Kebahagiaan Aya

152 66 23
                                        

✯ happy reading ✯

-

-

Di dalam ruangan itu, aroma obat dan bau steril menguar. Arkan duduk di samping tempat tidur tempat Aya menjalani proses operasi donor ginjal. Setiap detik terasa seperti jam, kekhawatiran dan harapan bergantian melanda pikiran Arkan.

Beberapa jam berlalu, dokter keluar dari ruangan operasi dengan senyuman lega. "Operasinya berjalan lancar, dan ginjal yang didonorkan sudah berhasil di-implan. Sekarang, kita hanya perlu menunggu Aya sadar."

Arkan mengangguk, mencoba menahan perasaan campur aduk di dalam hatinya. Ia berharap dengan segenap hati agar Aya pulih dan sembuh sepenuhnya.

Beberapa saat kemudian, mata Aya mulai terbuka perlahan. Wajahnya terlihat lelah dan wajahnya yang pucat, tapi ada kilatan harapan di matanya.

"Arkan?" panggil Aya dengan suara pelan.

Arkan tersenyum, "Sayang, kamu sudah melewati semua ini. Kamu sangat keren, semua berjalan baik!"

Aya mencoba tersenyum meskipun wajahnya masih pucat. "Terima kasih sayang, telah menunggu sampai detik ini."

Arkan meraih tangan Aya dengan lembut. "Kita akan melewati semua ini bersama, sayang. Kamu harus pulih dengan baik."

Proses pemulihan Aya dimulai, dengan Arkan selalu berada di sampingnya memberikan dukungan dan kasih sayang. Setiap akan berangkan sekolah dirinya mampir terlebih dahulu ke RS, untuk melihat Aya baik baik saja. Dan setiap hari menjadi langkah kecil menuju kesembuhan Aya.

Sementara itu, teman-teman Arkan yang sebelumnya khawatir juga merasakan lega. Mereka bersatu dalam doa dan harapan untuk kesembuhan Aya.

Dan karna kegigihan Arkan, dirinya selalu sering kemoterapi. Namun, Aya selalu memaksa agar menemaninya. Mau tak mau Arkan harus mengiyakan, demi kesehatan Aya.

***

Setelah beberapa minggu, kini Arkan mulai menjalani sesi kemoterapi secara rutin.  Aya, yang telah pulih dari operasi donor ginjal, berada di sampingnya dengan penuh dukungan.

Ruangan kemoterapi dipenuhi dengan suara mesin dan bau khas rumah sakit. Arkan duduk di kursi yang telah disiapkan, matanya memandang kosong ke luar jendela. Aya duduk di sebelahnya, meraih erat tangan Arkan.

"Kita akan melalui ini bersama. Aku di sini untukmu sayang," ucap Aya dengan senyuman lembut.

Arkan menatap Aya dengan mata penuh terima kasih. "Terima kasih, cantik. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."

Proses kemoterapi dimulai, dan Aya tetap setia mendampingi Arkan. Mereka saling berbicara, berbagi tawa kecil, dan menguatkan satu sama lain di tengah tantangan ini.

Setiap sesi kemoterapi membawa rasa lelah dan ketidaknyamanan, tetapi keberadaan Aya menjadi penguat bagi Arkan. Cinta mereka menjadi semakin kuat, seperti pilar yang menopang di tengah badai.

Proses kemoterapi tidaklah mudah, namun Aya dan Arkan melewati setiap hari dengan tekun. Mereka tahu bahwa setiap langkah kecil adalah bagian dari perjuangan untuk kesembuhan masing masing.

Bunga Terakhir [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang