Aku sudah mendapatkan maaf keduanya, setelah meminta maaf berjam jam, sekaligus mendapat gratis ceramah panjang lebar, kak Kafkah, dan kak Zains, semalaman, yang aku balas dengan anggukan, mengatakan iya, atau menunduk takut.
Yah..!, aku tidak akan diam lagi, kalau orang orang membuly atau mencemoohku aku akan melawan, dan membalasnya, karna kalau tidak, kak kafkalah yang akan menghadapinya.
Aku tidak mau kejadian kemarin, terulang kembali!.
****
Hari ini aku berangkat kesekolah seperti biasanya, tetapi kenapa?, selama beberapa hari ini orang orang yang aku temui sepanjang perjalanan, memandangku aneh, seperti saat ini aku berjalanan di koridor sekolah, menuju kelasku, mereka memandangku segan, takut, dan aku tidak suka itu!!.
Aku ingin di pandang orang orang biasa saja, mengacuhkan kehadiranku, atau bahkan menganggapku tidak ada.
Aku risih di perlakukan seperti itu, bahkan ada juga yang menjaga jarak dariku, seakan aku ini adalah virus yang harus di hindari.
Ini semua gara gara kak Kafkah dan kak Zains.
"Aku benci benci... benci...!!".
****
"Billa kamu tidak merasa orang orang di sekitar kita aneh?", tanyaku saat istirahat jam kedua, saat ini kami berada di taman belakang, menghabiskan bekalku bersama, seperti biasanya.
Bila tidak lagi mau makan siang dengan kak Dika, takut meninggalkanku sendirian katanya, yang membuat kak Dika uring uringan juga karna di acuhkan.
"Biasa saja..", jawabnya acuh tak acuh, aku memandangnya gemmes, jengah di pandang begitu Bila melanjutkan perkataannya, "bukannya bagus yah!, mereka sudah tidak mengganggu kamu lagi, Raniah!", Bila juga membalas memandangku gemmes, aku cemberut.
"Tapi yah nggak segitunya juga kali Bila, malah ada yang menjaga jarak dariku, dua meteran sih tidak apa apa, pernah aku berjalan hampir bersamaan dengan senior, eh dia memperlambat langkanya sampai jarak kami sepuluh meter, lalu berjalan normal lagi setelah meyakini aku jauh dari jangkauannya!", curhatku panjang lebar yang di sambut kekehan olehnya.
"Terima saja Raniah, mungkin lama kelamaan, akan berjalan seperti biasa lagi!", katanya bijak sana, menghiburku.
"Semoga..", doaku dalam hati.
*****
Dua minggu sudah aku di perlakukan seperti itu, oleh teman teman sekolahku, dan sekarang Andien dan kawan kawanya sudah mulai masuk sekolah, masa skorsing mereka telah habis, dan kelakuan mereka tidak jauh berbeda dengan teman teman yang lainnya.
Mereka menjaga jarak denganku, bahkan Andin yang hampir setiap hari mencari masalah denganku, tidak ayal juga lebih menghindariku jika secara tidak sengaja kami bertemu di koridor, kantin, taman, bahkan perpustakaan, pernah aku duduk di sebelahnya, walaupun ada satu murid yang memisahkan kami, dia lebih memilih pindah dan duduk di bangku paling ujung perpustakaan, menghindariku. sekarang sudah tidak ada lagi buly, tidak ada lagi yang tega teganya menggantung sepedaku di atas pohon, menghempeskannya, bahkan perna suatu hari tinggal rangkanya di parkiran, kedua bannya entah kemana, tidak ada lagi yang mencemooh, dan meneriakiku, anak pembantu, seharusnya aku harus berterimah kasih kepada kak Kafkah dan kak Zains, tapi reaksi teman temanku sangat di luar dugaanku, dan semoga perkataan Bila benar, bahwa lama kelamaan keadaannya akan berjalan nornal lagi.
*****
Sepanjang pelajaran di mulai, aku tidak fokus pikiranku tidak ada di sekolah melainkan di Bandara, kak kafkah kak Aira dan yang lainnya, hari ini berangkat ke Turki, sebenarnya aku ingin bolos, ingin mengantar mereka kebandara tapi kak kafkah sudah mewanti wantiku ,tidak ada kata bolos, jadilah aku di sini duduk mematung memandang kosong papantulis.
Kak Airin telah pergi, tidak ada lagi tempatku berkeluh kesah.
Sebuah tepukan dari arah sampingku membuyarkan lamunanku, Bila menunjuk kearah depan dimana Ibu Maria berdiri memandangku, heran karna tidak biasanya aku seperti ini.
"Kalau tidak enak badan, silahkan ke UKS, Raniah, sedari tadi Ibu perhatikan kamu tidak fokus..", katanya, bijak, memang dia ibu Guru yang baik, biasanya yah, pasti kalau ada murid yang ketahuan melamun pasti di lempari dulu dengan papan tulis, hiahh... parahh. parah... enggak dong... spidol atau penghapus, yang kecil kecil saja itumah ceritanya enggak masuk UKS, malah masuk UGD, abaikan!!.
Yang segera aku angguki, berdirih, keluar dari kelas berjalan kearah ruang UKS berada, di ujung koridor sebelah barat melewati lapangan olahraga
Sedikit tidur mungkin mengurangi kesedihanku, di tinggal kak Aira dan yang lain.
Aku, Ibu dan Bapak' masih tinggal di rumah biasa kami tidak pindah, kami menjaga, dan merawat rumah mereka.
Jika sewaktu waktu, mereka tiba tiba pulang keindonesia, atau hanya sekedar berkunjung.
Aku tidak menyadari bahwa sedari tadi aku melamun, sambil berjalan.
Saat ini aku tengah menubruk sesorang.
Ya Tuhan.., aku tidak sadar kalau aku sudah berbelok masuk kedalam lapangan, di tengah tengahnya, di mana kakak kelas 12 tengah bermain futsal, dan saat ini kebetulan jam olahraga mereka dan parahnya lagi, orang yang aku tabrak adalah kak Rangga, aku yang tersadar dari lamunanku segerah membantu kak Rangga berdiri, menunduk memita maaf sebanyak tiga kali dan melanjutkan jalanku, tapi sayangnya aku menabrak orang sekali lagi, Salman sahabat kak Rangga aku menunduk lagi bergumam maaf sekali, dan melanjutkan perjalannanku.
"Aku benar benar tidak fokus hari ini dan kenapa UKS jauh sekali, dan kenapa pula harus melewati lapangan?, besok besok, kalau kak Zains berkunjunh keindonesia, aku akan meminta UKS di pindahkan kesamping kelasku!", gerutuku panjang lebar, berjalan dengan cepat ke UKS, Sebbal..
****
"Kenapa loh dari tadi uring uringan?", tanya Bila, saat ini kami ada di kantin.
Aku hanya memesan jus jeruk, sekarang moodku sangat jelek, untuk makan saja aku malas, sedangkan Bila tengah memakan baksonya dengan lahap di sampingnya kak Dika juga ikut memakan baksonya, menggeleng gelengkan kepalanya karna, saat ini Bila, berbicara sambil makan, dia terus mengingatkan Bila agar menelan dulu makanannya lalu bicara, takut keselek katanya, so sweet banget.
Aku menggeleng sebagai jawaban pertanyaan Bila.
"Dari tadi di tanya!, hannya menggeleng jawabanya, kau tidak punya mulut hah!", teriaknya mulai terpancing emosi, yang membuatku mengeluarkan Air mata seketika, pertahananku sejak tadi pagi runtuh.
Bila terdiam, melihat reaksiku, berdiri dari duduknya memelukku erat, sambil mengelus ngelus punggungku, menenangkan.
"Kak kafkah, kak Zains, semuanya pergi ke Turki", kataku akhirnya dengan sesenggukan, aku merasakan tubuh Bila menegang dalam pelukanku, tapi itu hanya sebentar, memang aku belum sempat memberitahukan kepergian kak kafkah dan yang lainnya, kepada Bila, karna kepergian mereka kali ini mendadak, jauh dari rencana sebelumnya.
"Sabar masi ada aku kok', lagian mereka pasti akan kembali", katanya menenangkanku, yang aku balas dengan anggukan.
Setelah aku tenang Bila mengajakku kembali kekelas, melupakan baksonya, kak Dika mengikuti kami dari belakang.
"Aku harus kuat, mereka pergi, untuk kembali!!", tegasku dalam hati, lagipula sekarang aku tidak sendiri, masih ada Ibu, Bapak dan Bila, toh selama ini kak Kafkah dan kak Rio ke Turki aku baik baik saja!!, masih ada telefon dan Internet yang menyambungkan kami.
***
Tinggalkan jejaknya yah...
#salamsayang.. :*
KAMU SEDANG MEMBACA
Raniah Hanum Suparman 2 {Story 8}
RomanceAku adalah Raniah Hanum Suparman, Anak dari sepasang Supir dan pembantu, Rumah Tangga, Aku Tidak perna Malu ataupun Minder atas caci maki Teman seangkatanku di sekolah, yang mengataiku hanya anak supir dan pembantu, Mereka yang Notabenenya adalah an...
