Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

HCTH 13

375 42 7
                                        


Shen Qingqiu marah.

Lan Wangji yang sudah datar berubah semakin datar.

Hua Cheng bahagia kerana akhirnya bisa kembali ke pelukan gege-nya.

Wei Wuxian sedang sibuk menyumpah-serapahi Luo Binghe.

Luo Binghe merasa seperti ingin menangis. Shizunnya mengabaikannya.

Dan, Xie Lian bingung. Mereka kan berkumpul untuk membincangkan sesuatu, tetapi kenapa malah diam-diaman gini?

Hua Cheng sebenarnya tidak peduli, kerana itu kan masalah mereka? Gegenya saja tidak marah padanya, jadi untuk apa dia peduli? Tetapi, melihat Xie Lian yang terlihat bingung dan tidak tahan dengan suasana ini, Hua Cheng akhirnya berdehem keras, menarik perhatian semua yang ada di situ.

"Sanlang sakit tekak? Apakah perlu aku mencari ubat?"

"Iblis kejam bodoh seperti mu bisa sakit?"

"Wei Ying!"

"Maaf."

...

"Aku tidak sakit, gege. Tidak perlu susahkan dirimu untukku. Dan untuk kalian, jika hanya ingin berdiam-diaman seperti ini, lebih baik kalian pergi saja."

Lan Wangji rasanya seperti ingin berubah menjadi naga dan membakar hangus mereka semua...kecuali Wei Ying, dan...Xie Lian. Pemuda itu tidak salah.

Ya fikir saja! Pintunya sudah dirosakkan, dan kemudian dia dihalau keluar dari kamarnya sendiri! Apakah ini adil? Tentu saja tidak!

Wahai dewa, dimana pun kau berada, bahkan jika kau berada di hadapanku, tidak bisakah kau turun dan memberikan keadilan untukku?

Xie Lian tiba-tiba merasakan telinganya berdesing, seolah-olah sedang ada yang berdoa kepadanya. Dia menghela nafas, sebelum akhirnya menatap ke arah lima pemuda lainnya,

"Shen-gege, bukankah kau bilang ingin membincangkan sesuatu? Dan, Luo-gege, minta maaflah dengan Lan-gege. Kurasa sesiapa saja akan marah jika pintu rumah mereka ditendang sampai rosak."

Luo Binghe terlihat ragu, "Tapi—"

"Lakukan apa yang adik kecilku katakan." Shen Qingqiu menyela Binghe, dan pria bersurai ikal itu dengan cepat bergerak memohon maaf pada Lan Wangji. Lan Wangji, in the other hand, was quite satisfied by that. And Luo Binghe's know that.

"Baiklah, balik pada tujuan awal aku meminta kalian berkumpul. Aku sebenarnya ingin membincangkan tentang sesuatu. Apakah kalian sudah mendengar tentang hujan darah yang turun di kawasan akademi ini?"

Hua Cheng memutarkan bola matanya malas. Lagi-lagi tentang hujan berdarah miliknya. Tidak di dunianya, tidak di sini, sama saja.

"Kami bahkan melihatnya, shizun." Luo Binghe mengaku, yang diangguki oleh Wei Wuxian dan...Hua Cheng masih dengan wajah bosannya.

Lan Wangji sedikit terkejut. Kenapa dia tidak tahu apa-apa!?

"Kalian melihatnya sendiri?" Shen Qingqiu sekali lagi bertanya memastikan, dan sekali lagi diangguki oleh keduanya.

Shen Qingqiu terdiam, lalu menghela nafas. "Well, siang tadi aku ada mencuri-curi dengar perbualan seseorang, yang sayangnya aku tidak mengingat wajahnya seperti apa. Yang penting, mereka bilang hujan berdarah ini merupakan sebuah petanda buruk di dunia ini. Makhluk di dunia ini menganggap hujan berdarah sebagai satu kesialan. Aku juga sudah pergi ke perpustakaan selepas mendengar perbualan mereka untuk mencari tahu lebih dalam tentang hujan berdarah ini,"

Shen Qingqiu menjeda ucapannya. Dia lelah, men.

"Aku dapat tahu, 1870 tahun yang lalu, hujan berdarah pernah turun, dan selepas itu, satu kejadian besar yang hampir menghancurkan dunia terjadi. Buku itu mengatakan hujan itu diturunkan oleh dewa, dan ironic nya, kehancuran itu juga disebabkan oleh...dewa. Buku itu juga ada menulis, jika sekali lagi hujan darah ini turun, para demigod dan pemilik elemen es harus berwaspada. Aku tidak tahu, tapi satu hal yang dapat aku pastikan, Xie Lian harus dijaga dengan penjagaan yang ketat. Kalian tidak lupa kan apa elemen miliknya?"

How could this happened!?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang