p.o.v. Rangga.
Ternyata perkiraanku selama ini salah, pemuda yang sering mengantar jemputnya, yang sering dia panggil Mas Hamdam, ternyata adalah seorang yang sudah di anggapnya Kakak, begitu pun sebaliknya, Hamdam juga sudah menganggap Raniah adiknya karna mereka sama sama anak tunggal dan tempat aslal yang sama Jokjakarta, begitu pun dengan Aska dan, Dilan, mereka adalah kariawan Bakery Ibunya, Ibu' Sumiati.
Sedangkan Aldo salah satu kariawan perusahaan, dari Direksi Pemasaran, hanya dia anggap sebagai teman, walaupun Aldo menyimpan rasa padanya dan satu lagi yang aku tahu, Aldi salah satu teman clup foto grapynya, sewaktu SMA yang sekarang ini juga dekat dengannya.
Mengapa banyak sekali laki laki di sekelilingnya!, membuatku gusar, belum lagi laki laki yang lalu lalunya, bagai mana kalau dia sudah melupakanku!,apa lagi kalau dia sudah tidak mencintaiku, tuju tahun bukanlah waktu yang sedikit.
"Astaga memikirkannya saja membuatku frustasi".
Mengapa aku mengetahui ini semua?, aku menyewa seorang detekfif.
Aku seorang starker?, aku tidak peduli itu, melihatnya saja beberapa hari yang lalu di lobby perusahaan dengan pria lain dan menggendong seorang anak perempuan membuatku hampir gila dan urung uringan.
Jadi jangan salahkan aku jika aku melakukan semua ini, dan aku legah sangat legah mengetahui semua ini.
Tapi ada satu yang mengganjal hatiku, perasaannya padaku.
****
p.o.v. Raniah.
Sekertaris kak Rangga memanggilku keruangannya, di lantai dua pulu dua.
"Ada apa?", tanyaku pada sekertaris kak Rangga, setelah dia mengutarakan maksudnya, aku masi bingung, tumben tumbenya dia memanggilku.
"Kurang tahu Mbak, Bapak cuma nyuru saya untuk memanggil Mbak Hanum", akunya, juga tidak tahu.
"Baik lah tunggu aku lima belas menit lagi, aku akan segera kesana", kataku tegas, aku ingin tahu apa reaksinya jika aku datang terlambat.
aau kembali ke Dokumen yang aku baca tadi, setelah sekertaris Kak Rangga undur diri, menyelesaikan pekerjaanku.
Lima belas menit kemudian, aku berdiri dari dudukku, setelah menyelesaikan pekerjaanku, menemui pak Rangga di ruangannya.
"Apa gerangan dia memanggilku ke ruangannya", tanyaku dalam hati melangkahkan kakiku menuju lift yang akan membawaku keruangannya.
Tok.. tok.. tok...
Aku mengetuk, pintu kayu di depanku, ruangan Kak Rangga.
"Masuk", teriak suara bariton dari dalam, aku yakin itu kak Rangga.
"Selamat siang.., Bapak, memanggil saya?", tanyaku formal, penuh kedisiplinan, setelah berada di dalam ruangannya, aku sempat terkagum kagum dengan dokorasi ruangannya, moderen, tapi tidak lupa dengan dekorasi khas pedesaan, khas Indonesia, terbukti ada beberapa lukisan lukisan khas pedesaan, berwarna emas dan maron, sangat elegan.
"Hemm.. silahkan duduk", kata kak Rangga membuyarkan lamunanku, aku mengangguk dan duduk di kursi, tepat di depan meja kerjanya.
Dia mendongakkan kepalanya melihat kearahku, mengalihkan pandangannya dari dokumen dokumen yang sejak tadi di bacanya.
"Deg!" .
Aku kaget sekaligus terpesona dengan tatapan tajamnya, dia memandangku lekat sangat lekat, aku segera menundukkan wajahku, beristigfar, sekaligus malu, karna telah membalas tatapannya.
Di hadapanku, dia Rangga Argantara Gergio, "Ya Allah!, bagai mana ini dan bagaimana aku bisa lolos?", teriak batinku.
