S2 part 12

603 8 0
                                        

BIASAKAN VOTE DULU SEBELUM MEMBACA! ENJOI GUYS!!
______________________________________

Hari kenaikan kelas dua belas seharusnya jadi hari biasa. Biasanya, Ayah dan Ibunda Venus tak pernah datang-terlalu sibuk, terlalu tinggi gengsinya untuk sekadar duduk di kursi tamu sekolah. Tapi kali ini berbeda. Sebuah mobil besar berhenti di depan gerbang, mencuri perhatian semua orang.

Venus yang sedang berbicara dengan Elcha dan Naren mendadak terdiam. Matanya menatap mobil hitam yang baru saja berhenti. Ia tahu betul itu mobil siapa.

"Maaf, gue ke depan dulu," katanya pelan sebelum melangkah pergi dengan dada berdebar.

Dari jauh, ia melihat Ayahnya turun dengan langkah tegas, diikuti Ibundanya yang tampak dingin dan elegan. Dari sisi lain mobil, seorang lelaki berwajah kalem ikut keluar - Agra. Lelaki yang baru empat hari dikenalkan kepadanya.

Venus memaksakan senyum. "Tumben sekali Ayah dan Ibunda datang?" tanyanya hati-hati.

Ibundanya, Asyana, menatap tajam. "Karena kami mau tahu siapa si Elcha itu."

Deg. Jantung Venus seolah berhenti sesaat.
"D-dia gak berangkat, Ibunda," katanya cepat, menunduk agar matanya tak bertemu pandangan Ayahnya.

Ayahnya, Zerga, hanya menatap tajam tanpa bicara. Tatapan yang penuh tekanan-tatapan yang biasa muncul setiap kali nilai Venus turun satu angka atau ia berani membantah.

•••

Beberapa menit kemudian mereka duduk di kantin sekolah. Zerga dan Asyana duduk dengan wajah bangga, menunjukkan piagam anaknya yang meraih peringkat satu. Venus hanya duduk diam di samping Agra, laki-laki asing yang kini tiba-tiba disebut "calon suami."

Venus tak kuasa menahan pandangannya ke seberang. Di sana, Elcha duduk sendirian, memperhatikan mereka dengan tatapan heran dan sedih.
Siapa laki-laki itu? pikirnya. Kenapa orang tua Venus tidak marah padanya? Bukankah biasanya semua teman laki-laki Venus langsung dijauhi paksa?

Namun pandangan mereka ternyata disadari oleh Asyana. Ia menegakkan badan, lalu berbisik pelan ke suaminya. Zerga langsung berdiri.

"Kamu Elcha?" suaranya berat, menusuk keheningan kantin.

Venus spontan ikut berdiri. "Ayah, jangan-"

Tapi Ayahnya sudah berjalan mendekati meja Elcha. Gadis itu berdiri kaku, menunduk sopan.
"I-iya, Om... saya Elcha," jawabnya pelan.

Zerga menatapnya tajam. "Jadi kamu yang membuat anak saya berubah akhir-akhir ini?"

Venus melangkah mendekat. "Ayah, tolong, jangan salahkan dia. Aku-"

"Diam, Venus!" bentaknya keras. Suaranya menggema di ruangan yang mendadak hening.

Ibunda Asyana ikut berdiri, nada bicaranya tenang tapi tajam. "Hubungan kalian tidak pantas, Nak. Kamu perempuan, Venus juga perempuan. Dunia tidak akan menghargai hal seperti itu."

Elcha menunduk, air mata mulai menetes. "Om, Tante... saya gak pernah maksain Venus. Kami cuma saling-"

"Cukup!" potong Zerga. "Mulai hari ini, kamu jauhi anak saya. Jangan coba-coba muncul lagi di depan dia."

Venus menatap Ibundanya, air matanya menetes tanpa bisa ditahan. "Ayah... Ibunda... kenapa harus gini? Aku sayang sama Elcha. Aku gak nyakitin siapa pun."

"Sayang?" Zerga mendengus sinis. "Kamu menyebut itu sayang? Itu aib, Venus. Dan Ayah gak akan biarkan kamu mempermalukan keluarga ini."

Asyana menatap Agra sejenak, lalu menatap putrinya dengan dingin. "Mulai sekarang, kamu fokus pada Agra. Kami sudah bicara dengan keluarganya. Dia akan jadi calon tunanganmu."

Perjodohan Sejenis [GXG] AreaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang