Aku akan mencintai gadis itu.
"Bayinya perempuan!"
"Kata dokter dia sangat kecil, tapi syukurlah Putri kecil kita terlahir dengan sehat!"
"Apakah kalian melihat wajahnya? Dia sangat cantik. Menyerupai wajah Nyonya Selene."
"Sungguh? Aku ingin melihatnya! Semua orang membicarakan sang putri tanpa henti! Dia pasti lucu sekali!"
Saat gadis itu lahir, semua orang tertawa. Gadis itu menyirami mereka dengan kebahagiaan dengan kedatangannya.
"Tuan besar menamai taman di bagian tenggara dengan nama sang Putri. Tuan Besar memintaku untuk mendekorasinya untuk sang Putri bermain saat dia besar nanti. Aku memiliki beberapa ide. Itu akan membuatku sangat sibuk untuk beberapa bulan ke depan."
Bahkan Ayah menjadi sangat antusias. Ayah yang tidak pernah terlihat menaikkan sudut bibirnya di sekitarku. Sekali pun tidak. Karena itu, saat tawa Ayah merekah, pipinya yang biasanya pucat kini terlihat merona. Dia terlihat lebih sehat daripada kemarin-kemarin. Aku bahkan baru tahu, pundak Ayah akan naik turun seperti itu saat dia tertawa. Semua itu berkat sang Tuan Putri.
Sudah beberapa bulan berlalu sejak kehadian La Principessa, begitulah kami, para buruh, memanggil anak tunggal dari keluarga Benilli dimana kami bekerja di hampir seluruh hidup kami. Ayahku yang sudah mendedikasikan dirinya bekerja sebagai tukang kebun keluarga ini sejak aku belum lahir. Begitu pin bibi-bibi di dapur dan paman-paman lainnya. Kami semua benar-benar menjadi sangat sibuk seperti kata Ayah selama sebulan ini. Mansion kami terasa lebih hidup dan itu rasanya menyenangkan.
Belakangan aku kerap tinggal di rumah sendirian hingga malam. Ayah benar-benar sibuk melakukan banyak hal untuk taman milik La Principessa. Rumahku terletak di perumahan kecil tak jauh di samping bukit di mana mansion utama keluarga Benilli berdiri. Tempat ini tidak lagi ramai ketika aku pulang. Baik Ayah Paman-paman dan Bibi-bibi yang bekerja belakangan disibukkan dengan banyak hal yang berkaitan dengan La Principessa dan pulang lebih malam dari pada biasanya.
Tidak ada yang menyambut saat aku masuk ke dalam rumah kecil kami ketika aku masuk ke dalam rumah. Lampunya mati dan hawanya dingin. Rumah ini tidak lebar. Hanya ada dua kamar di setiap rumah satu kamar mandi di belakang rumah dan khusus di rumahku, kami memiliki gudang jerami di halaman belakang rumah kami. Kamar Ayah terletak di paling dekat dengan pintu masuk, sedangkan yang berada di dekat perapian adalah kamar Ibu. Kamar itu sudah kosong sejak ibu meninggal karena melahirkanku. Dan ayah melarangku untuk memasuki ruangan wanita yang sangat dia cintai itu.
"Kau akan mengotorinya nanti!!" katanya dulu.
Aku mandi dengan air dingin, meski ini adalah bulan November. Persediaan kayu menipis, dan mungkin hanya tersisa untuk beberapa malam. Ayah akan sangat lelah ketika pulang, jadi biar Ayah saja yang menggunakannya untuk menghangatkan diri sebelum pergi tidur. Tapi hari itu benar-benar dingin. Hewan-hewan kecil di hutan dan burung-burung sudah mulai bersembunyi di rumah mereka, bersiap untuk menyambut musim dingin.
Tempatku tidur sangat dingin. Karena tidak ada ruangan yang tersisa, aku tidur bersama Oscar, kuda milik Tuan Besar yang istalnya ada di belakang rumah kami, di gudang jerami kataku tadi. Biasanya aku bisa bertahan di malam-malam musim dingin dengan meringkuk di dekat Oscar, tapi malam ini aku tidak bisa berhenti menggigil. Aku sudah menutup pintu dan membungkus tubuhku dengan selimut. Tapi dingin masih merayapiku, seperti jari-jari hantu salju yang akan menculik anak kecil. Karena rasanya sudah tidak tahan lagi, aku memberanikan diri untuk turun dari tumpukan jerami dan pergi kembali ke dalam rumah.
Ayah belum datang saat aku masuk kembali ke dalam, sedangkan jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tidak mungkin Ayah masih bekerja. Mungkin Ayah sedang menghabiskan waktu bersama teman-temannya di bar di bawah bukit. Tubuhku merinding memikirkan bahwa Ayah akan pulang dalam keadaan mabuk. Bayangan bentuk pukulan tangan Ayah yang terayun ke arahku membuat punggungku menjadi tegak. Ah, sebaiknya aku tidak mrmikirkannya untuk saat ini. Aku sekarang berdiri di depan pintu ruangan Ibu. Wanita yang tidak pernah aku kenali. Wanita yang meninggal karena aku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Her POV (COMPLETED)
Storie d'amoreDia cantik, tubuhnya molek, rambutnya indah, matanya memukau. Dia berasal dari keluarga terpandang. Sikapnya anggun dan selalu berpakaian dengan santun. Senyumnya ramah, dan semua orang mencintainya. Tapi kemudian, kami menghancurkan dunianya yang g...
