✯happy Reading..✯
-
-
Setelah kejadian itu Aya langsung secepatnya dilarilam kerumah sakit.
Dengan luka-luka parah yang dialami Aya. Kini Aya akhirnya tiba di rumah sakit, tempat tim medis segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan nyawanya. Arkan dan Bian menunggu dengan hati yang tegang, berharap Aya dapat pulih dari luka-luka yang parah.
"Sorry gw mau tanya, lo pacar Aya?" tanya Bian.
"Ya, dan lo masalalunya Aya?" sambung Arkan dengan tersenyum, "haha iya gw masalalu Aya, jaga dia ya. Gw harap lo ga kaya gw," balas Bian sambil tertawa.
Dalam ruang tunggu rumah sakit, Arkan dan Bian duduk dengan penuh ketegangan. Waktu terasa berjalan begitu lambat, dan kekhawatiran merajai pikiran mereka. Mata Arkan memancarkan kegelisahan, sementara Bian mencoba menyembunyikan rasa bersalah yang masih menghantuinya.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, seorang dokter keluar dari ruang perawatan Aya. Wajahnya serius, menciptakan ketegangan yang semakin terasa di antara Arkan dan Bian. Mereka berdiri, menunggu dengan nafas terengah-engah.
"Lukanya cukup serius, tapi saya akan maksimal mungkin. Jadi Aya memerlukan waktu penyembuhan cukup lama." Ucap dokter.
Dokter memberikan kabar bahwa Aya berhasil melewati prosedur awal dengan sukses, namun luka-lukanya cukup serius dan memerlukan waktu penyembuhan yang lama. Arkan merasa lega namun juga khawatir, sementara Bian terus merenung dalam rasa bersalahnya yang sulit diungkapkan.
"Terimakasih ya dok," ujar Arkan.
"Kalau begitu saya permisi ya, jika ada urgent silakan pencat tombol merah saja." Ucap dokter, lalu pergi meninggalkan Arkan dan Bian.
Dan kini Arkan akan masuk kedalam keruangan dan menuju Aya. Namun, meskipun Bian ingin membantu, merasa bahwa keberadaannya mungkin hanya akan menambah beban Arkan. Namun, Arkan memutuskan untuk mengajak Bian bersamanya, mengakui bahwa mereka semua memiliki peran penting dalam perjalanan Aya.
Bersama-sama, mereka masuk ke ruang perawatan Aya. Melihat Aya yang terbaring lemah namun masih hidup memberikan campuran emosi di antara mereka. Arkan duduk di sisi tempat tidur Aya, mencoba menahan air matanya yang hampir menetes.
"Maafin aku ya sayang." sesal Arkan, sambil berbicara didalam hati.
Bian, di sudut ruangan, merenung bahwa dirinya ingin sekali berbicara berdua dengan Aya. Namun, dirinya bingung.
Selama masa penyembuhan Aya, hubungan di antara Arkan, Aya, dan Bian mengalami dinamika yang rumit. Arkan, sambil merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Aya, berusaha keras memberikan dukungan penuh selama proses penyembuhan. Setiap langkah Aya diiringi oleh kehadiran Arkan, dan dia berjanji untuk selalu ada di sampingnya.
Bian, di sisi lain, menemukan dirinya terjebak dalam konflik batin. Perasaan yang tak terungkap dan rasa bersalahnya terhadap peristiwa yang terjadi membuatnya ragu untuk membuka hati kepada Aya. Namun, tersadar bahwa dirinya hanya masalalu Aya yang telah habis masa waktu bersama Aya.
***
Mengingat kejadian masa lalu, Bian merenungkan momen-momen indah dan sulit yang pernah mereka bagikan. Di tengah proses penyembuhan Aya, Bian mencoba membuka komunikasi dengan Aya yang sudah mulai membaik, merasa bahwa kejujuran adalah langkah pertama menuju pemulihan sepenuhnya.
Suatu hari, Bian dan Aya duduk bersama di taman rumah sakit, tempat mereka memiliki percakapan yang jujur. Aya menyentuh topik dengan lembut, "Bii, akhir akhir ini aku rasa kamu sedikit menjauh. Apa ada yang salah dari aku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bunga Terakhir [TERBIT]
Roman pour Adolescents[Cover By : Canva application] 📌Ada beberapa chapter yang belum di revisi jadi mohon maaf jika kesannya aneh, selamat membaca ʘᴗʘ ------------------------------------------------------------------------ "Aku tutup cerita kita ya. Selamat bahagia...
![Bunga Terakhir [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/337749548-64-k226914.jpg)