Im Nayeon, bukanlah gadis licik atau sembrono. Dia hanya seorang gadis miskin biasa yang begitu lugu, dan naif. Mendapati harga dirinya dihina dan diinjak-injak oleh orang asing angkuh yang baru saja ia temui pada kejadian absurd membuatnya muak hid...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nayeon POV
Hari ini terasa lebih cepat dari biasanya; tersisa satu jam sebelum semua orang tiba. Kami akan mengadakan pertemuan keluarga dan sedang menyiapkan makanan - mulai dari main course hingga dessert. Bukan sombong, tapi keterampilan masakku jadi lebih baik sekarang heheh.
"Kamu ngapain, sayang? Bukankah seharusnya kamu bersiap-siap?" Jeongyeon memelukku dari belakang. Tangannya melingkar di pinggangku sedangkan kepalanya bersandar di bahuku. Bibir lembutnya dengan nakal menemukan jalan ke pipiku, mencium berulang kali.
Aku bersumpah, kalo aja aku ngga jatuh cinta padanya, mungkin aku sudah mendorongnya hingga tersungkur.
Huft!
"Kamu udah beli semua?" Tanyaku, berbalik untuk membalas pelukannya. Jeongyeon pergi ke supermarket beberapa waktu lalu, membeli bahan.
"Yes mam!" jawabnya sambil meluruskan postur dan dengan cepat melangkah ke meja tempat paperbag.
Jeongyeon menyerahkan tas itu dan aku lekas memeriksanya lagi; hanya untuk memastikan dia tidak melewatkan apa pun.
"Terima kasih, sayang. Kamu emang paling baikkk ...Cup~" Aku menghadiahinya ciuman di pipi. Bisa dibilang pemandangan paling favoritku saat ini adalah melihatnya tersenyum seperti orang idiot. Pipinya memancarkan semburat merah. Dia emang mudah tersanjung oleh tindakan kasih sayang ku yang sederhana.
Aku berjalan ke wastafel lagi, mencuci jeruk dan apel yang dibeli. Kami cuma akan menyiapkan jus. Jeongyeon menetapkan aturan bahwa alkohol tidak diperbolehkan untuk hari ini. Well, dia emang tau sikapku jika sudah menyangkut alkohol. Hahah.
"Kamu butuh bantuan?" Dia datang ke sisiku lagi.
"Yaa. Bisa tolong ambilkan teko dan gelas di sana? Aku ngga nyampe. Lemarinya terlalu tinggi."
"Pftt!"
"Jangan ketawa. Aku tau aku pendek!" cibirku, sebal saat dia membuatku kesal dengan tawanya. Dia suka menggodaku jika menyangkut tinggi badan. Mau bagaimana lagi? Aku tidak mewarisi gen dari appaku seperti Tzuyu.
"Apa kamu tau, semua orang menyukai gadis pendek? Gadis pendek sangat menggemaskan." Seringainya.
"Bagaimana dengan gadis tinggi?" tanyaku, ingin mendengarkan pendapatnya.
"Well, kaki mereka yang panjang dan ramping sangat memikat sih. Apalagi pas pantat mereka bergoyang dengan seksi saat berjalan... ugh oh my god!!"
"Gitu ya?"
Keras, Jeongyeon menelan ludah ketika memergokiku memelototinya. "Hei .. hei. Aku juga mencintaimu, oke? Kamu yang paling cantik dari semuanya." gagapnya.
"Hm?"
"Ayolah Nay. Jangan menatapku seolah kau akan memakanku hidup-hidup."
"Aku harusnya tau, kamu tuh emang cabul, playgirl, dan suka nyakitin cewek!" rengutku.