CALLYSTA |♛| 12

1.9K 43 0
                                    







Prata memasuki rumah pandangannya teralihkan kearah tangga dimana biasanya Callysta duduk menunggu diri nya pulang. Setelah Callysta tidak lagi tinggal dirumah ia merasa kesepian karna udah biasa dengan kebisingan suara musik yang keras ulah anak gadisnya, suara Callysta berteriak, bernyanyi, tawa dari anak bungsunya.

Setiap Prata di rumah dan Callysta juga ada dirumah telinga Prata tidak bisa istirahat sebentar saja selalu aja ada suara suara yang menusuk gendang telinga nya.

"Tuan sudah pulang." Suara bi Ami menyadarkan Prata dari lamunannya.

"Nachar ada dirumah?" Tanya Prata.

"Den Nachar udah keluar dari tadi sore dengan den Vargas tuan." Jawab bi Ami.

"Vargas pulang ke rumah?"

"Iya tuan. Kalau begitu saya pamit ke belakang tuan." Pamit bi Ami setelah memberi tau orang dirumah pada kemana.

Sudah dua jam semenjak Prata pulang belum ada seorang pun penghuni rumahnya yang pulang, biasanya orang pertama yang pulang setelah diri nya adalah Callysta, melangkah masuk ke rumah bukan nya salam yang gadis itu lontarkan tapi malah berteriak memanggil nama Prata dan mencari tau dimana ayahnya berada jika sudah bertemu udah pasti peluk dan kucupan yang Callysta cari dari Prata.

Mengingat hal itu Prata merasa hatinya tertusuk, ia sekarang sangat merindukan putri bungsunya.

Prata duduk sendiri diruang keluarga menunggu putranya pulang. Biasanya dirinya yang ditunggu tapi sekarang kenapa dirinya yang menunggu.

"PAK PRATA!! PUTRI MU PULANG!!!"

Prata seketika ketawa mendengar suara putri bungsunya.

Callysta melihat ayah sendirian di ruang keluarga ia langsung berlari kepelukan Prata, mengingat ia tak sengaja melihat Zarima dengan pria tak ia kenal kemarin malam membuat dirinya gelisah bagaimana jika ayahnya tau. Sekeras apa pun kata bencinya untuk prata tetap saja benci itu tidak bisa menembus hatinya. Walaupun Prata luka pertamanya lysta mau bilang apa pun ia tetap tidak bisa membenci ayahnya.

Terkadang ia benci dengan dirinya sendiri, kenapa begitu mudah menerima hati dan kasih orang lain, kenapa hatinya begitu lemah akan kasih. Bodoh bukan?

"Kamu dengan siapa kesini?" Tanya Prata mengusap surai Callysta.

Callysta belum mengeluarkan suara Arabian udah duluan muncul dan diikuti dua pria dibelakang Arabian yaitu Nachar dengan Vargas.

"Loh kok bareng kalian?" Prata merasa jengkel karna tidak diajak.

"Ketemu didepan tadi" Jelas Nachar, Callysta beralih memeluk nachar.


"Kangen sama abang ganteng mu ini?hah?" Ujar Nachar percaya diri.

"Hmm kangen banget sama babang jelek ni." Cicit Callysta data membuat Nachar tertawa pelan. Callysta melirik kearah Vargas jengkel.


"Sorry lah baby, jangan ngambek lagi." Vargas memeluk Callysta yang masih setia tidak mau membuka suara untuk Vargas kala pasal pria itu tidak datang ke pernikahannya karna ketinggalan pesawat di Jerman. Walaupun Vargas guru Callysta disekolah ia tidak pernah membeda-bedakan Callysta, tetap diperlukan sama dengan siswa siswi lain nya.

CALLYSTA! |END| Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang