"Tuan Muda akan beristirahat selama dua jam. Silakan menunggu di ruang perjamuan. Kami sudah menyiapkan makan malam."
Zein juga belum makan. Dia menemaniku sejak pagi tadi dan hingga saat ini, aku tidak ingat sudah melihat pria itu memasukkan sesuatu dalam mulutnya. Sepertinya, Zein belum dia memakan sesuatu sepanjang hari. Ah, tidak berubah. Dia selalu seperti itu.
"Silakan beristirahat, Tuan Muda," ucap Zein seraya menutup pintu ruangan dan berjalan ke arahku untuk menutup gorden.
"Kau juga beristirahatlah, Zein. Kau sudah bisa meninggalkanku sendiri. Seperti yang bisa kaulihat, aku sudah baik-baik saja."
Tapi Zein tidak terlihat setuju dengan kalimatku. Dia tetap dengan sopan menunduk ke arahku setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Saya akan menunggu di luar jika Anda merasa terganggu dengan kehadiran saya di sini."
"Bukan, bukan terganggu. Kau belum makan apa pun sejak pagi. Karena itu, pergilah untuk makan malam."
Zein terlihat terkejut. Dia menegakkan punggungnya dan menatap lekat-lekat ke arahku, seakan dia baru saja mendengar aku akan pergi ke bulan malam ini. Apa mungkin dia tidak menyangka aku akan menyadari apa saja yang dia lakukan seharian? Zein kemudian tertawa kecil.
"Saya tidak tahu, sejak kapan Anda begitu peduli pada saya."
Lihat, betapa menyebalkannya pria ini.
"Memang tidak," ucapku santai.
Kemudian hening, senyum bodoh masih terpampang di wajah Zein. Pria itu kemudian kembali sedikit merundukkan punggungnya dan tersenyum.
"Terima kasih atas kepedulian Anda kepada saya, Tuan Muda. Berkat kebaikan Anda, saya tidak melewatkan makan malam saya."
Ah, benar juga. Ada beberapa waktu saat rapat internal perusahaan, aku meminta semua orang yang tidak berkepentingan untuk pergi. Sepertinya saat itu Zein juga keluar.
"Bagaimana dengan Ibunda? Apa beliau mendapatkan istirahat yang cukup hari ini?"
"Saya mendengar dari Madam Gwen bahwa Nyonya Besar baru saja tertidur setelah Tuan Besar mengunjungi beliau siang tadi. Jika sesuai jadwal reguler, harusnya malam ini Nyonya Besar hanya akan tinggal di ruangan untuk beristirahat atau mengunjungi sayap utara di kediaman Nona Benilli."
Hari ini adalah hari istirahat Ibunda? Ah, aku mengacau di waktu yang tidak tepat.
"Hm? Tunggu. Ayahanda pulang?"
"Iya, beliau sampai di mansion siang tadi dan sedang menyantap makan siang bersama Nona Benilli."
Ophelia bersantap bersama Ayah? Mereka berdua saja?
"Tuan hendak ke mana?" tanya Zein saat melihatku menyingkap selimut dan berjalan ke arah walk in closet.
"Kau bisa menemaniku berkunjung ke ruangan Ibunda," ucapku seraya merapatkan sabuk jubah tidur yang kukenakan dan berganti pakaian yang lebih layak. "Setelah itu, tolong tinggalkan kami berdua. Dan kau bisa bersantai hingga aku memanggilmu kembali."
Zein tidak terlihat senang dengan keputusanku itu. Dia tidak menjawab dengan semangat. Pria itu hanya menunduk hormat dan mengikutiku dengan patuh.
Reaksi yang wajar.
"Tuan Muda?" sapa seorang pelayan perempuan muda yang berjaga di depan kamar Ibunda. Gadis itu terlihat panik setelah melihat sosokku dan Zein muncul dari gelapnya lorong.
"Apakah Ibunda ada di dalam?"
"I-iya, Tuan Muda. Apakah Anda bermaksud untuk mengunjungi Nyonya-?"
"Yvonne, apakah itu suara anakku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Her POV (COMPLETED)
RomanceDia cantik, tubuhnya molek, rambutnya indah, matanya memukau. Dia berasal dari keluarga terpandang. Sikapnya anggun dan selalu berpakaian dengan santun. Senyumnya ramah, dan semua orang mencintainya. Tapi kemudian, kami menghancurkan dunianya yang g...
