kamu bangun

1.4K 165 37
                                        

Suster itu berlarian dengan tergesa keluar dari ruangan, mimik panik sangat tergambar pada wajah sendunya. Ia tidak menghiraukan pertanyaan siapa siapa, ia hanya berlari sekuat tenaga ke bangsal stok darah yang berada lumayan jauh dari ruang operasinya.

Tidak lama suster itu masuk kedalam ruang operasi dengan sekiranya 7 kantung darah yang digenggam erat pada kedua belah tangannya.

"Cepat" ucap dokter Aryan saat melihat suster itu berhasil mendapatkan darah yang dibutuhkan afan.

Operasi dilanjutkan dengan darah tambahan untuk afan tersebut, cukup lama kepala afan dibuka dan diobrak Abrik oleh para medis itu.

Tit tit tit

Suara itu mengagetkan semua suster dan termasuk dokter Aryan.

" Tekanan darahnya menurun dok" ucap Suster yang melihat ke alat yang sedang berbunyi.

"Darahnya masih kurang, tambah lagi" ucap dokter aryan

Suster itu bergegas mengambil darah yang tersedia tadi, namun ternyata kantung terakhir telah mereka habiskan pada lima menit yang lalu.

"Dok kita kehabisan kantung darahnya" ucap panik sang suster yang melihatkan nampan tempat darah itu berada semula.

" Ambil di bangsal darah lagi" ucap dokter Aryan pada suster yang tadi mengambilkan darah untuk afan.

"Ma-maaf dok semua kantung darah yang sama dengan golongan darah pasien telah saya ambil semua"

"Minta pada keluarga pasien" ucap dokter Aryan yang kini mulai panik.

"Hanya nyonya buenavista yang golongannya sama dengan pasien dok" ucap perawat laki laki.

"Minta padanya"

"Tidak bisa dok, nyonya buenavista menderita darah rendah"

"Oh shit" ucap pelan dokter Aryan.

...

Kini afan telah berada di ruang rawat jalan, operasi telah selesai di lakukan. Keluarga buenavista sangat senang dan juga tenang mendengar keadaan ini.

"Jangan biarkan afan berdekatan dengan anak itu lagi by" ucap mami pada eby yang tengah memegang rambutnya yang tak lurus.

"Terserah mami" eby meninggalkan keluarga itu karena dirinya merasa sangat pusing.

Taklama dokter keluar dari ruangan dengan senyum lebar untuk mengabari mereka.

"Tuan nyonya afan telah sadar kalau ingin menemuinya bisa tapi jangan berisik yah" lalu dokter itu meninggalkan mereka.

" sinarpun bisa meredup karena halangan awan"

MATAHARIMUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang