Bab 22

16 2 0
                                        

Meski damai, sisa-sisa kekacauan masih tampak di ruang tamu yang kini lenggang itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Meski damai, sisa-sisa kekacauan masih tampak di ruang tamu yang kini lenggang itu.

Pintu kayu bersandar di sofa. Pecahan kaca dan logam berceceran dimana-mana bagai makanan tumpah.

Angelo duduk asal di salah satu sofa, mengabaikan ruangan yang berantakan bagai kapal pecah.

Ketiga remaja lain mengikuti.

"Dio, apa kau sadar ketika menyelamatkan Udin?" tanya Sane.

Dengan wajah sumringah, yang ditanya menjelaskan, "Proyek-ku akhirnya selesai. Keren sih, aku bisa terbang. Terus, kebetulan aku lihat Udin lagi dikejar polisi. Yaudah aku tolong aja. Habis itu–"

Tiba-tiba Dio murung.

"Gak ingat, kan," komentar Angelo.

"Terus apa ya?" Dio memasang senyum yang seakan dibuat-buat.

"Kau gak inget apa-apa soal melawan polisi?" tanya Udin.

Dio menggeleng.

Sane dan Udin silih berganti pandangan.

Jika Dio tidak ingat, lalu apa yang terjadi saat itu?

Dio memungut armor eksoskeleton yang berbaring di meja. Dipandanginya sejenak.

Garis-garis hijau di sekitarnya bercahaya ketika separuh lengannya masuk ke selongsong alat itu.

"Matikan, Dio," Angelo menuding alat itu. Meski dipenuhi tanda tanya, Dio menurut.

Garis kehijauan kembali redup begitu armor eksoskeleton diletakkan ke atas meja.

"Asal cahaya itu dari Chip Renegade, sumber energi yang sama dengan yang dipakai oleh Penjahat di Televisi. Itulah yang membuat mereka mendapat julukan 'Penjahat'.

"Chip itu bisa mempengaruhi isi pikiran pemakainya. Membuatnya lepas kendali dan melakukan hal-hal berbahaya yang melanggar hukum."

Semua orang mengangguk mendengar penjelasan Angelo. Tak seperti kelihatannya, bocah itu cukup pintar.

"Jadi Caca benar," gumam Dio.

"Caca?" Sane teringat dengan kerja kelompok tempo hari. Ketika mereka bertiga berkunjung ke rumah Dio.

"Dih, padahal Projek-ku ini sudah susah banget kubuat!"

Udin meletakkan tangan di dagu. "Seingatku, Chip ini pernah dibahas sama content creator terkenal. Sampai masuk TV. Kukira cuman hoax."

"Ya kan!" Dio sumringah mendengar ada yang sependapat dengannya. "Sama kayak chip yang katanya ada di vaksin itu."

"Sekarang kau sudah lihat sendiri buktinya," kata Angelo.

"Kau saudaranya Sane, kan? Ternyata kau tau banyak juga soal ginian," puji Dio seraya menepuk pundak bocah itu.

Udin menatap eksoskeleton.

Monumen KubusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang