24 - Rufus - Canticle

65 20 0
                                        

"Tunggu, Tuan."

Pria berambut gelap ikal dan berjanggut tebal itu berbalik. Aku berlari kecil dan menyerahkan bungkusan miliknya yang tertinggal di stan roti kami. Tas kertas berisi seikat wortel gemuk khas hasil perkebunan keluarga Elk dan beberapa potong roti cokelat buatan Ophelia yang dibungkus awut-awutan.

"Saya sudah membetulkan bungkusan rotinya agar lebih rapi. Maafkan istri saya, kerajinan yang rapi seperti membungkus sesuatu bukanlah keahliannya."

Pria itu berpenampilan seperti petani pengangkut jerami yang kerap melewati Reins di musim gugur ini. Orang asing yang mampir untuk melihat perayaan panen. Dia meraihkan tangannya dan menerima kembali bungkusan miliknya yang hampir tertinggal tadi.

"Ah, terima kasih," katanya dengan suara serak. "Berapa saya harus membayar untuk roti-roti ini?"

"Tidak perlu, Tuan. Istri saya bilang, dia memberikannya untuk Anda secara cuma-cuma."

"Begitu?" katanya lagi sambil menundukkan kepala hingga topi yang ia kenakan menutupi sebagaian besar ekspresi apa pun yang ada di wajahnya. "Terima kasih, Tuan."

Dia mengangguk sekali dan memutar sepatunya untuk berjalan ke arah jalan utama di mana pria itu memarkirkan truk jerami miliknya

"Tuan?"

Pria itu menghentikan langkah, kemudian menoleh ke arahku tanpa menjawab apa pun.

"Apakah..." Aku menelan ludahku, mengumpulkan segenap keberanian dan memaksakan wajah bodohku untuk tersenyum ke arahnya. "Apakah Anda menikmati waktu Anda di Reins?"

Awalnya pria itu terlihat tidak memahami apa yang kuucapkan. Atau lebih tepatnya, kenapa aku menanyakan itu. Tapi dengan canggung, dia mencoba tersenyum dan mengangguk.

"Ya," katanya dengan nada yang jauh lebih santai daripada sebelum-sebelumnya, kemudian dia melihat ke arah perbukitan di mana matahari yang lelah mulai berpulang, meninggalkan langit dengan jingga dan merah muda. "Tempat ini sangat indah, memiliki hasil perkebunan yang subur, warganya ramah dan hangat." Kemudian pria itu mengalihkan matanya kembali ke arahku. Aku tidak bisa melihat matanya dengan jelas dibalik kacamata itu, tapi kurasa tadi berwarna hijau, atau cokelat. "Anda juga memiliki istri yang baik dan sangat cantik."

"Saya tahu, saya tidak pantas mendapatkan dirinya."

Kami saling menukar tawa canggung.

"Apakah Tuan dan Nyonya Meyer sehat-sehat saja, Tuan Muda?"

Satu pertanyaan itu akhirnya yang lolos dari mulutku alih-alih kenapa Anda datang dengan berpakaian seperti itu, atau kenapa Anda baru datang untuk mengunjungi Ophelia, atau ratusan lainnya saat aku pertama kali melihat sosok pria yang diajari menari oleh istriku.

Tuan Muda Meyer selalu berdiri tegap, gagah, memiliki mata yang tajam, ucapan yang tegas dan aura yang mendominasi di seluruh ruangan. Dia tidak akan memberikan satu saja kesempatan untuk semua orang di sekitarnya mengolok dirinya atau keluarga Meyer dengan memberi mereka celah. Tapi pria berpakaian sederhana itu; kemeja flanel lusuh dan celana denim murahan itu, punggung terlihat lelah dan selalu menundukkan kepala, sama sekali bukanlah Tuan Muda yang pernah kukenal. Sosoknya saat ini terlihat seperti pria paruh baya biasa yang hidup dengan bekerja keras; berkebun dan beternak. Belum lagi janggutnya yang berantakan menyembunyikan rahang, kacamata tebal, lensa kontak dan topi itu.

Aku tahu, Tuan Muda Meyer adalah seorang yang berbakat dalam banyak hal, tapi aku tidak tahu dia bisa mendalami akting sebagai seorang petani sehebat ini.

"Kau ... sudah tahu, ternyata."

Bagaimana aku bisa tidak mengenalimu?

"Apakah ... Ophelia juga tahu?" tanya pria itu kemudian setelah menghela napas panjang.

Her POV (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang