10. Penyemangat untuk bangkit.

7.2K 486 2
                                        

Seorang pemuda tampan menghampiri meja kami, membawa sebuah cangkit di tangannya.

"Pesanan anda Nona, secangkir kopi tampa gula".

  Aku mendongak melihat seorang pria, berpakaian rapi, aku tahu dia memakai jas tapi jasnya sudah di tanggalkan entah kemana.

"Subohanallah Hamdam..", kata kak Aira, setelah memperhatikan baik baik siapa laki laki yang menghampiri kami ini, yang di balasnya dengan tersenyum manis dan duduk di samping kak Aira.

"Apa kabar Mbak?", tanya yang di panggil, Hamdam ramah.

"Alhamdulillah, Mbak baik, Hamdam sendiri dan di mana Mas Kumis dan Istri?",

"Alhamdulillah baik Mbak, paman dan bibi juga baik, sekarang lagi pulang kampung di jokjakarta..", jelas Hamdam pada kak Aira.

"Hmm... warungnya tambah maju, jadi Restoran lagi", puji kak Aira tulus.

"Hehe.. ini juga berkat seorang yang dermawan Mbak", katanya sambil tersenyum misterius.

"Ehmm...", deheman keras, kak Jasmien mengingatkan kak Aira kalau kak Aira tidak sendiri disini, ada aku dan kak Jasmien.

Kak Aira, segera  mengenalkan kami dengan pemuda yang bernama Hamdam ini, dia menelungkupkan kedua tangannya di depan dada memperkenalkan namanya, begitu pun denganku dan kak Jasmien.

Saat kak Aira, akan membayar tagihannya, kata Sang kasir, sudah ada yang membayar tagihannya.

kak Aira, mengalihkan pandanganya, pada  Hamdam, seakan bertanya, siapa yang melakukannya.

Hamdam, hanya mengankat kedua bahunya tanda dia juga tidak tahu.

"Katakan saja kepada orang yang telah membayarkan pesanan kami, semoga Allah membalasnya", pesan kak Aira akhirnya, pada sang kasir yang di balasnya dengan tersenyum manis dan mengangguk, mengerti.

Bererti benar seorang tengah memperhatikan kami sedari tadi, terutama kak Aira karna hanya pesanannya yang di ubah, makanan kesukaan kak Aira, siapa tidak mungkin kak Hamdam mengingat dia juga tidak tahu siapa yang melakukannya.

***

Terimah kasih kak Jasmien terimah kasih kak Aira, terimah kasih atas dukungannya, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan kalau tidak ada mereka, aku juga sering merutuki diriku sendiri kemapa jadi sebodoh, dan semengenaskan ini jika berhadapan dengan kak Rangga.

****

Hari ini hari minggu, setela membantu Ibu dan Bapak, membersikan rumah dan menyiram bunga di taman belakang dan depan, aku  menyibukkan diriku di dapur bersama Ibu, membuat kue, yah aku  menyibukkan diriku jika ada waktu senggang, selain mengintip kak Rangga di balkon kamar kak Aira, hoby baruku yaitu membuat cake, dan berbagai penganan lainya, aku juga ikut eskul foto Grapy, selain itu aku harus menghentikan hobiyku yang satu itu, mengintip Kak Rangga, aku tidak berhak berada di sampingnya lagi!, apa lagi mengaguminya dari jauh karna itu akan membuatku sakit sendiri dan tidak ada obat mujarap yang bisa mengobatinya mungkin hanya waktu, seiring berjalannya waktu, kenanganku tentangnya akan hilang.

"Bu', hari ini kita buat kue apa?", tanyaku pada ibu, yang sedang asyik, menyiapkan adonan.

"Ibu penasaran, sama kue Black Fores, yang Raniah tunjukkan tempo hari", kata Ibu, bersemangat, memang aku sudah mengajarkan, Ibu menbuka Mbak Google, menanyakan tentang jenis jenis kue capcake, bahan bahan dan cara membuatnya, seperti sekarang ini, kami akan mempraktekkan membuat Black Fores.

"Ibu bagai mana kalau kita buat Vanila Cake, jarang jarankan ada, cara membuatnya, sama dengan Black Fores, tapi kita dominankan di sini coklat susunya, dari pada coklatnya, Raniah sudah enggak sabar membuat dan mencicipinya, pasti enak", saranku pada Ibu, membayangkannya, kalau sudah jadi, "nyam nyam nyam..", aku pikir pikir itu ide yang tidak buruk, pasti banyak peminatnya, kalau aku dan Ibu membangun Toko Bakeray, semoga terwujud, cita citaku selanjutnya, karna anganku tentangnya telah pupus.

"Ide bagustu, Nduk, habis ini kita buat vanila cakenya, tapi__" kata Ibu bersemangat, menyadarkanku dari lamunan, tapi Ibu menggantung kata katanya.

"kenapa bu' ", tanyaku, penasaran.

"nggak ada yang makan, nanti mubassir, Mbak Aira dan Mbak Jasmien, enggak ada", ucap Ibu lesu, karna selama Kak Aira dan Kak Jasmien, ada mereka yang paling semangat memakan kue buatan Ibu selain Itu mereka juga ikut membantu, persiapan katanya, jaga jaga kalau mereka beruma tangga nanti, bisa buatin suami tercinta, ada  ada aja, hehe..

Berbicata tantang kak Aira dan kak Jasmien, mereka pergi kebali, menuntaskan semua keinginan abnornal kak Jasmien, kak Aira di buat pusing mendengar rengekan kak Jasmien setiap hari menuntut ingin mengelilingi kota Bali, mengunjungi pantai lovelita, melihat lumba lumba, berselancar, berjemur di pantai kuta dan banyak lainnya.

"Yowis, kalau begitu besok besok aja Bu', sekalian Raniah juga mau ke Danau, sama skull foto Grapy Raniah, selakian bawa oleh oleh dari rumah, pasti mereka senang", kataku mengingat teman teman foto Grapyku Raysan, Syahla, Tasya, Andi, Ikbal, yang doyan makan.

"Kalau begitu, ayo kita mulai buat Balck Foresnya Nduk, Ibu jadi bersemangat buatnya, mengingat banyak yang makan", kata Ibu, bersemangat, memulai mencampurkan adonan, yang aku angguki bersemangat membantu Ibu.

***

Balik lagi sama cerita Author yang kurang bagus ini.

tinggalkan jejaknya yah.

Raniah Hanum Suparman 2 {Story 8}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang