Bertemu kembali

742 378 157
                                        

Haii gais, kita ketemu kembali ><
Tolong jika ada typo tandain yaa...

Happy reading...

Jika ada sesuatu yang bisa mengabulkan keingian mungkin saja Aya sudah baris paling depan.

---

Dia hanya ingin mencoba hidup dengan tenang, tanpa ketakutan akan hidupnya yang berumur pendek. Rasanya dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan orang-orang terdekatnya.

Meskipun dirinya belum sepenuhnya menerima situasinya, dia tidak punya kesempatan untuk berusaha keras lagi karena penyakit yang dideritanya hampir membunuhnya.

Aya koma selama 3 bulan di atas ranjang rumah sakit, dan punggungnya terasa pegal.

Berbulan-bulan Aya tertidur pulas di ranjang rumah sakit sampai-sampai dia lupa bagaimana berjalan. Namun, dia tetap memaksakan diri untuk pergi keluar dan akhirnya hampir terjatuh.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Aya belum bertemu lagi dengan orang yang ditemuinya. Meskipun dia ingin tahu siapa orang tersebut, dia belum diberi kesempatan untuk mengetahuinya.

Sore hari itu, Aya duduk santai di taman tempat dia bertemu dengan orang tersebut, berharap untuk bertemu lagi, namun orang itu tidak kunjung datang. Aya sendiri tidak tahu mengapa dia menunggu orang itu kembali.

Beberapa saat kemudian, seseorang menghampiri Aya, dan ternyata dia adalah lelaki yang pernah menolong Aya saat hampir jatuh. Setelah berbincang-bincang, mereka akhirnya saling mengenal dengan nama masing-masing.

"Hai, masih inget gua kan?" sosok lelaki itu melambaikan tangan kepada Aya.

"Hi, oh ya, aku ingat, Kakak yang bantu aku hampir jatuh itu?" Aya membalas lambaian tangan sosok lelaki itu.

"Iya, gua belum kasih tahu. Nama gua Arkan Adhiyaksa. Salam kenal." Arkan mendekati Aya dan memberikan jabat tangan.

"Iya, Kak. Salam kenal, aku Anaya Queen Pratama." Aya tersenyum dan membalas jabat tangan Arkan.

"Oh iya, tadinya gua cek ke ruangan lu dan ternyata lu lagi di taman, jadinya gua ke sini deh." Arkan memberikan satu bingkisan dan satu buket bunga mawar kepada Aya.

"Aduh, Kak, maaf ya... tadi aku bosan di ruangan, jadi aku keluar. Oh iya, makasih ya, ini gak usah repot-repot, kan aku banyak ngerepotin Kakak." Aya menerima bingkisan dan satu buket bunga mawar, lalu tersenyum berterima kasih.

"Gapapa, gua ga ngerasa direpotkan kok." Arkan berpikir dia hanya ingin menebus janjinya pada hari-hari kemarin.

"Iya, Kak Arkan." Aya melihat buket bunga mawar, matanya berbinar. "Haha, kok lucu sih Kak Arkan ngasih bunga buat aku," gumam Aya.

"Eh, bentar-bentar, jangan panggil kakak lagi. Gua ga setua itu, Aya." Arkan kesal.

"Hahaha, iya, sorry Kak... eh, sorry hehehe, Arkan. Ga lagi bilang Kak deh." Aya keceplosan berkata "Kak," dan Arkan memberikan wajah kesal terus-menerus sampai Aya tertawa.

"Iya, kali ini gua maafin, tetapi lihat saja kalau masih manggil kakak." Arkan memperlihatkan raut wajah kesal karena Aya tetap memanggilnya "kakak."

Karena mereka keasyikan berbicara sampai menjelang malam, akhirnya mereka pergi menuju ke ruangan rawat Aya. Aya mengatakan bahwa dirinya besok akan pulang karena dia sudah masuk masa pemulihan.

Sesampainya di ruangan, mereka melanjutkan berbicara tentang hal-hal yang lucu. Namun, di saat itu tiba-tiba ayah Aya datang dan langsung bertanya kepada Aya siapa sosok lelaki yang sedang berbicara dengan dia, "Siapa itu? Temen?"

"Temen, Ayah," jawab Aya sambil berjalan membantu membawa barang ayahnya.

"Halo, Om. Saya Arkan. Tadi saya yang bertanya kepada Om menanyakan Aya," senyum Arkan sambil mengangguk kepalanya dan salim kepada Hardi, ayah Aya.

"Oh ya ya..... saya ingat. Yasudah kalian main saja lagi, saya mau pergi lagi." Hardi pun menjawab salim Arkan dan membereskan barang bawaannya.

"Ayah bakal temenin Aya sampai pagi, kan?" tanya Aya sambil membantu menyimpan tas-tas bawaannya.

"Ayah langsung pergi, ada pertemuan dengan Tante Syila, jadi kamu di sini dahulu nanti ayah jemput di jam pulang. Gak usah ngebantah!" jawab Hardi dengan tegas.

"Tapi Ayah, Aya kan sepi sendirian tuh..." Aya memohon kepada ayahnya, namun Arkan langsung menjawab.

"Udah Aya, nanti gua temenin. Oke." Arkan meminta izin kepada Hardi, dan Hardi pun mengangguk.

"Tuh, ada Arkan. Arkan, saya titip Aya ya." Tanpa berkata panjang lebar, Hardi langsung meninggalkan mereka.

"Huffttt, sendiri lagi deh." Aya memasang raut wajah sedih. Dia berharap ditemani ayahnya, namun itu hal yang mustahil.

Di saat dia koma saja, Aya ditemani oleh suster yang menjaganya, ayahnya hanya melihat lalu pergi meninggalkan Aya dan selalu bertemu wanita itu.

"Loh, gua ga dianggap nih? Gua temenin lu, ga usah nolak, oke!" Arkan menjawab lalu membantu Aya merapikan tas-tas milik Aya.

"Tetapi Kak...."

to be continued

Apa aya akan menerima permintaan arkan?

Makasih udh baca,dan mampir 💘, sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Bunga Terakhir [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang