Perkemahan

176 86 16
                                        

Sepertinya apalagi drama kehidupanku?

✿happy reading✿

-

-

Beberapa Bulan sudah berlalu, kini Aya sedang memandangi kalender. Dirinya berharap ada keajaiban yang datang dalam kehidupannya.

kini dirinya sedang sibuk mengemaskan barang untuk pergi ke suatu tempat. Ya kini ada acara kemping disekolah, dirinya mau tak mau harus ikut.

Kini hujan membasahi mobil yang ditumpanginya, dirinya sedang menatap jalan jalan yang lalu lalang. Kini dirinya sedang mencerna foto yang terdapat ditasnya.

Siapa lelaki itu?mengapa aku bisa berfoto dengannya? fikir Aya.

Dirinya memasukan foto itu dan langsung mengingat kejadian kemarin.

flashback on>>>

Kini Aya sedang duduk dimeja, yang sudah disiapkan makan minuman. Kini Aya tengah berada diruang tamu rumah Arkan.

Ya, diajak Arkan untuk menemaninya. Padahal beberapa bulan kemarin Arkan akan berkata jujur pada orangtuanya, namun dirinya masih ragu.

"Hai Aya, saya sudah mendengar semua cerita dari Arkan. Kamu anak yang baik, saya rasa kamu anak yang kuat bertahan sampai saat ini." Ungkap Dania, sambil menyentuh pundak Aya.

"Terimakasih tante, mungkin disini saya merasakan kasih sayang jika bersama Arkan. Trauma itu perlahan menghilang," balas Aya, sambil tersenyum.

"Mah, pah disini sebenernya Arkan mau bicara sama kalian. Arkan punya surat buat kalian, boleh dibaca?" ucap Arkan, sambil memberikan selembar kertas kepada kedua orangtuanya.

Disaat mereka membuka kertas itu, mereka terkejut. Dan langsung mendekati Arkan, "kenapa kamu ga bilang sama mamah sayang? maafin mamah selalu sibuk dengan pekerjaan ini," sesal Dania, sambil memeluk tubuh hangat Arkan.

"Maafin papah ya? maaf papah selalu keras terhadap kamu! papah gamau, kalau papah gagal jadi seorang Ayah. Tapi nyatanya sudah gagal, maaf papah gatau dengan kondisi kamu seperti ini!" suara isakan tangisan sang Daniel.

"Maaf ya pah, mah Arkan baru kasih tau ini. Sebenarnya Arkan udah sakit ini dari lama, kenapa Arkan sering keluar karna Arkan cape sama kondisi rumah. Selalu aja sepi, sedangkan Arkan butuh kehangatan. " Ungkap Arkan yang sambil menangis.

Disini lah momen canggung Aya, bagaimana dia tidak canggung? kini dia berada di tengah satu keluarga yang melihat penyesalannya.

Tapi tiba tiba, suara anak kecil yang membuat Aya tidak canggung.

"Hai ka Aya?" sapa Cila, sambil berjalan menuju Aya.

"Hai cantik, wih bajunya bagus ni. Mau kemana?" tanya Aya, sambil mengendong Cila

" Mau jalan jalan!" bisik Cila, namun Cila teralihkan pandangan melihat kedua orangtuanya dan Arkan sedang menangis.

"Loh kenapa oma, sama opa dan om nangis?" tanya Cila dengan polos.

"Oma, sama opa sedih. Om Arkan kerenn Cilaa! Cila harus bangga sama om Arkan!" balas Dania, sambil tersenyum.

"Jadi maksudnya Aya dibawa kesini buat temenin kamu?" tanya Daniel kepada Arkan.

Mendengarkan itu Arkan hanyalah tertawa kecil, seperti menjawab iya.

Namun, Aya melihat sebuah foto disatu figura. Dirinya tidak asing saat melihat satu figur itu.
"Kayanya ini foto yang aku temuin waktu itu? apa Arkan cowo yang sebelah aku? lalu siapa sebelahnya lagi?" batin Aya.

Bunga Terakhir [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang