08 - Rufus - The Exact Same Eyes

95 27 1
                                        

Pembunuhan itu terjadi berulang-ulang di kepalaku seperti mimpi buruk.

Aku terbangun di sebuah barak. Memori-memori yang kusadari bukanlah bagian dari mimpi, menyeruak ke anganku. Beberapa saat lalu, setelah keluar dari tempatku disekap, secara misterius, bangunan itu meledak dan hancur. Kemudian beberapa orang yang hampir merupa bayangan hitam itu menyelamatkanku dan membawaku ke para tentara yang sudah mengepung area.

Salah satu dari bayangan itu memiliki mata berwarna biru gelap bak laut dalam. Mata itu menatapku tajam, terlihat dingin, namun sentuhan tangannya memperlakukanku dengan sangat baik.

Tuan Muda?

Aku yakin mata itu adalah milik Gilbert Meyer, tapi tidaklah mungkin itu terjadi, bukan?

Anak-anak orang kaya dan berkuasa seperti dirinya pastilah bekerja di bagian administrasi militer saja, bukan?

Bukankah ... itu yang kudengar dulu?

"Selamat pagi, Tuan Greenwell. Apa Anda sudah merasa lebih baik?"

Seorang pria yang sama dengan yang kemarin. Dia memperkenalkan dirinya Phill Cohen, seorang yang—sebagaimana seperti yang dia katakan saat memperkenalkan diri, adalah seorang yang akan bertanggungjawab atas diriku selama aku berada di rumah sakit ini.

Kemarin saat aku bangun pertama kali setelah pingsan, Tuan Cohen melakukan interogasi panjang atas apa saja yang sudah terjadi di kapal, penyerangan, dan penyiksaan. Untuk saat ini, dengan tubuhku yang hampir tidak bisa digerakkan, aku tidak bisa melakukan banyak untuk membantu penyelidikan. Yang bisa kulakukan hanyalah berusaha mengingat dan menjelaskan sedetail mungkin kepada Tuan Cohen mengenai apa yang telah terjadi.

"Ya, lumayan. Terima kasih atas perawatan yang sudah diberikan."

"Terima kasih atas kesetiaanmu pada negara."

Pagi ini, Tuan Cohen melanjutkan sesi interogasi terhadapku. Sekali lagi, aku berusaha keras mengingat-ingat apa yang sudah terjadi. Bagaimanapun, aku harus menyelesaikan interogasinya pagi ini untuk membantu para penyelidik. Tidak seperti kemarin yang masih dalam keadaan syok, hari ini aku merasa lebih pulih dan aku pasti bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tidak hampir pingsan di tengah perjalanan seperti kemarin.

"Jadi, apa hari ini kau bisa mengingat sesuatu yang lebih jelas mengenai apa yang terjadi? Detail sedikit pun akan membantu."

Aku menceritakan semua yang aku bisa ingat kemarin padanya. Masalah bagaimana Kapten memberiku izin untuk memegang kartu akses wakil kapten Edric, bagaimana penyerangan malam itu terjadi, kemudian sang Kapten terbunuh, kapal yang luluh lantak, penyanderaan oleh pihak penyerang, atribut orang-orang yang menangkapku, interogasi dan penyiksaan setelah aku tertangkap. Semuanya, hingga aku tidak yakin apa yang akan dia tanyakan lagi padaku hari ini.

"Pembicaraan kita hari ini sepertinya akan berakhir dengan cukup baik. Jadi, dari apa yang kaujelaskan, tujuan utama Mario Benilli adalah agar kau mengakses program yang belum dinyatakan lulus oleh negara dan meluncurkan misil percobaan itu ke pangkalan laut di pangkalan Tenggara?"

Aku mengangguk. "Aku sudah menjelaskan, meski mereka bisa membuatku melakukannya, karena hanya aku yang memiliki kodenya, program itu tidak akan bekerja karena program itu membutuhkan dua kode dan kode terakhir hanya diketahui oleh Kapten. Yang mana, tentu saja, aku tidak tahu."

Tuan Cohen menghela napas panjang dan mengetuk-ketukkan pen yang dia bawa ke atas layar tablet yang sedang ia gunakan.

"Pangkalan Laut Tenggara adalah yang terkuat di negara, tidak, jika dihitung armada dan kekuatannya, pangkalan kita adalah yang terbaik di benua ini. Dan malam itu, hampir sepertiga kapal induk dan mungkin setengah dari kapal utama, kapal selam, dan kapal amfibi baru di lepas dari Pangkalan Laut Tenggara untuk pertahanan dari serangan mendadak yang menimpa perairan di mana kapal kalian dan beberapa kapal lain diserang."

Her POV (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang