Kupikir summer camp akan memberiku pelatihan menjadi super hero. Tapi nyatanya memang aku saja yang bodoh, berpikir bahwa aku bisa menjadi salah satunya.
Timothy tidak datang ke summer camp, akhirnya. Tim tidak bilang apa-apa. Tapi pasti ini ada kaitannya dengan masalah sang ibu. Karena Tim tidak ada, aku pastinya sendirian. Teman laki-laki di kelasku tidak ada yang ingin berbicara denganku, karena aku hanya bisa berteman dengan Tim yang selalu membuat mereka kesal. Sedangkan anak-anak perempuan jelas membenciku karena mereka semua berteman dengan Katarina yang sangat membenciku.
Summer camp ini diadakan di semacam desa kecil seperti di Reins dulu. Tapi tidak ada banyak rumah, dan tempat ini berada di tengah hutan. Ini berada di tengah perbukitan. Yang ada di sini bukan hanya murid-murid dari sekolahku. Ada komunitas dari gereja juga. Dan orang-orang di luar sekolahku bersikap sangat baik kepadaku. Kami melakukan banyak kegiatan selama beberapa hari acara ini dilaksanakan. Olahraga, membuat prakarya dan banyak lainnya. Pada dasarnya, aku hanya melakukan apa yang dulu sering kulakukan bersama Ayah.
"Bagaimana dengan talent show nanti malam?"
"Acara kelas kita akan bernyanyi."
"Diego akan bermain gitar! Dia keren sekali!"
"Kudengar Katarina akan bernyanyi."
"Aku iri! Mereka serasi sekali."
Aku akan menjadi penonton yang baik, kalau begitu. Aku tidak memiliki bakat apa-apa. Dan toh, meski aku punya sekali pun, tidak akan ada yang mau bicara denganku untuk tampil bersama.
"Bertram?"
"Ya, Susie?"
"Bisakah kau membantu kami mengambil kayu bersama anak-anak lainnya? Karena hujan yang tidak terduga beberapa hari lalu, ada beberapa simpanan kayu bakar yang tidak bisa digunakan. Jadi, kita terpaksa harus mencarinya sore ini."
"Ah! Tentu! Siang hari tadi panas sekali. Pasti ada banyak dahan pohon yang bisa kita pakai di hutan."
"Terima kasih, Bertram!"
Saat ini Timothy pasti akan mengataiku bodoh atau semacamnya karena aku lagi-lagi hanya akan melakukan pekerjaan yang berat-berat, sementara orang lain yang akan bersenang-senang dengan santai karena aku telah melakukan tugas mereka.
Sejujurnya ... sungguh, aku tidak mengapa. Mungkin karena aku tumbuh besar di desa, aku tidak terbiasa dengan mata-mata orang asing yang melihat ke arahku seperti teman-temanku saat ini. Aku lebih memilih untuk mencari kayu, membersihkan ruangan, membuang sampah atau pekerjaan semacamnya.
Tanpa kusadari, kayu yang akan aku pungut diinjak oleh seseorang. Sepatu anak perempuan. Saat aku mendongak, itu adalah Katarina. Apa Katarina juga sedang membantu mengumpulkan kayu? Ternyata ... dia juga mau melakukan pekerjaan semacam ini.
"Apa yang sedang kaulihat, bodoh!"
Kita tidak tahu dia benar-benar membencimu atau dia seperti itu karena ingin bicara padamu.
Entah kenapa, tiba-tiba aku mengingat apa yang dikatakan Tim kepadaku.
Kalimat itu adalah kata-kata ajaib. Setelah mengingatnya, tidak ada perasaan buruk yang tersisa. Aku mengambil dahan pohon yang hampir patah karena diinjak oleh Katarina itu, kemudian berbalik untuk mencari dahan pohon lainnya.
"Kau mengacuhkanku?"
Langkahku terhenti lalu aku menoleh padanya. Mata Katarina berwarna biru, rambutnya pirang. Dia memang cantik sekali. Tidak heran semua orang menyukainya.
"Sini, kemarikan kayu yang kaubawa," kataku padanya.
"Kenapa memangnya? Supaya kau bisa menunjukkan pada Susie dan kakak pembimbing lainnya jika kau mengambil banyak kayu? Tidak akan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Her POV (COMPLETED)
RomanceDia cantik, tubuhnya molek, rambutnya indah, matanya memukau. Dia berasal dari keluarga terpandang. Sikapnya anggun dan selalu berpakaian dengan santun. Senyumnya ramah, dan semua orang mencintainya. Tapi kemudian, kami menghancurkan dunianya yang g...
