Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dio meluruskan lengan. "He-hei, Sane! Tu-tunggu!"
Begitu remaja yang dipanggilnya menghilang di ujung jalan, suara raungan di belakangnya semakin kencang.
Agaknya hewan-hewan buas itu telah lepas hingga ke ruangan lain.
Remaja laki-laki lain menghampiri Dio. Ia mengenakan jas yang kebesaran dan mantel kulit sepanjang lutut.
"Kau kabur gak bilang-bilang," protesnya.
"Sori, Din. Habisnya aku liat Sane tadi," jawab Dio.
"Sane?"
"Iya. Aku ngejar dia."
"Kau gak bohong kan?"
"Enggak lah! Sejak kapan aku pernah bohong," kilah Dio.
Demi mendengar ucapan itu, Udin menahan tawa.
"Apanya yang lucu!" protes Dio.
"Kau pernah bilang kalau di kamar mandi sekolah ada ular. Ternyata cuman ular mainan," tawa Udin tak tertahankan lagi.
"Hei! Itu beda!"
Dio melepas pukulan. Udin menghindar lantas memelintir tangan Dio hingga remaja itu jatuh berlutut.
"Lepasin woy!"
"Maaf maaf," Udin memapah Dio untuk berdiri.
Remaja itu menatap telapaknya tak percaya. Ia merasa seakan kekuatan sihir merasuki dirinya.
"Pulang ajalah," gerutu Dio. "Lagi enak jalan-jalan malah ketemu hewan buas lepas."
"Yang sabar," Udin menyemangati. Tak sadar Dio tengah menyindir dirinya.
-
Seorang bapak-bapak berpakaian jas laboratorium tengah melayang di langit. Berbekal baling-baling helikopter di ransel yang ia kenakan.
Tatapannya tertuju pada dua remaja yang tengah bersenda gurau di tepi trotoar.
Mereka adalah teman Penjaga Kota.
Ide jahat melintas di kepalanya.
Saat ia hendak melayang turun, sudut matanya menangkap cahaya yang menyilaukan.
Seberkas sinar merah memelesat naik dari kaki langit. Lalu lenyap di antara awan-awan.
-
Seisi rumah itu sunyi.
Air menetes dari wastafel. Bunyi deru alat elektronik menggema dari pojok ruangan.
Radio di ruang tengah tak henti-hentinya memutar lagu pembuka dari sebuah acara kartun.
Tok! Tok!
Udin terbangun karena suara menggedor di pintu depan. Dia mengusap mulutnya yang penuh air liur.
Siapa di sana? Gumamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Monumen Kubus
AventuraSane Enesta adalah seorang siswa SMA biasa. Ia tidak populer, tidak pula mencolok. Satu-satunya kelebihan yang ia miliki adalah selalu mendapatkan nilai bagus. Namun, bagi Sane yang pesimis, apalagi fakta bahwa SMA Pelajar Nasional adalah sekolah el...
