Helsya menghentikan langkahnya mendadak.
BRUK.
Echa kembali menabrak punggungnya untuk kedua kalinya hari itu.
Tubuh Echa kehilangan keseimbangan, hampir jatuh ke lantai.
Refleks, Helsya meraih pergelangan tangan Echa dan menariknya mendekat.
Tanpa sempat berpikir, Echa spontan memeluk pinggang Helsya.
Dan — seakan dunia ikut bercanda — posisi mereka terlalu dekat.
Bibir mereka bersentuhan.
Hening.
Hanya suara degup jantung yang terasa memekakkan.
Helsya langsung terlonjak mundur. “Eh—maaf. Gue nggak sengaja,” ucapnya cepat. Suaranya lebih serak dari biasanya.
Echa menutup bibirnya dengan tangan. Wajahnya langsung memerah seperti stroberi matang.
“E-eh… a-aku juga… nggak maksud…” balasnya terbata-bata.
Helsya mengusap tengkuknya yang entah kenapa mendadak panas. 'Astaga… lembut banget bibirnya.
Tidak. Tidak boleh dipikirin. Reset otak.' batin Helsya
“Udah. Jangan dibahas,” gumamnya sambil jalan duluan.
Tentu saja, Echa tetap di belakang sambil menunduk, wajahnya merah padam.
Pulang Sekolah
Helsya tiba di parkiran, mengambil helm lalu menyalakan motornya. Saat melaju ke gerbang sekolah, langkahnya terhenti.
Echa berdiri di sisi jalan, menatap ke arah jalan utama sambil memainkan ujung rok. Seperti anak kecil yang nunggu dijemput tapi tak kunjung diambil.
“Cha,” panggil Helsya.
Echa tersentak. “Hah?!”
“Mau bareng?”
Echa berkedip pelan. “B-boleh…?”
“Naik.” Helsya menepuk jok belakang.
Echa duduk perlahan, lalu tanpa sadar melingkarkan tangan ke pinggang Helsya.
Napasnya terdengar panik, tapi dia tak melepaskannya.
Motor melaju. Helsya bisa merasakan dagu Echa hampir menempel di bahunya.
Dari spion, rok Echa sedikit tersingkap, memperlihatkan paha putih yang mulus.
Helsya mengedip cepat.
'Ya Tuhanku. Fokus. Jalan lurus. Jangan oleng.' absurd hati Helsya
Sampai Rumah Echa
Echa turun dan menunduk sambil tersenyum malu.
“Um… Helsya… boleh minta nomor kamu?”
Helsya tak bicara. Ia hanya membuka ponsel dan menunjukkan barcode WhatsApp-nya.
“SV ‘El’,” katanya singkat.
“‘El’? Kok bukan ‘Hel’? Kan namamu Helsya?” tanya Echa bingung, keningnya mengerut sambil mempoutkan bibir.
“Teman-teman gue manggil gue El.”
“Oh…” Echa mengangguk pelan, lalu tersenyum lebih lebar. “Kalau aku… panggil El juga boleh?”
Helsya tidak menjawab. Ia hanya memasang helm dan menyalakan mesin motor.
“Gue cabut.”
Motor mulai melaju menjauh.
“IYA HATI-HATI EL!! JANGAN LUPA CHAT AKU DULUAN DI SV YAAA!!” teriak Echa kencang.
Helsya tidak menoleh.
Tapi sudut bibirnya terangkat.
Sedikit.
•••
Helsya Aroha
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jefrix Aroha ( ayah helsya )
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Echa grazellia
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
felix grazellio ( Ayah echa )
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan Sejenis [GXG] Area
General Fiction⚠️ CERITA INI MENGANDUNG 21+ ⚠️ kepo sama cerita nya ? ya baca lah Author kg bisa prolog
![Perjodohan Sejenis [GXG] Area](https://img.wattpad.com/cover/330777984-64-k449836.jpg)