VOTE DULU
Jam dinding kelas menunjukkan istirahat kedua. Suasana ramai, suara anak-anak bercampur dengan dentuman kursi yang diseret. Elcha sedang merapikan bukunya, berusaha cuek padahal dari tadi merasa tatapan Venus nempel terus di dirinya.
Venus duduk dengan santai, kaki diluruskan, tatapannya gelap—bukan sekadar menatap, tapi seolah memangsa. Dari tadi ia nggak berhenti menahan diri, mengingat pagi mereka yang terlalu intim. Bibir Elcha yang merah itu bikin darahnya bergejolak lagi.
“Elcha.” Suara Venus rendah, hampir seperti gumaman, tapi langsung bikin gadis itu menoleh.
“Apa?” Elcha berusaha tenang, padahal jantungnya langsung kencang.
Venus mencondongkan tubuhnya, mendekat ke telinga Elcha. “Ikut aku. Sekarang.”
Elcha melotot kecil. “Venus… kita lagi jam sekolah. Mau ke mana?”
Venus tersenyum miring, tapi matanya tajam. “Ke tempat yang nggak ada orang. Aku nggak tahan lagi liat kamu diem di depan aku kayak gini.”
Elcha menelan ludah, wajahnya langsung panas. “Venus…”
Tanpa menunggu jawaban, Venus berdiri dan meraih tangan Elcha. “Ayo.”
Beberapa teman sekelas melirik, tapi Venus cuek. Elcha ditarik keluar kelas, lorong sekolah terasa panjang, langkah mereka cepat. Venus tahu persis tujuan mereka: bangunan lama di ujung sekolah, gedung yang udah jarang dipakai.
Begitu masuk, suasana langsung berbeda—sepi, berdebu, cahaya matahari masuk dari jendela pecah, suara luar hanya samar. Venus mengunci pintu kayu yang setengah rapuh, lalu membalikkan badan menatap Elcha yang berdiri gelisah di depan papan tulis tua.
“Ven, kita bisa ketahuan…” Elcha bicara pelan, gugup.
Venus berjalan mendekat perlahan, setiap langkahnya bergema. “Justru itu yang bikin aku makin pengen. Kamu nggak tau dari tadi aku nahan diri, Cha.”
Elcha mundur setapak demi setapak sampai punggungnya menempel ke dinding dingin. Nafasnya mulai berat. “Venus… jangan di sini…”
Venus menempelkan tangannya di dinding, mengurung Elcha. Wajahnya begitu dekat, tatapannya membakar. “Dengerin napas kamu. Kamu juga nggak bisa nolak aku, kan?”
“Ahh…” desah kecil lolos dari bibir Elcha saat Venus menunduk, mencium lehernya cepat dan panas. Gadis itu gemetar, tangannya refleks mencengkeram kemeja Venus.
Venus menggeram rendah, “Suara kamu bikin aku gila…” bibirnya terus bergerak ke rahang Elcha, meninggalkan jejak merah.
“Ven… jangan lama-lama…” Elcha merintih, tubuhnya terasa lemas.
Venus menempelkan dahinya ke dahi Elcha, napasnya memburu. “Aku nggak peduli kalau ada yang cari kita. Sekarang cuma ada aku sama kamu di sini.”
Elcha menutup mata, desahan halus terus keluar, “Mmh… ahh…” membuat Venus makin kehilangan kendali.
Tangannya menyusuri pinggang Elcha, menarik tubuh gadis itu lebih rapat ke arahnya. Elcha bisa merasakan detak jantung Venus yang keras, tubuhnya hangat dan menekan erat.
“Cha…” suara Venus rendah, serak, penuh nafsu. “Kamu tau aku nggak akan ngelepasin kamu, kan?”
Elcha menggigit bibir, wajahnya merah padam, suaranya hampir hanya berupa bisikan. “Iya… aku tau…”
Venus mencium bibirnya kasar, penuh lapar. Elcha sempat mengeluarkan desahan panjang, “Hhh—ahh…” yang bergema di ruangan kosong itu.
Ciuman itu lama, intens, membuat lutut Elcha hampir goyah. Venus menahannya dengan satu tangan di pinggang, memastikan gadis itu tetap berdiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan Sejenis [GXG] Area
General Fiction⚠️ CERITA INI MENGANDUNG 21+ ⚠️ kepo sama cerita nya ? ya baca lah Author kg bisa prolog
![Perjodohan Sejenis [GXG] Area](https://img.wattpad.com/cover/330777984-64-k449836.jpg)