Di pagi hari, dalam pekarangan sekolah. Afan melihat gadis yang seolah membully murid baru.
"Eh Lo ko jahat banget sih?" Afan menghampiri gadis itu.
"Apaan sih, gajelas amat"sinis si gadis.
"Ternyata benar ya kata orang, Lo itu ga secantik muka lu" ternyata gadis itu adalah Sherly.
"Haha lu lucu ya, menilai orang dari kata orang lain. Lu keren bro" Sherly meninggalkan afan dan gadis yang afan tampak sedang di bully Sherly.
Kini Sherly telah pergi jauh dari pandangan afan.
"Kamu gapapa? Tanya afan pada adik kelasnya itu.
"Gapapa kak, makasih ya"
"Kalau kamu di bully lagi lapor ke guru aja dek, atau kamu bisa cari kakak" ujar afan.
"Iya kak, makasih ya. Oh iya kak bilangin ke kak Sherly juga ya, bilang aku terimakasih udah nolongin aku tadi" seraya tersenyum pada afan.
"Ha makasih? Loh bukannya dia?..." Saking kagetnya afan tak mampu melanjutkan perkataannya.
"Iya kak, kak Sherly baik banget,tadi aku di bully sama kaka kelas terus kak Sherly datang ngebela aku . Sampai dia disiram sama Minuman sama kak indah tadi, oh iya kak kayaknya tangan kak Sherly tadi luka pas nolongin aku soalnya aku liat darah di bawah dia. Bilangin maaf dan terimakasih ya kak, kak Sherly itu baiiiiiik banget" tutur adik kelas itu sampai afan tampak merasa tak enak.
Skip taman.
Afan yang terlihat berputar putar mencari Sherly akhirnya Sampai di taman dan melihat Sherly yang duduk seraya membersihkan rambutnya.
"Sini liat" afan menarik tangan Sherly yang ternyata benar terluka.
"Ih lepas ga" Sherly men tangannya.
"Lu bisa tenang ga sih Sri, tangan lu luka nanti infeksi"
Mendengar perkataan afan Sri terdiam menatap tangannya yang di bersihkan di beri plester oleh afan
"Kenapa? Gue ganteng ya?" Tanya afan.
"Pede gila" singkat Sherly.
"Cuek amat lu"
Sherly hanya terdiam dan kembali membersihkan rambutnya.
Tiba tiba afan memegang rambut Sherly dan membersihkan nya.
"Gausah" tepis Sherly pada tangan afan.
"Lu kenapa sih?" Tanya afan sbil melihat dalam Sherly.
"Kenapa apanya?" Sherly masih cuek dalam menanggapi afan
"Kenapa lu make topeng orang jahat sih? Kenapa lu ga jadi diri lu sendiri aja? Kenapa lu mau di musuhi orang?" Tanya kepo afan.
"Lu perduli apa?" Kini Sherly bangkit dari kursinya dan berjalan menjauh dari afan.
"Gue Tau lu baik banget srii, maaf ya kalo gue salah menilai lu" teriak afan.
"Makasih..." Sherly berhenti tanpa membalikkan badannya.
"Buat?"
"Makasih plasternya, semoga lu ga kenal gue yang sebenarnya" Sherly benar benar meninggalkan afan sekarang.
Kini afan terbayang wajah Sherly saat dirinya membentaknya tadi.
"Maaf ya Sri, aku gatau kamu ngebantuin adik kelas itu. Kalau aku tau aku gabakal marahin kamu" monolog afan.
Ternyata ditaman itu tak hanya ada afan.
" Dia baik banget fan" seorang perempuan mendekati afan.
"Eh nay, kamu udah lama disitu?" Kini afan tersenyum senang karena melihat Nayla
"Fan aku tau perasaan kamu ke aku, tapi kayaknya kamu cuma suka sama aku kayak kagum sama aku gitu, fan kamu harus tau aku ini teman kamu dan aku juga udah suka sama orang lain" tutur Nayla.
"OOO gitu yah" senyum afan seketika meluntur
"Fan pliss, kita ini teman jangan rusak dengan rasa yang sesaat ini" pinta Nayla.
Afan tampak menarik napas panjang.
" Iya nay, maaf ya aku punya rasa lebih ke kamu" afan mencoba tersenyum.
" Tetaplah jadi teman aku fan, teman yang baik banget" sambil menepuk pundak afan.
