09 - Gilbert - A Good Girl

118 23 0
                                        

Aku tidak menikmati diriku sendiri saat aku menyakiti orang lain.

Aku bukan seorang psikopat.

Aku tidak berkelainan jiwa.

"Kau mau pergi ke mana, Vlad?"

"Ke suatu tempat. Besok malam aku akan kembali."

Malam itu aku pulang ke mansion Meyer. Setelah kematian Pappa-nya, Ophelia akan tinggal di naungan keluarga kami mulai malam itu. Pemakaman Mario selesai dilaksanakan seminggu lalu dan kastel keluarga Benilli dikosongkan sejak saat itu. Madam Gwen mengantarkan Ophelia ke mansion keluarga Meyer dengan sedikit barang bawaan. Barang-barang lainnya sudah dipindahkan dengan jasa angkut. Kudengar, Ophie hanya membawa beberapa kardus berukuran tanggung yang berisi buku-buku, sekardus kecil berisi pakaian sekardus lagi beberapa pasang sepatu dan aksesoris. Jumlah itu jauh dari wajar, mengingat bagaimana anggota keluarga Benilli hidup dalam kemewahan, bergelimang harta benda, layaknya hidup  seorang Bangsawan sejati.

"Gill!"

Gadis itu berlari, kemudian melakukan courtesy, sebelum akhirnya memelukku pas setelah aku menunduk untuk membalas salam sopannya. Aku bahkan belum melihat dengan jelas bagaimana wajahnya sekarang. Yang jelas, Ophelia tidak mendapatkan tinggi tubuh dari Madam Selene yang tinggi kurus. Di pelukanku, jika aku tidak menunduk dan mengangkat tubuhnya hingga ia berjinjit—melayang, aku tidak akan bisa mencium pundaknya. Dan sensasi lembut dan empuk di mana-mana ini sangat tidak cocok untuk mengkategorikan Ophie sebagai kurus-tinggi seperti ibunya. Bau bunga wangi semerbak meliputi indera penciumanku begitu aku menyesakkan kepalaku di antara rambut cokelatnya yang terurai indah. Dia menangis. Tubuh kecil itu gemetaran di tanganku.

"Selamat datang, Gill."

Aku akan membunuh siapa pun demi gadis ini.

"Aku pulang, Ophie."

Apa yang sedang kupikirkan?

Rambut halus yang terurai di antara sela jemariku, suara napasnya, detak jantungnya, caranya menangis saat melihatku pulang dengan selamat.

Oh, Ophelia.

"Maaf, aku baru bisa pulang setelah apa yang sudah terjadi padamu."

Gadis itu menggeleng dan mempererat pelukannya.

"Tidak apa-apa, Gill. Kami semua tahu, kau sedang melakukan yang terbaik di luar sana," ucapnya sambil melepaskan pelukannya dariku untuk mengusap air matanya sendiri. "Pappa dan Mamma pasti memahaminya juga dari surga."

Manis sekali.

Dia mengatakan semua itu pada seseorang yang merenggut nyawa ayahnya.

Lihat aku yang sedang kaubunuh ini, budak tidak tahu diri!

Hentikan, Mario.

Lihatlah aku. Aku akan hidup di dalam kepalamu dan menghantuimu untuk selamanya!

Andai dia tahu.

Ah, dia tidak akan tahu. Aku akan menyobek mulut siapa pun yang cukup bodoh untuk menghasut Ophie kecilku ini dengan membisikkan sedikit saja kejujuran.

Dia tidak boleh tahu.

Dia tidak akan tahu.

Seperti bagaimana aku mengambil beberapa barang miliknya. Aku mengambil nyawa ayahnya juga. Dia tidak akan tahu bahwa aku memiliki barang-barang berharga miliknya, sementara mata itu masih akan melihatku dengan penuh harap dan kasih sayang.

Sungguh gadis kecil yang manis.

"Gill?"

Keberadaan Ophelia terkadang membuatku takut. Perangainya pendek, mungkin hanya sekitar lima kaki sekian. Matanya berwarna emas, berkilat-kikat indah, sarat akan kepolosan di sana. Dia sudah bukan anak kecil berusia sepuluh tahun lagi. Dia adalah wanita dewasa sekarang. Tubuhnya sudah ....

Her POV (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang