15 - Gilbert - The Dream

69 16 0
                                        

Semuanya putih. Ke mana pun aku memandang, semuanya putih.

Ah, aku sedang memimpikan mimpi ini lagi.

Lelah, aku merebah di atas putih. Mengambang seperti di atas air, meski tidak ada yang terasa basah. Langit itu putih, terang, menyilaukan. Aku tidak tahu, kenapa aku sering sekali mengunjungi tempat ini.

Lalu sebentar lagi, mereka akan datang.

Suara tawa bersahutan dari kejauhan. Itu dia, awal dari cerita pendek yang sudah kuhapal ini. Bagaimana tidak, aku kerap melihat adegan ini selama bertahun-tahun. Suara itu milik seorang gadis kecil dan seorang anak lelaki yang terlihat seperti kakak laki-lakinya.

Nah, itu mereka.

Seorang gadis kecil berlarian, melewatiku begitu saja, seakan dia tidak melihatku. Omong kosong, dia memanglah tidak melihatku. Rambut cokelat terangnya yang terurai panjang menari-nari terterpa angin. Nyaris pirang. Gaun motif bunga-bunga melompat-lompat malu menutupi kaki kecil si gadis di setiap langkah yang ia buat. Menyusul di belakang si gadis, seorang bocah laki-laki, terlihat sudah hampir remaja, membuka kedua tangan ke arah si gadis, masih mengejar gadis yang berlarian itu. Rambutnya hitam, dipotong rapi, mengenakan pakaian yang terlihat mewah, seperti anak seorang bangsawan.

"Ophie, ini sudah malam! Mau ke mana kau pergi malam-malam begini?"

"Jangan bersuara keras, Gill. Ibunda akan marah jika tahu kita melarikan diri dari kamar tidur."

Aku menatap dua sosok itu berlarian. Toh, secepat apa pun mereka berlari, pandanganku akan terus berada di dekat mereka. Bagaimana memangnya aku bisa melupakan malam itu?

"Rufus bilang padaku bahwa pertengahan bulan seperti ini, bunga Delphinium-sesuatu, aku tidak terlalu ingat— akan mekar dengan penuh di malam hari."

"Hm, jadi kauingin membawaku melihat bunga yang mekar di malam hari?" Diriku yang masih muda meraih tangan kecil Ophelia, dan menahannya agar tidak terus berlari. "Jika kita meminta izin pada Madam Selene dengan baik, beliau pasti akan memberi izin. Dia akan meminta orang untuk membawa lampu sehingga kita bisa melihat bunga yang kaumaksud itu dengan lebih baik."

Ophelia menggeleng kemudian menunjuk hamparan bunga yang sedang mekar di dekat kakinya.

"Aku hanya ingin Gill yang tahu," katanya sambil berbisik, seperti mengungkapkan sebuah rahasia-rahasia dunia yang berbahaya. "Bunga ini istimewa, lihatlah!"

Warnanya biru. Biru yang sangat kontras jika dibandingkan segala putih yang ada di sekitar mereka. Warnanya biru gelap, kelam sekali, seperti bunga-bunga itu bisa menghipnotismu dan menyeretmu dalam gelap pekat ketiadaan.

"Warnanya seperti warna mata Gill, bukan?" ucap Ophelia tertawa. "Karena itu aku menyukai bunga ini. Warnanya istimewa, seperti warna mata Gilbert yang mirip dengan Mikaela! Sangat cantik!"

Itu sangat manis untuk dikatakan, Ophie.

Kemudian dari kejauhan, sebuah rombongan melewati semak, menyibakkan putih menunjukkan warna mereka.

"Maafkan saya menganggu waktu tidur Anda, Nyonya."

"Jangan meminta maaf, Gwen. Kita harus cepat-cepat sebelum anak malang itu tidak selamat."

Waktu itu, aku dan Ophelia kecil kaget melihat Madam Selene dan Mada Gwen berada di sana, mengendap-endap. Kami sangat penasaran dengan apa yang terjadi hingga kedua wanita itu berada di tempat seperti ini di malan hari. Kami dengan sangat hati-hati mengikuti mereka untuk masuk pada sebuah pondok kecil yang kembar dengan pondok-pondok kecil lain, yang tak lain adalah jajaran rumah-rumah pekerja keluarga Benilli.

Her POV (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang