05 - Gilbert - The War

119 30 2
                                        

Wanita gila itu tersenyum saat memerintah anak buahnya untuk membunuh tukang kebun itu.

Apakah dia juga membuat senyum yang sama saat membayar seorang anak kecil untuk menusuk perut Ibunda?

"Gill? Apa kau sedang sibuk?"

"Tidak, Ophie. Kenapa? Apa ada yang bisa kubantu?"

Anak perempuan berumur tiga belas, apa yang kiranya dia ingin kulakukan untuknya? Aku bermain dengannya. Entah karena satu-satunya teman yang ia miliki sedang mendapat musibah dan dirawat di rumah sakit, atau hanya karena Ophelia sudah tumbuh lebih dewasa dibanding terakhir aku melihat dia, tapi perilaku gadis itu kini berbeda. Ophelia tidak terlihat antusias terhadap hal-hal kecil lagi seperti dulu, dia terlihat lebih tenang, dan sering melamun. Meski itu tidak mengubah fakta bahwa dia masih tetaplah anak kecil. Ketika aku memainkan trik-trik sulap murahan, dia akan tertawa dan bertepuk tangan. Kemudian, aku akan membujuknya untuk membaca buku bersama saat aku sudah lelah. Beruntung, Ophie bukan anak yang susah diatur. Dia juga suka sangat suka membaca. Dan merupakan seorang pembaca yang relatif cepat untuk anak seusianya.

Meski bagaimana pun aku berusaha, aku tidak bisa mengacuhkan kantung mata yang muncul di wajah elok gadis itu. Dan penyebabnya hanya satu orang.

"Rufus Greenwell," ucap Ben terngiang di kepalaku, "adalah anak tunggal dari pernikahan antara Jake Greenwell dan Marienne Grace. Marienne masih berusia empat belas saat perempuan itu menikah dengan Jake. Orang tua Marienne langsung menikahkan gadis itu dengan Jake karena dia sedang mengandung. Jake melecehkan perempuan itu. Dikatakan orang-orang desa sekitar bahwa Marienne meninggal karena kekurangan gizi, stres yang berkepanjangan, dan syok berat pasca-melahirkan. Dan dari informasi yang saya dapatkan, bisa dibilang, Jake bukan sosok suami terbaik yang bisa digambarkan."

Dia, bocah itu, Rufus, bisa jadi berakhir seperti aku di jalanan. Atau mungkin tidak. Dia masih memiliki ayah. Ayah yang seperti setan. Pria gila itu memukuli anak kandungnya sendiri. Aku melirik Ophelia yang masih membaca dengan serius sambil merebahkan tubuhnya, bersandar di sebuah boneka kelinci besar sebelah lenganku.

Anak gadis yang memiliki derajat tinggi dan secantik Ophelia menangis untuk seorang pemuda lusuh, yang selalu menunduk, anak seorang tukang kebun yang tangannya selalu kotor dengan lumpur dan tanah.

Pemuda itu tidak memiliki hak sedikit pun untuk memiliki emas yang diperebutkan oleh para raja.

Ambil, Gilbert.

Simpan untuk dirimu sendiri.

Kau adalah kandidat terkuat yang bisa memiliknya.

Kau akan memiliki segalanya jika kau berhasil mengeklaim gadis ini sebagai milikmu.

Dia harus dijauhkan dari perempuan gila yang tersenyum saat memerintahkan seseorang untuk menyakiti, bahkan mengambil nyawa orang lain. Perempuan gila yang belakangan ini tersenyum ke arahmu dalam mimpi-mimpi burukmu, Gilbert.

"Gill? Gilbert?"

Mataku mengerjap, kemudian menunduk untuk melihat Ophelia yang sedang mengawasiku dengan wajah khawatir.

"Ekspresi wajahmu barusan terlihat sangat menakutkan," ucapnya lagi.

"Ah, maaf, ada yang sedang kupikirkan."

Mata emas dan bulu mata lentik itu masih tidak terlihat puas dengan jawabanku. Tapi bibir merupa kelopak bunga mawar ranum itu bungkam.

Tunggu.

Apa aku baru saja menggambarkan anak di bawah umur dengan hal-hal yang tidak masuk akal?

Aku sudah gila.

Her POV (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang