Saturday Date

888 70 3
                                    


Pagi di hari sabtu, tentu saja sebaiknya digunakan sebagai kesempatan untuk melakukan kegiatan bermanfaat, memperpanjang waktu tidur misalnya.

Tapi angan-angan itu batal ketika Yunho terbangun secara tiba-tiba karena dering alarm dari ponsel Mingi yang mengagetkannya. dia mengerang sebal, matanya masih terasa sangat berat.

Demi tuhan, tolong biarkan dia tidur lebih panjang dihari liburnya.

"Gii.. alarm" Ucap yunho pelan sembari menepuk-nepuk paha Mingi yang menimpanya. Lelaki sipit itu bergerak sedikit, kemudian membuka matanya perlahan. Tangan panjangnya bergerak asal di atas meja demi menemukan benda pipih itu, kemudian segera mematikan dering yang menyakiti telinga tersebut.

Tanpa berkata apa-apa, Mingi membawa kembali Yunho kedalam dekapannya. Membenamkan wajah manis kekasihnya yang kembali terlelap itu kedadanya dan mengecupi kepala si pipi gembil dengan gemas.

"Yun, kamu mau makan apa?" Tanya Mingi dengan suara seraknya. Tangannya mengusap lembut pipi dan telinga Yunho yang memerah, sesekali menepuk-nepuk badan Yunho yang tenggelam di balik selimut tebal mereka.

"Apapun.. biarkan aku tidur, 5 meniit lagi" Rengek si lelaki manis dengan nada memelas. Dia merapatkan pelukan mereka, menghirup dalam-dalam aroma Mingi yang sangat di sukainya sembari mengusakkan kepalanya ke wajah Mingi, membuat lelaki sipit itu tertawa kecil.

"Ok, tunggu disini sebentar, Prince. Aku buat sarapan dulu" Kata Mingi. Dia melepaskan pelukannya pada Yunho begitu mendapat anggukan darinya.

Satu kecupan manis dia daratkan diatas bibir lembut Yunho, setelah itu membalut tubuh Yunho dengan semua selimut hingga membuat lelaki manis itu terlihat seperti gumpalan kepompong gembul yang lucu.

Mingi membawa langkah lebarnya ke dalam kamar mandi, dia mencuci muka, menggosok gigi, lalu berganti baju, setelah itu langsung turun menuju dapur.

Sebenarnya dia tidak terbiasa memasak, namun sesekali tidak apa bukan? Lagipula, Yunho kemarin bekerja hingga larut, dia mana tega membuat kekasihnya bekerja ekstra dihari libur seperti ini.

Tangan besarnya dengan cekatan mengambil bahan-bahan masakan sederhana, sekedar membuat omelet telur dan nasi goreng sepertinya cukup, dan itu juga menu yang paling aman –setidaknya. Tangannya dengan cekatan memotong satu persatu bahan, menumisnya, dan mulai memasak sarapan untuk mereka.

Hari libur, sepertinya rencana bagus untuk membawa Yunho jalan-jalan. Hari ini hari pertama salju turun di kota, udara juga belum terlalu dingin. Lelaki tampan itu tersenyum sembari mengaduk-aduk masakkan di penggorengan, memikirkan betapa manis kekasihnya dipenuhi dengan senyuman ketika dia mengajaknya untuk pergi nanti.

"Heh, jangan senyum sendiri seperti itu, ini masih pagi, Igi" Tiba-tiba teguran terdengar dari arah tangga sedikit mengagetkan Mingi.

Dia menoleh ke samping dan mendapati Yunho yang masih menggunakan piyama tidur dan mengalungkan kain tipis untuk menyelimuti dirinya. Pipi gembil Yunho merona, begitu juga telinga dan hidung mancungnya, kau tahu mochi strawberry? Kira-kira kekasih manisnya seperti itu sekarang.

"Tidak jadi tidur lagi?" Tanya Mingi dengan senyum kecil, masih sibuk dengan masakkan miliknya. Yunho menggeleng pelan, dia berjalan mendekati Mingi dan menaruh dagunya dibahu Mingi sembari memperhatikan lelaki sipit itu memasak.

"Kau memegang kompor, bagaimana aku bisa tidur lagi?"

"Jangan seperti itu, aku sudah jago"

"Iya.. jago, nanti kamu ikut masterchef ya?" tanya Yunho dengan kekehan kecilnya tepat ditelinga Mingi. Mingi tidak menjawab, dia hanya berdehem pelan dan mengangkat sebelah bahunya yang ditumpangi oleh Yunho, Yunho lalu menyamankan kepalanya dileher Mingi dan memejamkan mata, merasakan hangatnya tubuh Mingi dan kompor dihadapan mereka.

Buku untuk Minyun (Mingi & Yunho)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang