Helsya langsung berdiri tanpa bicara apa-apa. Ia menarik pergelangan tangan Echa dan membawanya ke arah lift.
“Eh—El? Kita mau ke mana?” tanya Echa terbata.
“Ke kamar,” jawab Helsya pendek.
Lift mencapai lantai dua. Helsya berjalan cepat, masih menggandeng Echa sampai ke dalam kamar. Setelah pintu tertutup, barulah genggamannya dilepaskan.
“Aku tutup pintunya ya,” ucap Echa gugup.
Klik.
Keheningan menggantung sesaat.
“Aku masih kayak mimpi,” kata Helsya tiba-tiba.
“Tiba-tiba dijodohin sama lo.”
Echa memaksakan senyum. “Y-ya… aku juga masih kaget sih.”
“Udah lah… aku mau mandi dulu,” tambahnya sambil masuk ke kamar mandi, berusaha menyembunyikan wajah merahnya.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Echa keluar—dengan rambut masih basah, mengenakan piyama putih tipis yang… terlalu tipis untuk kewarasan manusia.
“Wah… seger banget~” katanya santai.
“Lo nggak mandi sekalian?”
“Ini mau man—”
Ucapan Helsya terhenti di tenggorokan.
Tatapannya jatuh pada Echa. Tidak ke wajah. Tidak ke rambut.
Ke pakaian itu.
Transparan. Siluet tubuhnya terlihat jelas.
Echa baru sadar setelah melihat ekspresi Helsya yang berubah.
“M-Mau apa? Jangan liat begitu dong, aku jadi—”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Helsya sudah melangkah mendekat. Tangannya terulur pelan, menggenggam pergelangan Echa.
“Duduk.”
Ia menarik tubuh Echa untuk duduk… tepat di pangkuannya.
“E-El…” suara Echa goyah, wajahnya memerah habis.
Helsya menatapnya dari jarak sangat dekat. Dingin—tapi tatapan itu menghanguskan
.
“Tahu nggak…” bisiknya pelan. “Lo terlalu cantik buat gue biarin begitu aja.”
Tangan Helsya melingkar ke pinggang Echa, menahan agar tidak kabur lagi.
Echa menelan ludah. “K-Kamu kenapa? Jangan bikin aku takut…”
“Gue nggak niat nakutin lo.”
“Terus… kamu mau apa?”
Helsya tersenyum miring. “Mau… main sesuatu.”
Echa terpaku. “M-Main apa…?”
Helsya tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya menatap—lebih dalam, lebih lama.
Sampai Echa kehabisan napas karena intensitasnya.
Dan ketika Helsya akhirnya mendekatkan wajahnya—
.
.
.
—malam itu berakhir tanpa kata.
Tidak ada yang tahu siapa yang mulai duluan.
Yang terdengar hanya napas yang saling bercampur…
Suara bisikan kecil…
Dan detak jantung yang berpacu tak karuan.
JANGAN LUPA VOTE YAAA MAKASI
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjodohan Sejenis [GXG] Area
General Fiction⚠️ CERITA INI MENGANDUNG 21+ ⚠️ kepo sama cerita nya ? ya baca lah Author kg bisa prolog
![Perjodohan Sejenis [GXG] Area](https://img.wattpad.com/cover/330777984-64-k449836.jpg)