"Raniah sayang..., bangun kita sudah sampai...".
Samar sama aku mendengar suara seorang yang sangat familiar di telingaku.
"Sayang..., kita sudah sampai...", bisiknya lagi, membuatku menggeliatkan tubuhku, tapi sedetik kemudian aku tersadar. Seorang tengah memelukku dengan erat, aku merasa rasa lagi, bukankah aku tadi berada di dalam mobil?, lalu kenapa aku berbaring dengan seorang yang tengah memelukku dengan sangat erat??", tanyaku lagi, masih terpejam.
Tidak ingin terus bertanya tanya aku segera membuka mataku. Aku terbelalak kaget, melihat seorang yang sangat sangat familiar beberapa bulan ini, yang tengah tersenyum dengan sangat manisnya di depanku.
"Aaaaahhhh....", teriakku heboh sendiri. Segera melepaskan diri darinya. Kami bukan muhrimnya kau ingat!.
"Awwww....", ringisku kesakitan, aku terbentur badan mobil saat berusaha lepas darinya, dengan dia yang mencoba meraih kepalaku yang terbentur. Serat dengan kekhawatiran.
"Ngapain loh di sini??", teriakku marah mempelototinya. Menepis tangannya yang memegang kepalaku. Dia terlihat mengkerutkan keningnya bingung.
"Aku suamimu..., dan jangan katakan kamu melupakannya..?", selidiknya beberapa saat kemudian, setelah berpikir keras.Membuatku terpaku di tempatku, mengingat ingat, dan jreng.. jreng...!!. Beberapa saat kemudian semua ingatanku kembali!.
"Oh.. Astaga!!".
Aku meruntukki diriku sendiri!!, dan betapa malunya aku, melupakan suamiku sendiri!!. Tepatnya sih kami baru menikah!.
"Haha..., kamu sangat lucu sayang..., dan aku menyukainya...", tawanya melihat espresi kagetku, mengacak acak hijabku penuh sayang. Membuat wajahku yang sudah memerah bertambah merah, melirik sana sini, dan aku bersyukur, Pak Misbah, supir keluarga Kak Kafkah sudah tidak ada di dalam mobil.
"Pak Misbah sudah kedalam...", kata Mas Rangga, menyadari kegelisahanku.
"Maaf Mas..., mungkin Raniah kelelahan, sepulang dari kantor langsung menjemput Mas di bandara...", cicitku meminta maaf. Ya ini efek dari rasa lelahku. Mengalihkan diriku dari rasa berdebar debar mengetahui bahwa aku sudah menjadi istri seseorang yang sama sekali tidak aku kenal asal usulnya yang insyaallah seorang sholeh yang selalu menuntunku di jalan Allah aza wajallah, dan mengalihkan rasa nerfesku, bahwa dia akan menemuiku. Menjemputku di turki kembali ke Jakarta. Tempat kami akan memulai hidup baru yang insyaallah sakinah mawaddah dan warahma.
"Tidak apa apa, Mas mengerti..., ayo kita kedalam, mungkin semua keluarga swan sudah menunggu kedatangan kita...", katanya dengan senyuman yang selalu mengembang di bibirnya, melirik kedalam rumah yang pintunya sudah terbuka lebar.
"Ayo Mas...", ajakku, mengusap usap keningku yang masih sedikit perih.
"Kamu tidak apa apa??", tanyanya khawatir, langsung membuka sedikit hijabku. Mengecek keningku yang sedikit perih, "Merah.., apa tidak sakit?", tanyanya serat akan kekhawatiran.
"Tidak apa apa Mas.., ayo kita kedalam, Abi, Bunda, dan yang lain mungkin sudah sejak tadi menunggu kedatangan Mas..", jawabku ingin segara turun dari mobil.
"Raniah...", panggilnya sebelum aku turun.
Aku menoleh kearahnya mengerutkan keningku bingung.
"Kemarilah..", katanya lembut.
Aku menurut, kembali masuk dan menutup pintu mobil. Mas Rangga mendekatkan wajahnya kearahku. Membuatku membeku. Aku menutup kelopak mataku saat merasakan bibirnya yang mendarat di keningku lama, dan seketika membelalakkan mataku saat merasakan kecupan singkatnya di bibirku yang membawa efek yang sangat dasyat bagiku dengan wajah memerah, mungkin lebih parah dari kepiting rebus. Aku sangat malu kau tahu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Raniah Hanum Suparman 2 {Story 8}
RomanceAku adalah Raniah Hanum Suparman, Anak dari sepasang Supir dan pembantu, Rumah Tangga, Aku Tidak perna Malu ataupun Minder atas caci maki Teman seangkatanku di sekolah, yang mengataiku hanya anak supir dan pembantu, Mereka yang Notabenenya adalah an...
