganggu istirahat dia."
"Elah, pelit banget si jadi Abang."
"Winda kalo lagi dateng bulan maunya tidur aja, Jean. Yang ada dia ngomel kalo kamu jengukin." Jelas Kaniya yang hafal sekali dengan sahabatnya itu.
"Kaniya dukung gue kek sekali-kali." Dumal Jean.
Kaniya terkekeh. "Maaf, Je."

KAMU SEDANG MEMBACA
KKN Di Desa Kasmaran | NCT
Fanfiction"Duh, anjir ngapain sih gue ada di sini?" "Bisa ngga sih, kita sehari aja engga berantem?" "Gue suka sama lo." "Meski nanti KKN udah berakhir, Gue mau kita masih lanjut." "Jadian, kuy." Gimana jadinya kalau manusia receh, rame, savage, freak, julid...