Sepulang sekolah, Helsya langsung nyungsep ke kasur. Waktu baru menunjukkan jam 14.00, tapi rasanya seperti habis perang dunia ketiga.
Sekitar setengah jam kemudian, ponselnya bergetar.
Panggilan masuk: Echa Grazellia.
Helsya menyipit. "Ni anak nggak bisa chat dulu apa?"
Tapi tetap saja ia angkat.
Helsya: "Halo. Maaf, ini siapa?"
Echa: "El! Ini aku, Echa."
Helsya: "Ada apa?"
Echa: "Eum... nanti malem kamu sibuk nggak?"
Helsya: "Sepertinya tidak. Kenapa?"
Echa: "Temenin aku jalan dong. Bosen banget. Besok juga libur."
Helsya: "Ya. Nanti gue jemput jam 15.25."
Echa: "...kok cepet banget?"
Helsya: "Sekalian gue ada urusan. Lo ikut aja."
Echa: "Oh... oke deh. Makasih."
Tut-panggilan berakhir.
Helsya menatap langit-langit. Baru bangun tidur, udah disuruh jalan.
"Hidup gue kok diatur anak Korea satu ini ya?"
Dengan malas ia bangkit.
" Udahlah, mandi dulu. Minimal biar keliatan manusia."
Setelah mandi, Helsya mengenakan hoodie hitam dan jeans panjang. Ia berjalan ke garasi, mengambil salah satu mobilnya - sedan hitam dengan kaca gelap.
Di Rumah Echa
Tok tok tok.
"Sebentarrr!" suara Echa terdengar dari dalam.
Pintu terbuka.
Echa muncul dengan rambut masih basah, memakai kaos crop putih dan celana pendek denim.
"Eh-udah dateng aja? Padahal baru jam 14.30."
"Gue capek. Mau duduk," jawab Helsya tanpa basa-basi, langsung masuk dan duduk di sofa.
"Minum apa?"
"Kopi susu. Yang dingin."
"Siap, Tuan Putri," gumam Echa sambil ke dapur.
Tak lama kemudian, ia datang membawa dua gelas-satu es kopi susu, satu es teh. Ia hendak duduk di kursi seberang, tapi Helsya menepuk sofa di sebelahnya.
"Duduk sini."
Echa menurut. Diam sebentar, lalu nyeletuk, "Hmm, jadi... kita mau ke mana?"
"Ke rumah bokap gue. Ada bahasan kerjaan. Lo ikut aja."
"Ohh. Oke. Tunggu ya, aku izin dulu ke bokap nyokap."
Echa pergi, meninggalkan Helsya yang kini fokus ke ponselnya.
Dalam Mobil
Beberapa menit kemudian mereka sudah berangkat. Sepanjang jalan, Echa sibuk ngoceh soal hujan tropis, drama Korea, sampai roti sobek isi cokelat.
Helsya awalnya cuek, tapi makin lama... konsentrasinya goyah.
Soalnya Echa duduk dengan kaki menyilang, dan celana pendek itu terlalu pendek untuk kesehatan mental.
Tiiiin- Helsya menepikan mobil mendadak.
"Loh? Kenapa berhenti?"
Helsya tidak menjawab. Ia membuka jaketnya, lalu menyampirkannya ke pundak Echa.
"Pakai. Jangan pakai baju kebuka gitu." Echa terdiam beberapa detik. Lalu pipinya memerah.
"...iya," jawabnya pelan.
Setelah itu perjalanan hening. Tapi bukan karena canggung-lebih ke Echa mendadak jadi malu sendiri karena diperlakukan kayak pacar.
Sampai di Rumah Papa Helsya
Mereka sampai di rumah besar bergaya Eropa modern. Helsya menekan bel.
Seorang pembantu membukakan pintu. "Silakan masuk, Nona."
"Terima kasih," ucap Helsya singkat sambil-tanpa sadar-menggandeng tangan Echa agar tidak tertinggal.
Echa melongo. 'Digandeng dong gue. DIGANDENG.'
"Wahhhh... rumah Papa kamu gede banget!" ujarnya takjub.
"Duduk." Helsya menjatuhkan diri ke sofa besar.
"Minum apa?" tanya salah satu pembantu.
"Es susu. Dua," jawab Helsya tanpa melihat.
Tak lama kemudian, suara berat terdengar.
"Hay, Helsya Aroha, anak Papa."
Jefrix Aroha masuk dengan setelan jas mahal.
"Ya. Ada apa?" Helsya menjawab cuek.
Papa Jefrix melirik Echa. Senyumnya melebar licik.
"Wah, ternyata kalian sudah kenal, ya?"
"Dia teman sebangku," jelas Helsya singkat.
"Halo Om, saya Echa Grazellia," sapa Echa sopan sambil berdiri dan membungkuk seperti orang Korea asli.
"Jangan panggil Om. Panggil Papa aja. Soalnya sebentar lagi saya jadi mertua kamu."
.
.
.
Hening.
Helsya dan Echa menoleh saling tatap.
HAH?!!
"MAKSUD PAPA?!" tanya Helsya, hampir berdiri dari sofa.
Papa hanya tertawa santai. "Ya kamu tahu sendiri kamu dijodohkan sama anak teman Papa. Dan... kayaknya cocoknya sama dia."
Echa ternganga. "J-Jodoh...?"
Sebelum sempat protes lebih jauh, suara petir menggelegar dari luar.
DUARRRRRRRR-!
Hujan deras turun mendadak.
Papa Jefrix melirik ke luar, lalu tersenyum.
"Dilihat dari cuaca... sepertinya kalian berdua harus nginap."
"Papa nggak pulang?" tanya Helsya curiga.
"Nggak. Papa ada urusan."
Dan begitu saja... mereka berdua resmi terjebak di rumah besar itu.
Bersama.
Semalaman.
LANJUT?!
tunggu lanjutan nya ya??
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan Sejenis [GXG] Area
General Fiction⚠️ CERITA INI MENGANDUNG 21+ ⚠️ kepo sama cerita nya ? ya baca lah Author kg bisa prolog
![Perjodohan Sejenis [GXG] Area](https://img.wattpad.com/cover/330777984-64-k449836.jpg)