Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nayeon POV
"Apa berikutnya?" Aku melirik manajerku, Jihyo. Dia membuatku kesal. Seharusnya ia membantuku, tapi nyatanya malah sibuk menggoda kru laki-laki.
"Udah selesai untuk hari ini, eonni. Kau boleh pulang dan langsung bercinta dengan kekasihmu," katanya sambil membaca schedule di tablet. Aku mengabaikan untuk bagian 'bercinta'. Jihyo menjijikkan.
"Bagus deh. Aku capek banget.. huaa~" keluhku, menghela napas lega. Menjadi model tidak semudah kelihatannya. Aku lelah secara fisik dan mental untuk sesi pemotretan hari ini. Bersama itu, Jihyo memukul keningku hingga aku terlonjak kaget.
"Lah, kok malah mengeluh? Ini baru permulaan, mengerti? Eonni akan mengalami lebih banyak lagi kedepannya."
"Yak~ tidak bisakah kau bersikap lembut padaku? Kau memperlakukan kru dengan baik tapi tidak denganku? Dasar kejam. Akan ku adukan ke Tzuyu. Aku juga akan meminta Chaeyoung untuk mencarikan manajer baru!"
"Ck! Mainannya ancam-ancaman lagi deh~" Jihyo menghela napas dan menggelengkan kepalanya. "Aku akan mengantarmu pulang dan kita harus bergegas. Aku punya kencan!" tambahnya, mulai mengemasi barang-barang.
"Gwaenchana, Jihyo-ya. Jeongyeon akan menjemputku."
"Jinjja?"
"Eo. Kita mau ke butik, ngambil pakaian pernikahan Mina."
Itu benar. Minggu ini cukup padat karena aku harus mengatur waktu antara karir dan membantu Mina mempersiapkan pernikahannya. Mina ingin aku menjadi Bridesmaid-nya bersama Sana, Momo dan Jennie.
"Mau aku temenin ngga sampai Jeongyeon dateng?" tanyanya seraya menyerahkan tasku.
"Ngga usah, hyo, kamu duluan aja. Bukannya tadi bilang ada kencan malam ini?"
"Heheh iya juga sih."
"Yaudah, sana pergi."
"Bye, eonni!" Dengan sedikit anggukan, Jihyo melambai padaku dan menuju ke mobilnya.
Aku menunggu Jeongyeon di lobi. Dia seharusnya menjemputku jam lima tapi sekarang sudah jam enam. Aku mencoba meneleponnya, sayangnya baterai ku mati.
Hebat! jika tau begini, aku pasti akan meminta Jihyo untuk menemaniku. Aku benci menunggu dan sangat tidak nyaman ketika orang melihatku.
"Hai?" Sebuah suara menyapa. Omong kosong. Aku tidak merasa ingin berbicara dengan siapa pun sekarang.
"Hai, juga~" Aku berbalik perlahan dan pura-pura tersenyum padanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.