"Kau masi ingat denganku?", tanyanya, setelah keheningan melanda kami.
Aku kaget dengan pertanyaannya itu, aku mendongakkan kepalaku dengan jantung yang berpacu dengan cepat.
"Maa.. maksud Bapak?", tanyaku, tidak yakin, mungkin aku salah mendengarnya.
"Kau masi ingat denganku?", katanya lagi, mengulang pertanyaannya tadi, serius.
"Jadi aku tidak salah dengar", cicitku dalam hati.
"Kau mengenal saya?", tanyanya lagi.
Aku mengangguk kaku, jadi perkiraanku salah.
"Mana mungkin saya tidak mengenal anda, anda Pak Rangga Argantara Gergio, CEO, sekaligus pemilik perusahaan Ini, atasan saya", kataku tegas, fropesional, aku tidak mau lagi terbawa masa lalu, itu sudah lewat, sejak tujuh tahun yang lalu, aku juga sudah mengambil keputusan untuk melupakannya.
"Bukan kah kau adalah anak pembantu tetanggaku yang sering mengikutiku, sejak berumur delapan tahun?", ucapnya sengkertaris, membalas perkataanku tadi.
"Yah!, anda benar, saya Raniah Hamum Suparman, anak pembantu tetangga anda tuan!!", kataku langsung, terpancing emosi, berani beraninya dia mengatakan itu semua.
"Tapi anda jangan, khawatir, saya tidak akan mengganggu anda lagi, bahkan hidup anda!, dan satu lagi saya, anak pembantu ini akan menyerahkan surat pengunduran diri saya dari perusahaan anda, saya pastikan surat itu sudah ada di meja Anda besok!, sebagai bukti saya tidak akan mengganggu hidup anda!!", tambah ku,marah, berapi api.
"Ya Allah ampuni lah dosa hambamu ini, karna telah terjerumus cinta yang bukan mahramku", doaku dalam hati.
Sebelum pertahananku runtuh, menangisinya, aku segera bangkit dari dudukku, meninggalkan ruangannya, tapi belum lima langkah aku berjalan, kata katanya membuatku terpaku.
"Bagaimana kalau anak majikan tetanggamu itu ternyata mencintaimu,tampa dia sadari..".
Aku menggelengkan kepalaku kuat kuat, mencari sisa kesadaranku.
"Maaf pak, tapi anak pembantu ini tidak ingin berharap, dan bermimpi terlalu tinggi..", ucapku pelan, melanjutkan langkahku, meninggalkan ruangannya.
Aku tidak ingin berharap terlalu jauh, seperti sebelas tahun yang lalu, enam bulan kepergiannya, aku belajar untuk tidak memikirkannya.
Dan saat itu pula aku mengambil keputusan untuk ber Hijab, demi Rab_ku, berusaha menjadi seorang yang lebih baik lagi, dan aku tidak akan merusaknya karna kemunculannya lagi, tekatku dalam hati, tetap berjalan keluar dari ruangannya.
Di depan lift, aku termangu, mengingat pembicaraannya melalui Momo, di tengah malam buta.
Aku tidak tahu, semuanya terlalu sulit untuk aku cerna.
Jujur aku malu dengan perbuatanku di masah lalu, mengejar ngejar cintanya yang sudah aku tahu jawabannya.
"Seharusnya aku tidak melakukan semua itu", desahku berat, memencet tombol lift yang akan membawaku keruanganku.
****
Tinggalkan jejaknya siapapun yang baca, supaya Author tahu banyak juga yang suka dengan ceritaku ini, Author juga tambah semangat melihat respon kalian.
karana tampa kalian dan respon kalian cerita ini tidak ada apa apanya.
#Peluksayangsatu satu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Raniah Hanum Suparman 2 {Story 8}
RomanceAku adalah Raniah Hanum Suparman, Anak dari sepasang Supir dan pembantu, Rumah Tangga, Aku Tidak perna Malu ataupun Minder atas caci maki Teman seangkatanku di sekolah, yang mengataiku hanya anak supir dan pembantu, Mereka yang Notabenenya adalah an...
