Heka baru sampai di area parkiran setelah sepuluh menit yang lalu menerima telepon dari Rajen. Matanya melihat sosok ketiga sahabatnya yang sedang duduk di atas motor, entah sedang membicarakan apa, sedang menunggu dirinya.
"Eyyy what's up bro! Seru banget nih gue liat-liat," ucap Heka begitu sampai di dekat ketiganya,
"Lama lo!" balas Rajen,
"Tau! Sok sibuk bet bocah," balas Naren,
"Dah lah yok cabut," ucap Janu.
Heka memutar bola matanya. Melihat ketiganya yang sudah bersiap di atas motor, Heka memilih untuk melangkah pelan mendekati motornya sebelum kemudian mendengar teriakan seorang gadis yang memanggil namanya,
"KAK HEKA!!" teriak gadis itu sambil menunduk memegang lutut, berusaha mengatur nafasnya. Jelas terlihat bahwa dia habis berlari kencang. Bukan hanya Heka yang menoleh, tapi Rajen, Janu dan Naren pun ikut menoleh menatap gadis itu.
Setelah beberapa detik mengatur nafas, gadis itu kembali berlari kecil mendekati Heka dan kawan-kawan. Dan begitu sampai tepat di samping Heka, gadis itu berkata,
"Ayana, Kak! Huh... Ayana lagi dalam bahaya!" ucapnya dengan raut wajah panik, membuat Heka terkejut. Bahkan Naren, Janu dan Rajen yang tadi sudah berada di atas motor kembali turun dan melangkah mendekati keduanya,
"Maksud lo?" tanya Heka yang ikut panik mendengar ucapan gadis itu,
"Radea, kan? Temen Ayana yang tadi? Bukannya lo bilang Ayana udah pulang?" tanya Rajen dengan raut wajah sama seriusnya,
"Iya, Kak. Tadi habis Kakak tanya ke saya, saya coba chat Ayana. Sama yang kaya Kakak bilang, awalnya chat saya ngga terkirim, tapi beberapa menit yang lalu tiba-tiba dia jawab chat saya Kak," ucap Radea sambil membuka room chat dirinya dengan Ayana lalu menunjukkannya kepada Heka,
"Ini Kak, Ayana bilang kaya gini ke saya. Dia juga shareloc Kak. Tapi pas saya coba telepon udah ngga diangkat sama dia," ucapnya lagi dengan wajah yang sekarang seperti ingin menangis.
Heka membaca pesan yang dikirimkan Ayana kepada Radea. Rajen, Janu dan Naren juga mendekat, ikut membaca. Setelah membaca pesan terakhir dari Radea yang mengatakan untuk Ayana segera lari mencari pertolongan, Heka mengembalikan ponsel itu kepada Radea dan berbalik mendekati motornya setelah mengucapkan terimakasih kepada gadis itu.
Melihat pergerakan Heka, Rajen dengan cepat menahan langkah laki-laki itu,
"Bareng! Kita bareng! Lo tau dimana tempatnya?" ucap Rajen menatap Heka serius, yang dijawab anggukan kepala oleh Heka, dia sempat membuat lokasi yang dikirimkan oleh Ayana dan memperhatikan dengan seksama rute tempat tersebut,
"Kak, saya ikut boleh? Saya takut Ayana kenapa-napa, saya juga jadi ngga tenang rasanya Kak," ucap Radea tiba-tiba, membuat keempat laki-laki itu kembali menatap ke arahnya.
Demi melihat wajah ingin menangis gadis itu, Heka memejamkan matanya sebentar lalu mengangguk dan berkata,
"Lo dibonceng Naren. Boleh kan, Ren?" tanya Heka yang dijawab anggukan kepala oleh Naren yang dari tadi diam, ikut panik dan khawatir.
Mereka berlima segera melaju, dipimpin oleh Heka, kemudian Rajen yang berboncengan dengan Janu, dan terakhir Naren dan Radea.
"Sebelumnya gue minta maaf, tapi lo pegangan ke gue ya. Gue ngga modus kok, cuma ini mereka bakal ngebut banget pasti, apalagi si Heka. Gue takut lo jatuh," ucap Naren,
"Kalo lo takut, lo peluk gue aja," ucap Naren sekali lagi kemudian mulai melajukan motornya begitu merasakan tangan Radea di pinggangnya.
Seperti yang dikatakan Naren, motor mereka melaju kencang menerobos hujan yang mulai turun rintik-rintik. Radea memejamkan matanya dan pada akhirnya memilih untuk memeluk pinggang Naren karena laju motor yang begitu kencang. Dirinya bahkan tidak memakai helm, membuat dia semakin memeluk Naren dan menundukkan kepalanya di belakang punggung laki-laki itu karena hujan yang mulai deras.
KAMU SEDANG MEMBACA
If I Got You
Teen Fiction"Aku Ayana, lengkapnya Ayana Azkayra. Bunda bilang, arti namaku bunga yang indah, bunga yang dihormati semua orang. Tapi kenyataannya dalam hidup, aku ngga pernah merasakan yang namanya dihormati sama sekali. Aku benci dengan kenyataan dimana kehidu...
