Malam ini cukup dingin. Mingi merasa malas membereskan pekerjaannya dan lebih memilih untuk membuat 2 teh panas, lalu membawanya ke dalam kamar. Di sana, Yunho sedang asik sendiri menatap layar komputer, jemari lentiknya dengan cukup agresif menekan keyboard. Kekasihnya itu sedang sibuk bermain games, ia bahkan tidak sadar sama sekali dengan kehadiran Mingi."Yunho"
"..."
Tidak ada jawaban.
Mingi menghela nafasnya pelan. Ia menaruh satu gelas yang dibawanya ke atas meja Yunho, kemudian mengecup pucuk kepalanya. Si manis menoleh, agak kaget dengan kehadiran Mingi yang tiba-tiba, ia membalas dengan anggukan kecil dan memberikan senyuman lebar sebelum kembali berfokus lagi pada layarnya.
Kekasihnya ini kalau sudah berurusan dengan games tidak bisa diganggu gugat. Jadi Mingi lebih memilih untuk berjalan lagi menuju kasurnya, dan menyamankan diri disana setelah menaruh gelas miliknya di atas meja samping kasur.
Dari sini, dirinya bisa memandang punggung lebar Yunho dengan leluasa. Melihat tubuh kekasihnya itu yang terkadang bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti alur game yang sedang ia mainkan.
Tanpa sadar, Mingi tersenyum lembut. Melihat Yunho dari belakang, mengagumi sosok tinggi itu seorang diri seperti ini membuatnya tersadar bahwa ia telah jatuh cinta lagi, entah untuk keberapa kalinya setelah mereka bertemu dan menjalin hubungan.
Mingi jadi ingat kepada dirinya yang dulu, yang selalu menganggap bahwa perasaan seperti jatuh cinta itu hanya sekedar bualan belaka. Hanya sebuah kata dan cerita yang dilebih-lebihkan oleh orang-orang, dan seakan hendak mengajaknya untuk merasakannya juga.
Mingi tentu saja tidak tertarik.
Dunianya sudah cukup untuk dirinya sendiri.
Dia sudah bahagia.
Dia tidak membutuhkan orang lain, setidaknya itu yang dia rasakan.
Mingi adalah sesosok pria yang tidak begitu mempedulikan sekitarnya. Ia hidup, ia harus mencari uang untuk makan dan kebutuhan lainnya, ia tidur untuk mengisi energi, dan hal-hal itu adalah siklus hidupnya setelah ia beranjak dewasa. Tidak ada tambahan lain di dalam daftarnya.
Tidak terpikirkan sedikitpun untuk membawa seseorang ke dalam hidupnya yang sempurna. Ia malas membayangkan dirinya akan bersama orang tersebut setiap waktu, ia muak harus membayangkan segala ocehan dan juga aturan yang harus diturutinya, dan segala macam hal lain yang berhubungan dengan hubungan antar dua manusia dalam suatu hubungan khusus.
Setidaknya itu adalah cerita masa lalunya.
Jika dirinya yang dulu melihat dirinya yang sekarang, entah umpatan dan ejekan apa yang dilemparkan kepada dirinya saat ini karena Mingi sekarang telah menemukan dunianya. Dunia miliknya yang begitu sederhana, namun berharga. Sosok yang tepat ada dihadapannya itu, entah bagaimana caranya, ingin Mingi jaga sebaik mungkin agar tidak pergi dan meninggalkan dirinya sendirian lagi.
Jatuh cinta kepada seorang manusia itu rasanya aneh.
Aneh, karena semua rasa dengan tiba-tiba saja menghampiri dan seakan menjajah tubuh dan pikiran.
Rasa senang, bersemangat, gugup, kadang juga sedih, dan kecewa. Belum lagi berusaha menyesuaikan sikap dan emosi, yang seakan harus dipelajari ulang hanya karena menghadapi seseorang yang dianggap berharga dalam hidup hanya karena satu alasan, karena jatuh cinta.

KAMU SEDANG MEMBACA
Buku untuk Minyun (Mingi & Yunho)
FanfictionBook ini menjadi wadah untuk beberapa cerita, judul yg berbeda menandakan cerita yg berbeda. On going : - Another You ( maaf, bagian ini di unpub. Nnti akan di tulis ulang dan up kalau sudah end) - It's Fine! WARN!! Gay Homo TOP(Mingi) BOTT(Yunho...