Afan kembali masuk ke kamarnya membawa secawan bubur yang panas.
"Nih makan" ucap afan menyodorkan mangkuk bubur itu pada Sherly.
"Makasih" senyum simpul Sherly.
Afan masih terlihat kesal kesal manja pada Sherly.
"Kamu mau?" Ucap Sherly sambil menyodorkan sendok berisi bubur yang telah ia tiup.
"Ga" jawab cuek afan.
"Okey" jawab singkat Sherly karena merasa bodo amat dengan sikap afan.
"Isss" ucap pelan Sherly yang hampir tidak bisa didengar afan.
Sherly yang sedikit sedikit makan bubur membuat afan makin kesal, karena ia berfikir Sherly tidak suka bubur buatannya.
"Kalau ga suka gausah dimain mainin" ucap afan sambil mengambil mangkuk dari tangan Sherly.
Sherly hanya menatap afan, dan berdesis.
"Isss" ada rasa sakit dipipi Sherly akibat dari papanya tadi.
"Marah marah Mulu, ini tu gue gabisa makan" jawab Sherly sambil merasa rasakan pipi bagian dalamnya.
"Alah boong aja, bilang aja ga enak" ucap afan judes.
"Dahla gue pulang aja" ucap Sherly yang merasa tersinggung karena perkataan afan.
Sherly telah siap menyandang tasnya dan bergegas pergi dari kamar afan.
"Loh kemana sher?" Ucap eby yang kaget saat dirinya asik main hp.
"Pulang" ucap cuek Sherly dengan muka datarnya.
"Loh fan, lu biarin?" Eby melihat ke afan.
Afan hanya diam dengan muka kesalnya.
"Jadi cowo kok ga peka, pipi Sherly sakit kali makanya dia gabisa makan" ucap Nayla saat akan menyusul Sherly.
Afan yang baru tersadarkan oleh perkataan Nayla mengejar Sherly.
"Sorry" ucap afan memeluk Sherly dari belakang dan dengan napas yang berhembus kencang akibat lari laju yang ia lakukan.
Bagaimana tidak Sherly yang telah berada di lantai dasar di pacu oleh afan yang berlari dari lantai 2 paling ujung hingga ke lantai dasar.
Saat Sherly berhenti, afan langsung saja menarik tangan Sherly untuk duduk di sofa bersamanya.
"Kamu masih laper ga? Aku ambilin lagi ya buburnya, biar aku yang suapin" ucap afan sambil mengelus elus punggung tangan Sherly.
"Ga, gue mau pulang" ucap dingin Sherly.
"Aaaaa jangan dingin lagi, aku minta maaf ya. Maaf maaf" rengek afan yang jongkok di depan Sherly.
"Apaan sih, dahla" Sherly cuek kembali.
"Gu- isss" rasa ngilu kembali menyerang pipi bagian dalam Sherly
"Sakit ya" afan memegang pipi Sherly.
Afan yang menyentuh pipi Sherly itu sudah pasti bisa melihat setiap Senti dari wajah Sherly. Kini tatapan afan sedang khilaf melihat Sherly dan eby sadar akan itu.
"Astaufirullah tobat lu" eby menutup mata afan lalu menarik afan menjauh dari Sherly.
"Apaan cok" protes afan.
"Ntar khilaf lu setan, mata lu dah liat" ucap eby yang emosi.
"Gila lu, galah gue ga gitu" elak afan.
Sherly yang mendengar kata kata eby menatap tajam pada afan.
"Eh engg- enggak kok Sri" ketawa8‽ gugup afan.
"Mesum lu" ucap Sri menyipitkan matanya
"Enggak sayang" afan merayu Sherly dengan memijat pundaknya agar Sherly tak marah lagi.
"Maaf ya" ucap afan.
"Hemm" jawab singkat Sherly.
"Sri maaf" rengek afan di telinga Sherly.
"Iyaa loh afan" gertak Sherly pada afan.
Selama dirumah afan Sherly hanya melamun tanpa kata.
