"Nyatanya kita harus dipaksa terus menerus dengan keadaan, agar kita bisa menerima semua hal yang membuat kita semakin rapuh.”
◍happy reading◍
-
-
Satu daun jatuh, mengenai bahu Aya yang sedang menangis dipemakaman Bian. Lantas apa salah aku menangis diatas batu nisan yang tidak ada jasad mu?
Setelah beberapa hari lalu pencarian sangat tidak meluangkan hasilnya, polisi sangat meminta maaf kepada keluarga korban karna belum bisa menemukan jasad para korban terutama Bian dan Sabia.
Disituasi itu Aya sangat terpukul akibat kepergian Bian, lantas saja Bian berpamitan kepadanya dengan tersenyum lepas. Apa itu arti dirinya tidak akan ada lagi dibumi ini?
Salahkah jika aku berharap bukan dirimu yang ada disana? Kenapa harus kamu yang tuhan ambil? Kenapa...
Jika laut membawa jasadmu, aku harap kembalikan lah dia kepadaku. Aku berharap lebih pada air laut yang tenang seperti rasa sakit aku, tenang tapi banyak menahan airmata.
Mata Aya yang sembab karena sudah beberapa hari dirinya menangis terus menerus, sampai dirinya tidak ingin makan. Sebab itu membuat Arkan, Cinta, Alita dan Langit khawatir akan kesehatan Aya.
“Ikhlasin ya ? aku tau kamu pasti bisa lepasin dia. Mungkin tuhan punya takdir bagus untuk kamu dan dia dikehidupan selanjutnya. Tapi, kali ini kamu takdir denganku.” Arkan yang berjongkok mensejajarkan diri sambil mengelus-elus pundak Aya yang masih terdiam menangis dimakam Bian.
Ucapan yang dikatakan Arkan itu bener, tapi Aya tetap menangis tidak memperdulikan ucapan Arkan.
°°°°
Sementara Aya terdiam di depan makam Bian, hujan mulai turun perlahan. Tetesan air hujan bercampur dengan air mata Aya, menciptakan suasana yang semakin melankolis. Langit yang kelabu menggambarkan perasaan dalam hati Aya.
Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya dengan payung datang mendekati Aya. Wanita itu tampaknya familiar, dan Aya mengenali wajahnya dari foto-foto yang pernah dilihatnya bersama Bian.
"Bian selalu bercerita tentangmu, Aya. Saya Bunda Bian," ucap wanita itu dengan lembut, membuka pelukan hangatnya pada Aya.
Aya menoleh dan menatap Bunda Bian dengan mata yang penuh kesedihan. Bunda Bian menggenggam tangan Aya, mencoba memberikan dukungan pada gadis yang tengah merasakan kehilangan besar.
"Kamu tahu, Aya, Bian selalu berbicara tentang betapa istimewanya kamu baginya. Dia sangat mencintaimu," lanjut Bunda Bian sambil tersenyum lembut.
Aya mengangguk perlahan, masih sulit untuk menyusun kata-kata di tengah kepedihan yang begitu mendalam. Bunda Bian kemudian memasang payungnya untuk melindungi mereka dari guyuran hujan.
"Kita harus berlindung, nak. Ayo ikut saya," ajak Bunda Bian sambil memimpin Aya menuju sebuah gazebo di taman pemakaman.
Di bawah atap gazebo, suasana sejenak menjadi lebih tenang. Aya dan Bunda Bian duduk bersama, membiarkan suara hujan menjadi latar belakang percakapan mereka.
"Aya, Bian ingin kamu tetap kuat dan bahagia, meski dia tidak lagi bersama kita. Dia selalu menginginkan yang terbaik untukmu," kata Bunda Bian dengan penuh kelembutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bunga Terakhir [TERBIT]
Teen Fiction[Cover By : Canva application] 📌Ada beberapa chapter yang belum di revisi jadi mohon maaf jika kesannya aneh, selamat membaca ʘᴗʘ ------------------------------------------------------------------------ "Aku tutup cerita kita ya. Selamat bahagia...
![Bunga Terakhir [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/337749548-64-k226914.jpg)