Hari petamaku di SMA, sangat menjengkelkan.
Aku sama seperti orang gila yang sering aku temui di pasar baru!, jika aku menemani Ibu kepasar.
Yah.., sekarang ini aku mengikuti masa orentasi siswa, atau sering di singkat, MOS'.
Ini sangat sangat menyebalkankan, memakai pakaiyan yang compang camping, kaos kaki warna warni lain sebelah, topi bola, bertaskan kantongan kresek, tidak lupa ikatan rambut sebanyak tanggal lahirnya masing masing, dan parahnya lagi tanggal lahirku, tanggal 29.
" Hiahh... kiamat dunia... !!".
Tidak lupa ikat kepala bertuloskan Freedom. "Bebas tapi terikat jiah...", lengkap penderitaanku!.
Yah aku telah lulus SMP, aku sudah tidak bisa lagi melihat Kak Rangga, dia juga sudah lulus SMA, menjelma menjadi mahasiswa, dia sudah bertamba dewasa, semakin tampan mungkin, memakai jas kebesarannya, apalagi jika bukan jas yang menandakan dia adalah seorang mahasiswa.
Aku tidak pernah lagi melihatnya, dan dia juga tidak pernah lagi berada di taman belakang bermain futsal, aku sering menunggunya di balkon, tapi dia tidak perna terlihat lagi. mungkin dia di sibukkan dengan tugas tugas kampusnya, atau dia sudah mempunyai gebetan?, mengingat kata kata orang, gadis gadis kuliahan cantik cantik, yang satu itu!.
Big No!, aku tidak rela dunia akhirat..., melihat Kak Ranggaku tercinta di kecengin orang lain selain diriku yang cantik dan manis ini!!.
Aku tidak melanjutkan SMA ku di sekolah lama, karna itu mengingatkanku dengan kenangan kenanganku dengan Kak Rangga lagi pula, perlakuan anak anak masih sama, sangat sangat segan padaku, mereka tidak berubah.
Aku jengah di perlakukan seperti itu, doa ku waktu itu sama sekali tidak terkabul, jika semuanya akan terlupakan seiring waktu berjalan.
Aku juga memberinya sebuah kenangan yang mungkin mengingatkannya kepadaku.
Aku memberinya sebuah gantungan kunci berbentuk Monyet, persis denganku yang ganjen, yang selalu mencari perhatiannya, itu pun menurut Bila, dasar!, aku di samakan dengan Monyet.
Tapi aku setuju saja dengan sarannya itu, aku juga bodoh hehe.
Oia ada sebuah rahasia besar di dalam gantungan kunci itu!, kalian inging tahu?.
Aku menanamkan sebuah penyadap!, untuk itu lah aku menekankan kepadanya untuk tetap memakai gantungan kunci itu kemanapun dia pergi!!.
Gila memang tapi itu lah cintaku, terlalu gila.
Salahkan saja Kak Kafkah yang banyak mengajariku yang tidak tidak, bahkan aku juga sudah menguasai Mikrosof Eksel, Mikrosof words, sebelum aku mempelajarinya di sekolah dan aku tekankan aku masih SMP.
Bahkan aku juga adalah seorang hackr sejati, tapi jangan salah seorang hackr bukanlah cita citaku, jadi aku tidak pernah menggunakan kemampuanku itu, cukup tahu saja, seperti ini misalnya, aku membeli boneka monyet pasangan, laki laki dan perempuan, yang perempuan aku berikan padanya, yang sudah aku tanankan penyadap, dan bisa mengeluar suara dari pasangan Monyet laki laki yang aku pegang tentunya dan tidak ada di dalam Monyet perempuan yang aku berikan padanya Momo namanya, itu pun bila aku mengaktifkannya, dan aku tidak perna mengaktifkannya, aku sering mendengar kegiatan kak Rangga di kampus melalui gantungan kunci Monyet laki lakiku Mopiy, namanya.
Bila aku mengaktifkan penyadapnya.
Aku juga tahu apa yang di sebut prifasi aku tidak mau kak Rangga marah besar padaku, jadi hanya di waktu waktu aku rindu saja aku akan mengaktifkannya.
Ada satu prinsip yang aku pegang sekarang ini yaitu jika aku tidak bisa melihat wujudnya, suaranya pun tidak apa apa, asalkan bisa mengobati rinduku padanya, stalker memang.
Membicarakan tentang Bila, waku tidak satu sekolah lagi dengannya, tapi kami masih tetap sahabat, dia dan keluarganya pindah ke London, bersama si kecil Regardo, yah Ayah dan Bundanya, mewujudkan permintaan ajaib sang kakak, Adrian, seorang adik laki laki, membicarakan tentang Bila, pasti mengingatkan kita dengan, kak Dika.
Kak Dika ikhlas tidak Ikhlas harus melepaskan Bila.
Bila juga berpesan padanya, jika memang mereka jodoh, dan dia akan kembali keIndonesia dan jika mereka bertemu, meresa sama sama telah dewasa, maka jangan lepaskan dia, perjuangkanlah, jadikanlah dia seorang makmummya, dan tentu saja kak Dika imammya, kekasih halalnya, kalau memang jika cintanya sudah musnah, hilang maka perjuangkanlah untuk mendapatkan cintanya kembali, karna cinta pertama itu susah untuk di lupakan dan semoga cinta mereka tidak pernah berlabuh kepelabuhan lain.
Aku juga memberinya boneka beruang yang sama denganku, ini hampir sama dengan yang aku berikan dengan kak Rangga tapi ini secara terang terangan, hampir sama dengan seorang yang bertelfon telfonan, ada penandanya, misalnya jika salah satu dari kami ingin curhat, maka matanya akan berkedip kedip centil, persis denganku yang selalu menggoda kak Rangga, itupun kata bila, kok aku di samakan lagi hih.
Jangan tanya reaksi Bila, saat aku memberikanya, dia terperangah, molotot dan tidak menyangka kejeniusanku, yang sudah di tingkat terpara dan saat aku memberitahunya tentang gantungan kunci yang aku berikan pada kak Rangga dia memakiku setengah mati, dan ujung ujungnya meminta hal yang sama untuk di berikannya pada Kak Dika, tapi segerah aku tolak mentah menta sambil berkata cuek "jika memang jodoh, dia akan menemukan jalannya kembali...".
*****
Kejutan lainya adalah aku satuh sekolah dengan Andien dia kakak kelasku sekarang!, dan dia ketua osis kami, asli Andien orangnya cukup baik, mungkin dulu sewaktu SMP, dia masih egois, dan sekarang dia sudah mulai belajar menjadi dewasa, dia cukup membantuku sewaktu orentasi, tidak menyusahkannku sewaktu kami SMP dulu.
Orangnya juga cukup asyik di ajak bicara, yah kami mulai akrap, semoga kedepannya juga begitu.
Mungkin alasan kami sama, saat memutuskan untuk bersekolah, pada sekolah yang tidak mengetahui siapa kami, dia yang notabenenya adalah anak dari kepala sekolah dan aku? kalian tahu sendiri.
****
Komen dong, siapapun yang membaca cerita ini...
#peaca, memandang pera pembaca garang!!.
Hiahh... enggak deh mata berbinar binar..
Hehe..
KAMU SEDANG MEMBACA
Raniah Hanum Suparman 2 {Story 8}
RomanceAku adalah Raniah Hanum Suparman, Anak dari sepasang Supir dan pembantu, Rumah Tangga, Aku Tidak perna Malu ataupun Minder atas caci maki Teman seangkatanku di sekolah, yang mengataiku hanya anak supir dan pembantu, Mereka yang Notabenenya adalah an...
