"Menjijikkan sekali."
"Apa tidak bisa kita bergabung dengan kelas lain saja?"
"Werewolf berbulu itu setidaknya lebih baik dari para demigod bodoh itu."
"Mengapa harus bersama para iblis rendahan ini?"
Guru yang membimbing dua kelas itu menghela nafas lelah. Dia tahu ini akan terjadi, tetapi dia tetap harus melakukannya untuk menghilangkan permusuhan ini. Apakah tidak bisa iblis dan demigod berkawan?
"Wei-xiong! Di sini!"
Wei Wuxian menoleh, begitu juga dengan Hua Cheng, Luo Binghe, dan semua yang ada di kawasan tanah lapang itu. Wei Wuxian tersenyum lebar dan membalas lambaian tangan Xie Lian, lalu berlari kecil menghampiri Xie Lian yang sedang duduk bersandar di bawah pohon. Luo Binghe dan Hua Cheng hanya mengikuti di belakang.
Setelah sampai, Wei Wuxian mencubit lembut pucuk hidung Xie Lian membuat pria itu mengerjap bingung.
"Bukankah sudah kubilang untuk memanggil ku dan yang lainnya 'gege'?"
Seolah teringat sesuatu, mata Xie Lian membesar lalu tersenyum canggung. "Maaf.."
Wei Wuxian hanya melambaikan tangannya santai, "tidak mengapa...hanya saja jangan mengulanginya lagi, mengerti?"
Xie Lian mengangguk, lalu menatap Hua Cheng yang sudah duduk tenang di sebelahnya. "Apa Sanlang tidur nyenyak semalam."
Hua Cheng terkekeh kecil, sebelum menjawab, "Yang mulia, kau tahu aku tidak memerlukan tidur. Tapi ya, aku tidak suka kamar asramaku. Teman sekamarku terlalu suka makan, membuatku teringat pada seseorang..."
Xie Lian mengernyitkan alisnya, "apa dia He Xuan?"
"Ya, orang yang kupikirkan ialah dia. Gege sangat pintar!"
Xie Lian hanya tersenyum, "tidak ju-"
Ucapan Xie Lian terhenti ketika tiba-tiba ada yang menarik lengannya.
"Bukankah sudah kubilang untuk menjauhi para iblis!?"
Dia ialah Adryan, yang saat ini sedang menatap tajam ke arah Xie Lian, lalu ke arah Wei Wuxian, Hua Cheng dan Luo Binghe.
"Berani sekali tangan kotormu itu menyentuh dan bahkan menarik tangan gege-ku." Hua Cheng menatap tajam pria dihadapannya, sedangkan Wei Wuxian dan Luo Binghe melakukan hal yang sama.
"Apa hakmu untuk melarang Xie-xiong?" Wei Wuxian bertanya, jelas tidak menyukai pria ini.
"Xie Lian, kemarilah." Luo Binghe menghulurkan tangannya, menunggu Xie Lian untuk mendekat ke arahnya, dan menjauhi pria bodoh itu.
Dia itu...tidak lihat ya ada pawangnya di sini!?
Xie Lian melepaskan cengkraman di lengannya lalu menggapai uluran tangan Binghe. Tanpa berkata apa-apa, Binghe menuntun Xie Lian agar berdiri di sebelah Hua Cheng. Diam-diam berharap Xie Lian peka dengan keinginannya meminta Xie Lian menenangkan Hua Cheng. Dan untung sekali, Xie Lian peka.
Xie Lian mengelus lengan Hua Cheng lembut, lalu membisikkan kata-kata penenang, membuat Hua Cheng perlahan-lahan mulai lunak.
"Xie Lian, kesi-" perkataan Adryan dipotong oleh guru bersurai ungu, yang tampaknya tidak ingin pertengkaran ini semakin serius.
"Baiklah, para pelajar. Ambil tempat kalian masing-masing. Nama yang saya panggil, silahkan ke tengah lapangan. Anda akan mengasah kerjasama bersama hewan magis kalian dengan bertarung melawan patung ini. Mengerti?"
Semua mengangguk mengerti, dan segera mengambil tempat duduk masing-masing untuk menunggu giliran mereka. Tetapi seolah sudah menjadi hukum alam, kini terdapat dua kubu yang berlainan. Kubu demigod dan kubu iblis.
KAMU SEDANG MEMBACA
How could this happened!?
Fanfiction[Mxtx crossover] Xie Lian hanya sedang ingin menikmati masa-masa damai setelah menewaskan Jun Wu dengan memakan mantou bersama San Lang. Tapi secara tiba-tiba dirinya secara mendadak mendapati bahawa dirinya dan San Lang berada di ruangan asing deng...
