Kami mengelilingi kebun binatang, tidak terkecuali.
Aku sampai kerepotan menjawab dan menjelaskan semua pertanyaan, ajaibnya seperti, "Aunty mengapa Jerapa lehernya panjang?, mengapa pula gaja hidungnya panjang?, kenapa tidak lehernya saja yang panjang, seperti Jerapa?".
Pertanyaan yang ajaib kan, tidak mungkin anak seumurannya, bertanya sampai segitunya, paling mereka hanya bertanya itu apa?, makannya apa?, setelah kita menjawab, pasti mereka memandang objek yang di tanyakannya dengan mata berbinar binar, ini?.
Ingin rasanya aku meneriaki keduanya kalau itu sudah dari sannanya.
Tapi tetap saja aku menjawab, seadanya.
"Di namai Jerapa karna lehernya panjang, itu memudakhannya, untuk mengambil, dan memakan makanannya yang memang tinggi, yaitu dahan pohon, kalau lehernya pendek, bukan Jerapa namanya tapi Zebra atau Kudanil__" . belum aku membahas tentang gaja, Husain memprotes.
"Bukannya Kudanil itu gendut yah Aunty, sedangkan Jerapa kurus dan tinggi, jerapa juga tidak berkuban di lumpur, sedangkan kudanil kerjaannya malas malasan di dalam lumpur".
Itu protesan yang paling polos, yang perna aku temui, tidak tahu seorang yang mereka proteskan itu tengah kelabakan menahan emosi, dan malu, contonya aku ini, di tertawai oleh sepasang suami istri yang tepat berada di samping kami, menemani anak perempuannya, tidak lupa mata berbinar, mereka melihat kejeniusan si kembar.
Itukan, mereka tahu, tapi tetap saja bertanya, ingin rasanya aku menyekik leher mereka.
"Astagfirullahualazim, ya Allah, tabahkan lah aku..", doaku dalam hati.
Segera aku menarik keduanya pulang, sangat sangat melelahkan, dan menjengkelkan, tapi tetap saja aku menyayangi keduanya.
Ditengah perjalanan pulang mereka mengaduh lapar, aku lupa memberi makan mereka, saking asyiknya tadi.
"Yaampun.., bisa di gantung aku sama Kak Kafkah, karna membuat anak anaknya terancam memiliki penyakit busung lapar!!", dan dengan segera aku membelokkan kendaraanku menuju mall terdekat, mencari makanan, aku juga baru sadar kalau aku juga lapar hehe..
"Hasan, Husain mau makan apa sayang?", tanyaku lembut pada keduanya, setelah mendudukkan keduanya di sofa, salasatu cafe di dalam mall.
"Ayam goreng!, spageti, minumnya cola!!", teriak keduanya dengan semangat.
"Ok Aunty akan memesankanya, tunggu di sini, duduk dengan tenang kalau tidak Aunty tidak akan mengajak kalian jalan jalan lagi!", ancamku sadis, yang segerah di angguki keduanya, patuh.
Aku segerah pergi, kemeja sala seorang waites, memesan pesananku dan si kembar, cafe di sini memang di khuskan, pelanggan yang melayani dirinya sendiri, mirip di KFC atau CCF.
Dua pulu menit kemudian aku kembali, membawa pesananku, dan aku melihat mereka tidak sendiri, ada dua orang, laki laki dan perempuan, yang menemaninya, sang perempuan tengah mencubit pipi si kembar gemes, tidak lupa celotehan celotehan khas mereka.
Aku yakin, mereka menceritahan harinya di kebun binatang tadi, aku menggelengkan kepalaku maklum keduanya sangat imut dan tampan, campuran Turki, indonesia, Amerika, persis sang ayah.
Aku berjalan pelan kearah mereka, tidak mempedulihan kedua tamu tak di undang kami.
"Husain, Aunty, berubah pikiran, setelah Aunty, pikir pikir hari ini tidak ada spageti, kamu harus makan nasi setelah petualangan kita tadi, dan kamu lihat Aunty juga makan nasi, dan lagi spageti, tidak baik untuk kesehatan, tidak ada batahan!", tambahku melihat mimik cemberut Husain, sembari menyusun pesanan kami dengan cekatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Raniah Hanum Suparman 2 {Story 8}
RomansAku adalah Raniah Hanum Suparman, Anak dari sepasang Supir dan pembantu, Rumah Tangga, Aku Tidak perna Malu ataupun Minder atas caci maki Teman seangkatanku di sekolah, yang mengataiku hanya anak supir dan pembantu, Mereka yang Notabenenya adalah an...
